BRIN Dorong Umsura Perkuat Hilirisasi Hasil Riset untuk Ekonomi Berbasis Inovasi
Kepala BRIN Prof. Arif Satria dorong Umsura perkuat hilirisasi hasil riset melalui kolaborasi industri. Tujuannya agar inovasi berdampak nyata bagi masyarakat dan mendukung ekonomi berbasis inovasi nasional.
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Arif Satria, mengunjungi Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura) pada Sabtu, 4 Juli, untuk mendorong penguatan hilirisasi hasil riset. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dengan industri agar penelitian dapat menghasilkan inovasi yang bermanfaat. Kunjungan ini bertujuan untuk memotivasi perguruan tinggi agar tidak hanya fokus pada publikasi ilmiah semata.
Dalam kesempatan tersebut, Prof. Arif Satria menyatakan bahwa Indonesia perlu bertransformasi menuju ekonomi berbasis inovasi (innovation-driven economy). Ekonomi ini bertumpu pada riset, inovasi, teknologi, serta kualitas sumber daya manusia yang unggul. Perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mewujudkan tujuan nasional tersebut.
Menurutnya, tantangan utama riset di Indonesia adalah menjembatani kesenjangan antara laboratorium dan dunia industri agar hasil penelitian dapat dihilirsasi menjadi produk, teknologi, atau bisnis yang dimanfaatkan masyarakat. Kolaborasi kuat antara kampus, industri, pemerintah, dan dunia usaha sangat diperlukan untuk mencapai tujuan ini.
Pentingnya Hilirisasi Riset untuk Daya Saing Nasional
Prof. Arif Satria menegaskan bahwa perguruan tinggi diharapkan tidak hanya berhenti pada menghasilkan publikasi ilmiah. Lebih dari itu, kampus harus mampu menghadirkan inovasi yang memberikan dampak nyata bagi industri dan masyarakat luas. Transformasi menuju ekonomi berbasis inovasi menjadi kunci peningkatan daya saing bangsa.
Indonesia membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang didorong oleh riset dan inovasi yang kuat. Peran perguruan tinggi sangat vital dalam menciptakan inovasi yang mampu mengangkat daya saing nasional di kancah global. Oleh karena itu, fokus pada hilirisasi menjadi sangat krusial.
BRIN menilai tantangan terbesar riset saat ini bukan pada proses penelitian itu sendiri. Namun, terletak pada bagaimana menjembatani hasil penelitian dari laboratorium ke dunia industri agar dapat dihilirisasi. Proses ini akan mengubah riset menjadi produk atau layanan yang bernilai ekonomi dan sosial.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, kolaborasi yang lebih erat antara berbagai pihak sangat dibutuhkan. Kampus, industri, pemerintah, dan dunia usaha harus bersinergi. Sinergi ini akan memastikan bahwa setiap hasil riset memiliki jalur yang jelas menuju pemanfaatan praktis di masyarakat.
Dukungan BRIN dan Peran Strategis Perguruan Tinggi
BRIN menyediakan berbagai skema pendanaan untuk mendukung upaya hilirisasi inovasi di perguruan tinggi. Skema-skema ini meliputi Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM), Program Riset Inovasi Strategis (PRIS), serta Matching Fund RIIM Startup, alih teknologi, hingga hilirisasi inovasi.
Seluruh skema pendanaan tersebut diarahkan agar riset dapat menghasilkan solusi nyata. Fokusnya adalah pada sektor-sektor krusial seperti pangan, energi, kesehatan, industri, hingga ketahanan sosial. Ini menunjukkan komitmen BRIN dalam memastikan riset memiliki dampak langsung.
Perguruan tinggi memegang peranan strategis dalam ekosistem inovasi nasional. Mereka adalah sumber utama pengetahuan dan penelitian yang berpotensi melahirkan terobosan baru. Oleh karena itu, penguatan kapasitas riset di kampus menjadi prioritas.
Dengan adanya dukungan pendanaan dan fokus pada hilirisasi, diharapkan perguruan tinggi dapat lebih proaktif. Mereka diharapkan mampu mengonversi temuan ilmiah menjadi inovasi yang relevan dan dibutuhkan oleh masyarakat serta industri. Ini akan mempercepat pencapaian tujuan ekonomi berbasis inovasi.
Capaian Umsura dalam Penguatan Ekosistem Riset
Rektor Umsura, Prof. Mundakir, menyatakan bahwa penguatan ekosistem riset menjadi fokus utama kampusnya. Selama dua tahun terakhir, Umsura telah menunjukkan peningkatan signifikan dalam perolehan hibah penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Ini mencerminkan komitmen kampus terhadap riset.
Umsura mencatat peningkatan hibah penelitian dari 56 judul menjadi 66 judul pada periode 2025–2026. Secara keseluruhan, hibah penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) mencapai 248 judul pada 2025 dan 111 judul pada 2026 sesuai periode pendanaan yang berjalan.
Kampus ini juga meraih penghargaan prestisius, termasuk Silver Winner kategori penelitian dan Gold Winner kategori pengabdian kepada masyarakat pada BIMA Award 2025. Selain itu, Umsura masuk dalam 10 besar perguruan tinggi penerima Grant RIIM periode 2022–2023.
Prof. Mundakir menambahkan bahwa Umsura memperoleh pendanaan melalui 15 proposal RIIM Kompetisi pada 2023, kemudian dua proposal pada 2025 dan meningkat menjadi tiga proposal pada 2026. Capaian ini menunjukkan keberlanjutan kualitas riset yang dikembangkan oleh sivitas akademika. Kunjungan Kepala BRIN diharapkan dapat memperkuat kemitraan strategis dalam pengembangan riset dan hilirisasi.
Sumber: AntaraNews