Mark Zuckerberg Punya Peternakan, Ini Menu Mewah Pakan Sapinya
Pakan sapinya mewah karena ingin menghasilkan daging-daging yang bernilai miliaran dolar.
Mark Zuckerberg dikenal banyak orang sebagai bos Meta. Salah satu orang terkaya di dunia. Ia dikenal dunia lantaran kejeniusannya soal teknologi digital. Namun siapa sangka di luar kegiatan sehari-harinya itu, dia juga getol berbisnis sapi. Ya, ia membuat peternakan sapi di Ko’olau Ranch, Kauai, Hawaii.
Mengutip IndiaToday, Jumat (9/8), sapi-sapi yang ia pelihara bukan sapi sembarangan. Suami Priscilla Chan ini memelihara sapi jenis Wagyu dan Angus, ras yang berharga dan mahal yang terkenal karena kualitasnya yang luar biasa.
Lalu apa tujuan Zuckerberg pelihara sapi mahal? Jelas, untuk menghasilkan daging sapi terbaik di dunia. Untuk mencapai hal ini, dia memanjakan sapinya dengan makanan lezat berupa kacang macadamia premium dan bir buatan lokal. Cara pemberian makan yang unik ini menjanjikan hasil steak marmer yang tak tertandingi, cocok untuk meja makan para miliarder.
Menariknya, pendekatan Zuckerberg terhadap peternakan sapi bukan hanya soal memproduksi daging sapi premium, namun juga soal keberlanjutan dan keterlibatan keluarga. Dia dan putrinya secara aktif terlibat dalam penanaman pohon macadamia, memastikan bahwa makanan ternaknya terdiri dari makanan organik yang ditanam di tanahnya tersebut.
"Putri-putri saya membantu menanam pohon mac dan merawat berbagai hewan kami. Kami masih dalam tahap awal, dan sangat menyenangkan untuk memperbaikinya setiap musim. Dari semua proyek saya, ini adalah yang paling enak,” jelasnya.
Jumlah Investasi
Investasi yang digelontorkan Zuckerberg untuk proyek ini cukup besar. Ia telah membeli lahan luas selama bertahun-tahun, dengan pembelian notable termasuk perkebunan seluas 700 acre atau 283 hektar seharga sekitar USD100 juta (Rp 1,5 triliun) pada tahun 2014.
Kemudian pada 2021, dia membeli lagi tambahan 600 acre atau 240-an hektar seharga USD53 juta atau Rp 845 milliar.
Total investasi dalam tanah saja mencapai sekitar USD270 juta atau Rp 4,3 triliun. Itu belum termasuk biaya operasional dan investasi berkelanjutan dalam infrastruktur pertanian dan ternak.