Daya Beli Masyarakat Seret, Langganan Internet Rumah Terdampak?
Konsumsi rumah tangga yang ambruk disebut-sebut jadi salah satu biang keladi kondisi laju ekonomi menurun. Bagaimana dengan internet?
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyebut lemahnya daya beli masyarakat menjadi salah satu penyebab lesunya ekonomi Indonesia yang tak mampu tumbuh di level 5 persen.
Hal itu Tercermin dari beratnya laju pertumbuhan konsumsi rumah tangga, meski ada faktor musiman Ramadan dan Lebaran 2025, situasi tersebut tak cukup membantu.
Lantas, apakah kondisi itu berdampak pula terhadap langganan internet rumah?
Menurut Sekretaris Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), Zulfadly Syam, pelemahan ekonomi dan tekanan inflasi dinilai tak berdampak pada penurunan jumlah pelanggan layanan internet rumah di Indonesia.
Ia menyebut, koneksi internet sudah menjadi kebutuhan pokok yang tetap dipertahankan oleh masyarakat, bahkan rela ketika pengeluaran lain harus dipangkas.
“Sekarang kondisinya, untuk terhubung keluar itu menjadi satu keharusan,” kata Zul ketika ditemui Merdeka.com di Jakarta, Jumat (11/7).
Menurut dia, masyarakat cenderung menyesuaikan pengeluaran di pos lain seperti belanja kebutuhan harian atau hiburan demi memastikan koneksi internet tetap aktif.
“Terkadang mereka bisa mereduksi makannya, bisa mereduksi bepergiannya, gaya hidupnya bisa mereka reduksi, asal internetnya tetap jalan,” ujarnya.
Ia menilai, meski inflasi menekan daya beli, perilaku pelanggan cenderung ajeg dalam hal mempertahankan layanan internet rumah. Penyesuaian yang terjadi lebih bersifat pada pola konsumsi paket atau waktu penggunaan.
“Kalau mereka sebelumnya ambil 24 jam semua kuotanya cepat, sekarang mungkin berpikir ambil kuota malam saja,” jelasnya.
Zulfadly mencontohkan strategi provider yang menawarkan paket-paket dengan gimmick berbeda, seperti kuota malam hari, sebagai bentuk diversifikasi produk untuk menyesuaikan kebutuhan konsumen di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti.
Meski ada perubahan perilaku penggunaan, ia menegaskan kecepatan berlangganan tidak mengalami penurunan signifikan.
“Apakah bakal turun seperti contohnya dari 50 Mbps jadi 20 Mbps? Enggak. Mereka akan tetap dengan berlangganan 50 Mbps. Saya sudah lihat beberapa orang, mereka menganggap tanpa internet enggak bisa apa-apa,” kata pria yang akrab disapa Bang Zul ini.
Dengan demikian, meskipun tekanan ekonomi dan inflasi tinggi mendorong masyarakat lebih selektif dalam pengeluaran, layanan internet tetap menjadi prioritas. Penyesuaian yang terjadi lebih bersifat pada cara penggunaan dan pilihan paket yang lebih sesuai dengan kondisi keuangan.
“Walaupun ada inflasi, mereka tetap usahakan bisa internet dulu. Mungkin diatur TV-nya dimatikan untuk turunin listrik, tapi kalau internet, saya rasa tidak,” ucapnya.