Kasus bird strike atau tabrakan antara pesawat dan burung serta satwa liar di Indonesia dilaporkan mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Kejadian ini perlu menjadi perhatian serius bagi semua pihak karena dapat mengancam keselamatan penerbangan secara keseluruhan.
CEO Lion Group, Daniel Putut Kuncoro Adi, menekankan pentingnya keterlibatan semua pemangku kepentingan di sektor penerbangan dalam upaya mitigasi insiden bird strike. Ia menyatakan bahwa tidak hanya maskapai dan pilot yang harus berperan, tetapi juga berbagai pihak terkait lainnya.
Dalam forum diskusi (Aviation Sharing Session) yang diadakan di Kementerian Perhubungan pada Kamis, 5 Maret 2026, Daniel menyampaikan informasi terkait insiden bird strike.
"Data internal Lion Group menunjukkan bahwa, dari tahun 2012 hingga 2021, jumlah kasus bird strike masih berada pada tingkat minimal. Namun, tren tersebut mulai berubah sejak 2022 dengan peningkatan signifikan," kata Daniel, Jumat (6/3).
Pada tahun 2023, terjadi lonjakan tajam dalam jumlah insiden. Meskipun sempat mengalami penurunan drastis pada 2024, penurunan ini tampaknya hanya bersifat sementara. Sebab, pada tahun 2025, jumlah kejadian justru mencapai titik tertinggi selama periode yang diamati.
"Sementara pada 2026, insiden bird strike masih terus terjadi," ujar dia.
Daniel juga mencatat bahwa tren peningkatan insiden bird strike dan tabrakan dengan satwa liar ini tidak hanya terjadi di Lion Group, tetapi juga diakui oleh maskapai lainnya. Menurutnya, insiden tabrakan pesawat dengan burung membawa potensi kerugian finansial bagi maskapai dan berisiko terhadap keselamatan penerbangan.
"Risiko bird strike bisa mulai dari kerusakan ringan hingga yang paling fatal. Jangan sampai terjadi fatal accident," tegas dia.
Daniel mengingatkan agar Indonesia tidak kembali mengalami penurunan reputasi keselamatan penerbangan seperti yang pernah terjadi pada tahun 2007, ketika sejumlah maskapai Indonesia mendapatkan larangan terbang ke Eropa dan mengalami penurunan kategori keselamatan penerbangan internasional.
Advertisement
Untuk mengatasi masalah bird strike, pihaknya mengajak semua pemangku kepentingan di sektor penerbangan, termasuk maskapai, pengelola bandara, dan penyedia layanan navigasi penerbangan, untuk meningkatkan koordinasi dalam mitigasi risiko.
Kolaborasi ini melibatkan tiga pihak utama, yaitu maskapai, bandara, dan penyedia layanan navigasi seperti AirNav Indonesia. Sebagai contoh, bandara memiliki fasilitas yang dirancang untuk mengusir burung dari area operasionalnya.
Di sisi lain, petugas navigasi atau air traffic controller (ATC) berperan penting dalam memberikan informasi kepada pilot tentang aktivitas burung di sekitar bandara.
"Setelah mendapat informasi itu, pilot bisa melakukan antisipasi apakah tetap mendarat atau melakukan divert ke bandara alternatif," jelas dia.
Dengan adanya sistem koordinasi yang baik, diharapkan risiko bird strike dapat diminimalisir. Hal ini sangat penting untuk menjaga keselamatan penerbangan dan mengurangi potensi kerugian yang ditimbulkan akibat insiden tersebut. Setiap pihak diharapkan dapat berkontribusi secara aktif dalam upaya ini untuk menciptakan lingkungan penerbangan yang lebih aman.
Advertisement
Daniel mengusulkan agar dalam struktur organisasi perusahaan pengelola bandara nasional, yaitu PT Angkasa Pura Indonesia atau InJourney Airports, perlu dibentuk jabatan Direktur Safety. Jabatan ini akan memiliki tanggung jawab khusus dalam mengawasi keselamatan penerbangan.
"Kami menilai, posisi tersebut penting agar program keselamatan penerbangan berjalan sesuai standar Safety Management System (SMS) yang ditetapkan dalam regulasi penerbangan internasional," kata dia.
Dengan adanya posisi Direktur Safety, diharapkan pengawasan terhadap keselamatan dapat lebih optimal dan sesuai dengan standar yang berlaku.