Muncul Konsep Stasiun Luar Angkasa Mau Dibuat Museum
Daripada menghancurkannya di lautan, Stasiun luar angkasa seharusnya dinaikkan ke orbit yang lebih tinggi sebagai warisan bagi para ilmuwan.
Seorang ahli arsitektur antariksa dari University of Southern California, Profesor Thangavelu mengatakan bahwa ada baiknya Stasiun Luar Angkasa Internasional dipertahankan di orbit yang lebih tinggi sebagai simbol penting dari kerjasama lintas budaya dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
Thangavelu adalah salah satu dari banyak ilmuwan antariksa yang kaget dengan rencana NASA untuk menghancurkan Stasiun seharga USD100 miliar ini dengan cara menjatuhkannya ke Samudra Selatan pada tahun 2030.
Ia mendukung gagasan mengganti rencana “hancur dan musnah” NASA dengan usulan dari mantan pemimpin Badan Antariksa Eropa (ESA) dan NASA untuk menjaga ISS tetap ada di masa depan.
Jean-Jacques Dordain, mantan Direktur Jenderal ESA, dan Michael Griffin, mantan Administrator NASA, telah meminta negara-negara mitra ISS untuk mempertahankan stasiun ini sebagai simbol pencapaian luar biasa umat manusia.
Daripada menghancurkannya di lautan, Dordain berpendapat bahwa Stasiun seharusnya dinaikkan ke orbit yang lebih tinggi sebagai warisan bagi para ilmuwan, astronaut, dan generasi penggemar luar angkasa mendatang.
Meskipun NASA telah menugaskan SpaceX untuk merancang alat khusus yang akan menuntun ISS menuju kehancuran, kedua mantan pemimpin badan antariksa ini mengatakan bahwa alat pendorong dari SpaceX bisa digunakan untuk menyelamatkan ISS dan memperpanjang usianya di orbit yang lebih tinggi.
“ISS adalah fasilitas yang sangat unik. Selain pencapaian sains dan teknologi, Stasiun ini telah membuka jalan bagi kerja sama global yang damai, bahkan antara negara-negara yang biasanya bersaing di Bumi,” katanya.
“ISS adalah simbol kebebasan. Belum pernah ada fasilitas atau kerja sama internasional seintens ini di bidang luar angkasa,” tambahnya.
NASA perlu menentukan kembali masa depan Stasiun Luar Angkasa dengan menjalin kerja sama erat bersama para mitranya yakni badan antariksa Eropa, Rusia, Jepang, dan Kanada, untuk memperbarui Perjanjian Antarpemerintah tentang ISS.
"ISS masih memiliki makna historis dan simbolis dalam hal kenegaraan dan diplomasi," katanya.
Simbolisme ini akan terus bersinar jika ISS diberi "kehidupan kedua" di orbit yang lebih tinggi. Profesor Thangavelu termasuk dalam kelompok yang semakin besar dari para pakar antariksa dan pemimpin NewSpace yang mendukung gerakan melindungi ISS untuk generasi mendatang.
Jika nantinya NASA tetap memutuskan untuk menonaktifkan ISS pada 2030, NASA mungkin akan mempertimbangkan untuk menyerahkan kendali operasional Stasiun itu pada SpaceX, yang bisa membuka kembali pos terdepan itu sebagai objek wisata antariksa selama beberapa tahun sebelum ISS menjadi museum.
Melalui Laporan ISS, dikutip dari Forbes pada Senin (11/11), pimpinan NASA memperkirakan akan menghemat biaya operasional laboratorium pengorbit sebesar USD1,3 miliar pada tahun 2031.
“Tabung lava bulan akan menjadi lokasi ideal untuk membangun habitat permanen, yang secara alami terlindungi dari lingkungan luar angkasa dan permukaan bulan yang keras,” kata Thangavelu.
Reporter magang: Nadya Nur Aulia