Ini Hukuman Buat Murid yang Nakal saat Zaman Mesir Kuno
Ada yang menarik dari penemuan catatan Mesir Kuno bagi murid yang bandel.
Para arkeolog menemukan lebih dari 18.000 pecahan tembikar bertuliskan tulisan kuno di situs kota kuno Athribis, Mesir, yang mengungkap kehidupan sehari-hari masyarakat sekitar 2.000 tahun lalu.
Mengutip Business Insider, Senin (10/3), salah satu temuan yang menarik perhatian adalah adanya bukti hukuman bagi siswa yang nakal, di mana mereka dipaksa menulis ulang simbol secara berulang kali di kedua sisi pecahan tembikar.
Ekskavasi ini dilakukan oleh tim University of Tübingen, Jerman, yang bekerja sama dengan Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir.
Para peneliti menemukan ratusan fragmen yang berasal dari sekolah kuno, berisi satu simbol yang ditulis berulang kali di kedua sisi tembikar. Temuan ini mengindikasikan praktik hukuman "menulis ulang", yang mirip dengan hukuman siswa di sekolah modern.
Menurut Profesor Christian Leitz, pemimpin ekskavasi dari University of Tübingen, ini adalah salah satu bukti tertua dari sistem disiplin di dunia pendidikan Mesir Kuno.
"Kami menemukan fragmen yang menunjukkan siswa dipaksa menulis simbol berulang kali, yang diduga sebagai bentuk hukuman disiplin," ujar Leitz dalam pernyataannya.
Sekolah Kuno dan Sistem Pendidikan di Mesir
Pada masa itu, pendidikan hanya bisa diakses oleh kalangan elite, terutama anak-anak pejabat atau keluarga kerajaan. Siswa diajarkan menulis, membaca, dan berhitung, serta mendapat latihan dalam bahasa Yunani, Demotik, dan Hieratik.
Teks lain dalam tembikar juga berisi daftar angka, soal matematika, latihan tata bahasa, serta alfabet burung, yang menunjukkan sistem pembelajaran pada masa itu.
Tembikar sebagai Media Tulis Murah
Di Mesir Kuno, papirus merupakan media tulis utama, tetapi harganya mahal dan sulit diperoleh. Oleh karena itu, masyarakat menggunakan pecahan tembikar sebagai alternatif untuk menulis berbagai catatan, mulai dari daftar belanja, tanda terima, hingga hukuman siswa.
Tulisan pada ostraca ini dibuat menggunakan tinta dan batang buluh berongga, teknik yang masih digunakan dalam beberapa kaligrafi tradisional hingga saat ini.
"Penemuan ini memberi wawasan luar biasa tentang bagaimana sistem pendidikan dan disiplin diterapkan di Mesir Kuno," ujar Lippert.