Krisis Sampah Antariksa Dorong Lonjakan Biaya Asuransi Satelit
Semakin banyak operator meluncurkan satelit tanpa perlindungan asuransi untuk menekan biaya, meski risiko tabrakan meningkat.
Industri satelit global menghadapi tekanan serius akibat meningkatnya risiko tumbukan di orbit yang memicu lonjakan biaya asuransi. Ledakan satelit Intelsat-33e di atas Samudra Hindia pada Oktober 2024 menambah puluhan potongan puing ke sekitar 14.000 ton sampah antariksa yang kini mengelilingi Bumi, menyoroti ancaman nyata terhadap infrastruktur kritis di luar angkasa.
Operator Intelsat mengonfirmasi kehancuran satelit USD500 juta itu, yang ironisnya tidak diasuransikan. Hal ini mencerminkan tren baru yang mengkhawatirkan: semakin banyak operator meluncurkan satelit tanpa perlindungan asuransi untuk menekan biaya, meski risiko tabrakan meningkat.
Penurunan biaya peluncuran berkat roket yang dapat digunakan ulang seperti milik SpaceX mendorong operator menekan biaya pembangunan satelit dan melepas asuransi. Namun satelit murah lebih rentan rusak dan menambah jumlah puing yang mengancam satelit lain.
"Saya pikir ini tidak berkelanjutan," kata Prof. Massimiliano Vasile dari University of Strathclyde Glasgow.
Data dari Atrium Space Insurance Consortium menunjukkan hanya sekitar 300 dari lebih 12.700 satelit aktif yang memiliki perlindungan asuransi untuk kecelakaan di orbit. Di Eropa dan Inggris, hukum mewajibkan asuransi bagi operator, tapi AS, Tiongkok, Rusia, dan India tidak memiliki ketentuan serupa.
Di AS, asuransi hanya diwajibkan saat peluncuran—begitu satelit berada di orbit, risiko sepenuhnya menjadi tanggung jawab operator. SpaceX, misalnya, sepenuhnya “self-insured” untuk ribuan satelit Starlink yang mereka operasikan.
Pasar asuransi satelit sendiri dalam tekanan berat. Mulai dari polis pertama untuk Intelsat I pada 1965, industri ini dulu menjanjikan. Namun klaim melonjak dalam dekade terakhir. Kegagalan roket Vega pada 2019 memicu klaim $411 juta, sementara klaim sepanjang 2023 mendekati $1 miliar. Kondisi ini membuat banyak perusahaan besar seperti Brit, AIG, Allianz, Swiss Re, AGCS, dan Aspen Re mundur dari pasar.
Masalah investigasi juga membebani industri. Berbeda dari kecelakaan mobil atau kebakaran rumah yang bisa diperiksa secara langsung, penyebab kerusakan satelit di orbit sangat sulit ditentukan. Liability insurance pun kompleks karena sulit membuktikan apakah kerusakan akibat ledakan internal atau tabrakan dengan puing lain—dan jika tabrakan, puing siapa yang bertanggung jawab.
Vasile mendorong pembentukan sistem hukum yang menetapkan tanggung jawab operator atas sampah yang mereka hasilkan, mirip regulasi lalu lintas di Bumi. Namun kebijakan seperti itu berpotensi menekan operator kecil yang mengandalkan cubesats murah berumur pendek.
Orbit Bumi kian padat dan berbahaya. Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) harus rutin mengubah jalur untuk menghindari sampah antariksa. Pada November 2024, ISS harus bermanuver menghindari serpihan satelit meteorologi yang hancur. Bahkan serpihan kecil seperti cat dapat merusak satelit. Para ilmuwan memperingatkan risiko Kessler syndrome—reaksi berantai tabrakan yang bisa membuat orbit tak lagi dapat digunakan.
Dampaknya juga dirasakan di Bumi. Pada Maret 2024, komponen bekas Stasiun Luar Angkasa jatuh menembus rumah di Florida, memicu gugatan hukum pertama untuk kerusakan properti akibat sampah antariksa terhadap NASA.
Dengan ketergantungan dunia pada satelit untuk komunikasi, navigasi, hingga pengamatan cuaca, kegagalan mengendalikan krisis sampah antariksa berpotensi menyebabkan bencana global.
Mantan kepala US Strategic Command Jenderal (Purn.) C. Robert Kehler menekankan perlunya sistem pengaturan mirip lalu lintas udara. "Kita butuh aturan main," tegasnya, mengingatkan bahwa masa depan infrastruktur orbit kini berada di ujung tanduk.