Demo Ojol, Buat Apa Saja Potongan 20 Persen yang Didapat Aplikator?
Komisi 20 persen yang didapatkan aplikator ojek online digunakan untuk beragam pengembangan.
Ribuan mitra pengemudi ojek online (ojol) bakal menggelar demo, hari ini, Selasa (20/5). Demo ojol ini lantaran pihak aplikator dituding memotong pendapatan mitra ojol hingga 50 persen. Tudingan itu pun dibantah.
Mereka menyebut taat terhadap beleid yang ditetapkan oleh pemerintah berdasarkan keputusan Menteri Perhubungan (Kepmenhub) Nomor KP 1001 Tahun 2022 tentang Perubahan atas Kepmenhub Nomor KP 667 Tahun 2022.
Regulasi itu membahas tentang Pedoman Perhitungan Biaya Jasa Penggunaan Sepeda Motor yang Digunakan untuk Kepentingan Masyarakat yang Dilakukan dengan Aplikasi menyebutkan batasan maksimal potongan aplikasi ditetapkan sebesar 20 persen. Dengan demikian, pihak mitra pengemudi mendapatkan 80 persen.
"Kami itu digital platform On Demand Service (ODS). Merujuk pada struktur bisnisnya, kami itu ada dua konsumen. Pertama mitra driver dan kedua pengguna," jelas Tirza Munusamy, Chief of Public Affair Grab Indonesia saat diskusi di Jakarta, Senin (19/5).
"Jadi, kami dibayar oleh mitra pengemudi dengan sistem komisi maksimum 20 persen. Lalu kami juga dibayar penumpang yakni melalui platform fee atau biaya jasa aplikasi," tambahnya.
Lantas, digunakan untuk apa saja komisi 20 persen itu? Sebagaimana diketahui ojek online adalah perusahaan berbasis teknologi. Di mana teknologi merupakan kunci penting berjalannya ekosistem di aplikasi ojek online.
"Di belakang satu ketukan itu ada sistem, algoritma, dan infrastruktur untuk memastikan kebutuhan yang kita inginkan. Contoh pengembangan fitur teknologi di dalam aplikasi itu. Fitur ini apa, misal jika terjadi hal yang tidak diinginkan, kita dapat menggunakan fitur tersebut seperti bisa telepon tanpa pulsa lewat aplikasi. Ini tentu saja berguna bagi penumpamg dan mitra," terang dia.
Selain itu, komisi 20 persen itu dipakai untuk membantu mitra pengemudi dalam operasionalnya seperti bantuan ganti oli sampai tambal ban.
"Lalu kami juga ada program keguyuban. Seperti forum kopdar, wadah diskusi supaya kami dapat masukan. Ada juga trainning bagi mitra pengemudi untuk misal buka usaha. Bahkan kami sampai memberikan layanan training anti kekerasan seksual," jelas dia.
"Kemudian selanjutnya terkait dengan keamanan sendiri. Semua perjalanan di Grab dilindungi asuransi. Asuransi ini yang bayar Grab. Jadi komisi ini, kami kembalikan lagi ke mitra dan pengguna" tambah Tirza.