Bank Indonesia (BI) menegaskan deflasi yang terjadi pada Februari 2025 tidak berkaitan dengan melemahnya daya beli masyarakat. Fenomena deflasi ini merupakan kejadian langka, karena terakhir kali terjadi 25 tahun lalu, tepatnya pada tahun 2000.
Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI, Juli Budi Winantya menjelaskan, daya beli masyarakat lebih relevan diukur melalui inflasi inti. Dia menekankan inflasi inti lebih mencerminkan interaksi antara penawaran dan permintaan dalam perekonomian.
"Kalau lazimnya yang kita gunakan untuk melihat deflasi itu adalah representasinya adalah inflasi inti. Yang lebih mencerminkan interaksi antara penawaran dan permintaan," kata Juli dalam acara Taklimat Media, Jakarta Kamis (6/3).
Juli mengungkapkan inflasi inti hingga Februari 2025 masih berada di kisaran 2,5 persen secara tahunan. Menurutnya, angka tersebut masih tergolong rendah dan stabil, sehingga tidak menunjukkan adanya tekanan besar terhadap daya beli masyarakat.
"Sebenarnya menurut kami ini masih cukup baik, terkait dengan pertumbuhan ekonomi, dan terkait dengan konsumsi rumah tangga," paparnya.
Advertisement
Data Konsumsi Rumah Tangga
Selain itu, jika melihat data pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) untuk kuartal IV 2024, konsumsi rumah tangga masih tumbuh sekitar 5 persen.
Juli menilai angka ini sebagai indikator positif yang menunjukkan bahwa aktivitas konsumsi masyarakat tetap kuat dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.
Juli menjelaskan deflasi yang terjadi pada Januari dan Februari 2025 lebih disebabkan oleh adanya kebijakan diskon tarif listrik yang diberikan oleh PT PLN Indonesia.
Berdasarkan data BPS, kelompok pengeluaran yang memberikan kontribusi terbesar terhadap deflasi bulanan berasal dari sektor perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga. Kelompok ini mengalami deflasi sebesar 3,59 persen, dengan kontribusi terhadap deflasi sebesar 0,52 persen.
Komoditas yang paling berpengaruh dalam deflasi kali ini adalah diskon tarif listrik, yang menyumbang andil deflasi sebesar 0,67 persen. Hal ini menunjukkan deflasi lebih disebabkan oleh faktor administratif dan bukan karena penurunan daya beli masyarakat secara umum.