Bos XLSmart: Tidak Ada Satu Perusahaan Manapun yang Ingin Merger
Kondisi industri telekomunikasi yang tak lagi menarik menjadikan XL Axiata dan Smartfren harus melakukan merger.
Direktur XLSmart, Andrijanto Muljono menceritakan betapa sulitnya tantangan yang dihadapi industri telekomunikasi saat ini.
Maka wajar, kata dia, XL Axiata dan Smartfren mau tak mau harus melakukan merger. Penggabungan kedua perusahaan itu semata-mata untuk bisa bertahan hidup.
"Saya ini saksi hidup, bagaimana Telco Operator ini harus survive," kata Andrijanto di acara Indonesia Digital Forum (IDF), Jakarta, Kamis (15/5).
Menurutnya, telekomunikasi merupakan industri skala besar yang membutuhkan kapital yang tak main-main. Mulai dari biaya infrastruktur maupun regulatory-nya. Sehingga jika tidak memiliki modal besar dipastikan tak bisa bertahan.
"Kalau skalanya kita tidak besar, itu tidak akan bisa survive," ujar dia.
Ia pun mulai merinci bagaimana tantangan yang harus dihadapi industri telekomunikasi. Di Indonesia, lanjut dia, biaya spectrum atau regulatory pada 2024 sebesar Rp23 triliun.
"Ini adalah 13,2 persen daripada total telko revenue yang sekitar Rp170 triliun. Dan apabila biaya spectrum dan regulatory ini dibandingkan di Asia Pasifik, mereka cuma 8,7 persen. Dan secara global itu cuma 7 persen," ujar dia.
"Coba dibayangin ya industri telekomunikasi kita ini dibandingkan dengan gabungan Shopee, Lazada, Tokopedia dan sebagainya yang menyentuh angka Rp840 triliun. Jadi pemain over the top (OTT) seperti mereka sangat menikmati bisnis ini," terangnya.
Hal itu yang menyebabkan operator seluler harus melakukan merger. Bila tidak ada tantangan yang berat itu, tidak mungkin operator seluler akan bergabung.
"Jadi kami melakukan merger. Dalam merger itu tidak ada satu pihak pun yang sebenarnya menginginkan merger. Betul kan? Merger adalah suatu keterpaksaan oleh karena formula bisnisnya itu kurang profitable," jelas dia.