Kenapa Telinga Sering Terasa Meletus Saat Naik Pesawat?
Semua itu dilakukan demi menghindari sensasi "telinga meletus" yang kerap terjadi karena perubahan ketinggian.
Ketika pesawat mulai lepas landas atau mendarat, banyak penumpang refleks mengunyah permen karet, menghisap permen mint, atau yang kerap dijumpai adalah pura-pura menguap?
Semua itu dilakukan demi menghindari sensasi "telinga meletus" yang kerap terjadi karena perubahan ketinggian.
Meski terdengar menyeramkan, kabar baiknya adalah—itu sepenuhnya normal dan justru menunjukkan bahwa tubuh kita bekerja sebagaimana mestinya.
“Ini adalah cara alami tubuh untuk menyeimbangkan tekanan,” jelas Patricia Gaffney, seorang audiolog dan presiden American Academy of Audiology dikutip dari PopularScience, Kamis (17/7).
Dalam kebanyakan kasus, rasa tak nyaman itu akan hilang dengan sendirinya tanpa menimbulkan masalah serius. Tapi sebenarnya, apa sih yang menyebabkan suara “meletus” di telinga itu? Gaffney menjelaskan bahwa semuanya berakar pada satu bagian kecil dari sistem pendengaran kita namanya Eustachian tube.
Apa yang Terjadi Saat Telinga ‘Meletus’?
Struktur telinga manusia terbagi menjadi tiga bagian utama: telinga luar, tengah, dan dalam. Telinga luar mencakup daun telinga dan liang telinga.
Di bagian tengah, terdapat tiga tulang kecil dan saluran bernama Eustachian tube—saluran sempit yang menghubungkan telinga tengah dengan bagian atas tenggorokan (nasofaring).
Sementara telinga dalam menjadi rumah bagi koklea (organ pendengaran) dan sistem vestibular (pengatur keseimbangan).
Ketika kita merasakan telinga meletus, itu berarti Eustachian tube sedang bekerja keras. Fungsi utamanya adalah menjaga keseimbangan tekanan antara udara luar dan telinga tengah.
Jika tekanan di telinga tengah lebih rendah dibandingkan lingkungan sekitar, maka akan tercipta tekanan negatif yang menarik gendang telinga ke dalam. Ini membuat pendengaran terasa teredam atau “sumpek” hingga tekanan kembali seimbang.
Dalam aktivitas harian, Eustachian tube terbuka secara otomatis saat kita menelan, menguap, atau berbicara. Tapi saat terjadi perubahan ketinggian yang cepat—seperti saat pesawat naik atau turun—perbedaan tekanan terjadi terlalu cepat. Akibatnya, saluran itu harus terbuka secara paksa, menciptakan sensasi dan suara ‘pop’ yang kita kenal.
Cara Mengatasi Telinga Meletus Saat Terbang
Untungnya, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengelola tekanan telinga saat terbang. Untuk bayi dan anak kecil, menyusu, menggunakan dot, atau diberi makan saat pesawat tinggal landas atau mendarat bisa membantu mengurangi rasa tidak nyaman di telinga mereka.
Sedangkan untuk orang dewasa dan anak-anak yang lebih besar, permen karet, permen mint, atau menguap secara sengaja bisa membantu membuka Eustachian tube.
Salah satu teknik yang juga direkomendasikan adalah manuver Valsava. Caranya sederhana: tarik napas dalam, tutup mulut, cubit hidung, lalu tiup perlahan melalui hidung yang tertutup. “Kalau salurannya sangat sempit, terkadang akan terdengar ‘desisan kecil’ saat udara masuk,” jelas Gaffney.
Selain itu, ada juga produk over-the-counter bernama EarPlanes—penutup telinga khusus yang dirancang untuk membantu menyeimbangkan tekanan. “Sebagian orang merasa sangat terbantu, tapi ada juga yang merasa tidak terlalu efektif,” tambahnya.