Rusia Siap Dukung Pembangunan Infrastruktur Antariksa Indonesia di Biak
Rusia menyatakan kesiapannya untuk berpartisipasi dalam pembangunan infrastruktur antariksa Indonesia, khususnya di Pulau Biak, menegaskan kemitraan strategis dalam eksplorasi antariksa damai.
Rusia telah menyatakan kesediaannya untuk terlibat dalam pembangunan infrastruktur antariksa di Indonesia. Tawaran ini disampaikan oleh Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, kepada RIA Novosti. Kesiapan Rusia ini sejalan dengan rencana Indonesia untuk membangun fasilitas peluncuran antariksa di Pulau Biak, Papua.
Meskipun rencana pembangunan di Biak belum difinalisasi secara resmi oleh pemerintah Indonesia, Rusia menegaskan komitmennya. Mereka siap berkontribusi jika Indonesia tertarik memanfaatkan pengalaman dan teknologi Rusia. Partisipasi ini akan didasarkan pada prinsip saling menguntungkan bagi kedua negara.
Indonesia dan Rusia memiliki sejarah panjang sebagai mitra dalam eksplorasi antariksa untuk tujuan damai. Selama beberapa dekade, berbagai opsi kerja sama telah dijajaki, termasuk peluncuran satelit ke orbit rendah Bumi.
Rusia Tawarkan Bantuan Pembangunan Infrastruktur Antariksa
Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, secara resmi mengumumkan kesiapan negaranya untuk membantu Indonesia dalam pengembangan infrastruktur antariksa. Penawaran ini muncul di tengah rencana Indonesia untuk membangun infrastruktur darat peluncuran antariksa di Pulau Biak. Tolchenov menekankan bahwa Rusia memiliki pengalaman dan teknologi yang relevan untuk mendukung proyek ambisius ini.
Kerja sama yang diusulkan ini akan menguntungkan kedua belah pihak, memperkuat hubungan bilateral dalam sektor teknologi tinggi. Indonesia, dengan lokasi geografisnya yang strategis, dapat memanfaatkan keahlian Rusia dalam membangun fasilitas antariksa modern. Rusia sendiri melihat peluang untuk memperluas kemitraan globalnya di bidang eksplorasi luar angkasa.
Hubungan antara Indonesia dan Rusia dalam bidang antariksa bukanlah hal baru. Kedua negara telah lama menjadi mitra dalam upaya eksplorasi antariksa untuk tujuan damai. Berbagai opsi kerja sama, seperti peluncuran satelit ke orbit rendah Bumi, telah menjadi bagian dari diskusi dan penjajakan selama beberapa dekade terakhir.
BRIN Perkuat Sinergi Wujudkan Bandar Antariksa Nasional Biak
Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) RI secara aktif memperkuat sinergi lintas sektor untuk mempercepat pembangunan Bandar Antariksa Nasional di Pulau Biak. Upaya ini merupakan bagian dari visi besar untuk mewujudkan kemandirian akses antariksa dan meningkatkan daya saing Indonesia di kancah global. Komitmen ini ditegaskan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bandar Antariksa pada Jumat, 19 Desember 2025, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta.
Kepala BRIN, Arif Satria, menegaskan bahwa pembangunan Bandar Antariksa adalah amanah strategis negara untuk memperkuat kemandirian Indonesia dalam akses ke antariksa. BRIN sedang menyusun regulasi turunan agar penetapan lokasi dan implementasi pembangunan dapat segera dilakukan setelah pengesahan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP). Pembukaan lahan BRIN di Biak direncanakan akan dimulai pada tahun 2026.
Pembangunan fasilitas ini diharapkan sejalan dengan visi Indonesia Emas 2045, khususnya dalam pengembangan ekonomi antariksa, lingkungan antariksa, dan keamanan antariksa. BRIN berharap proyek ini akan memperkuat posisi Indonesia di tingkat global dan mendorong pemerataan pembangunan serta pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia. Hal ini juga akan memberikan efek berganda bagi daerah, mulai dari penciptaan lapangan kerja hingga penguatan diplomasi antariksa.
Landasan Hukum dan Potensi Ekonomi Antariksa di Biak
Plt. Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN, Anugerah Widiyanto, menjelaskan bahwa pembangunan Bandar Antariksa memiliki landasan hukum yang kuat. Dasar hukum tersebut mencakup Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan, Peraturan Presiden Nomor 45 Tahun 2017 tentang Rencana Induk Penyelenggaraan Keantariksaan 2016–2040, serta Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 2023 tentang Penguasaan Teknologi Keantariksaan yang menekankan aspek technology safeguard.
RPP tentang Penyelenggaraan Bandar Antariksa telah menyelesaikan proses harmonisasi dan siap menjadi dasar operasional pembangunan. Selain itu, rencana induk keantariksaan perlu diperbarui hingga 2045 agar selaras dengan visi pembangunan nasional. Kajian pembangunan Bandar Antariksa di Biak telah dilakukan sejak tahun 1990 dan terus dimutakhirkan sesuai perkembangan teknologi dan kebutuhan terkini.
Pulau Biak memiliki keunggulan geografis yang signifikan karena letaknya yang dekat dengan garis khatulistiwa. Keunggulan ini memungkinkan efisiensi energi dan biaya yang lebih rendah untuk peluncuran roket ke orbit rendah Bumi (LEO). Dengan meningkatnya ekonomi antariksa global, yang diperkirakan mencapai sekitar lima persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dunia, Indonesia memiliki peluang besar untuk berperan aktif dalam industri peluncuran dan jasa antariksa.
Sumber: AntaraNews