Astronom Tak Mau Kalah Kembangkan AI Ramal Badai Matahari
Salah satu aktivitas matahari yang sulit diprediksi adalah efek dari lontaran massa korona (CME).
Para peneliti saat ini sedang mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk memprediksi fenomena badai matahari sebelum kejadian tersebut terjadi. Ketidakpastian aktivitas di permukaan matahari menjadi salah satu tantangan utama bagi fisikawan surya modern.
Salah satu aktivitas yang sulit diprediksi adalah dampak dari lontaran massa korona (CME). Namun, dengan kemajuan dalam AI dan algoritma pembelajaran mesin, para ilmuwan berpotensi memberikan lebih banyak peringatan sebelum peristiwa ini terjadi.
Menurut laporan dari Science Alert, Rabu (5/2), sebuah studi terbaru mengungkapkan bahwa algoritma yang dilatih untuk memantau aktivitas matahari selama beberapa dekade dapat mendeteksi tanda-tanda peningkatan aktivitas di area yang dikenal sebagai AR13664.
Hal ini dapat membantu dalam mengantisipasi kemungkinan terjadinya ledakan di masa mendatang. Penelitian yang dipimpin oleh Sabrina Guastavino dari University of Genoa ini menerapkan teknologi AI untuk memprediksi dengan akurat kejadian CME dan dampaknya terhadap magnetosfer Bumi.
Tim peneliti menggunakan teknologi yang terus berkembang ini untuk memprediksi kejadian terkait badai matahari yang terjadi pada Mei 2024, yang menghasilkan suar besar yang diketahui berasal dari wilayah 13644.
Badai ini memicu peristiwa matahari yang sangat intens, termasuk suar yang dikategorikan dalam kelas X8.7. Dengan memanfaatkan AI, tim ini berhasil mengarahkan teknologi pembelajaran mesin untuk menganalisis sejumlah besar data yang telah dikumpulkan sebelumnya, sehingga dapat menemukan pola-pola kompleks yang sulit dikenali dengan metode konvensional.
Mengapa teknologi modern memiliki peranan yang krusial?
Perkembangan teknologi yang semakin maju sangat penting dalam memprediksi efek dari lontaran massa korona yang berasal dari matahari.
Lontaran massa korona merupakan semburan besar plasma yang terlempar dari korona matahari ke ruang angkasa akibat gangguan pada medan magnetik matahari.
Peristiwa ini sering kali terkait dengan terjadinya suar matahari, yang muncul ketika garis-garis medan magnet secara tiba-tiba menyelaraskan diri, melepaskan energi dalam jumlah yang sangat besar. CME (Coronal Mass Ejection) dapat bergerak dengan kecepatan yang bervariasi, mulai dari beberapa ratus hingga beberapa ribu kilometer per detik.
Jika arah lintasannya sejalan dengan orbit bumi, lontaran ini dapat mencapai planet kita dalam waktu beberapa hari. Ketika CME tiba di Bumi, ia dapat berinteraksi dengan magnetosfer dan memicu badai geomagnet, yang dapat mengganggu komunikasi satelit, sistem GPS, serta jaringan listrik.
Selain itu, lontaran ini juga dapat menyebabkan aktivitas aurora yang menakjubkan, menciptakan tampilan cahaya yang indah di kutub utara dan selatan.
Namun, menurut akun X NASA pada Selasa (4/2), badai matahari tidak menimbulkan bahaya bagi manusia yang berada di Bumi. Hal ini disebabkan oleh perlindungan yang diberikan oleh medan magnet Bumi dan atmosfer yang tebal, yang mampu melindungi kita dari dampak langsung fenomena tersebut.
"Bagi kita yang berada di lapangan, jawaban singkatnya adalah tidak. Medan magnet bumi dan atmosfer tebal melindungi kita dari dampak langsung badai matahari. Anda tidak memerlukan pelindung radiasi apapun - planet kita menyediakannya," tulis akun NASA.
Bumi memiliki medan magnet yang kuat, dihasilkan oleh besi cair bermuatan yang berputar di intinya, yang menghalangi aliran angin matahari bermuatan menuju planet kita. Fenomena ini dikenal sebagai magnetosfer.
Magnetosfer Bumi memiliki ukuran yang cukup besar dan kuat, membentang ratusan kali radius Bumi, sekitar 4.000 mil. Di sisi yang menghadap matahari, magnetosfer menghadapi tekanan yang lebih besar, dengan luas antara 6 hingga 10 kali radius Bumi (sekitar 25.000 hingga 40.000 mil).
Berbeda dengan para astronaut yang berada di luar angkasa dan tidak memiliki banyak perlindungan, badai matahari dapat memberikan dampak yang lebih signifikan bagi mereka.
Partikel-partikel matahari yang energik berpotensi menyebabkan radiasi berbahaya bagi astronaut. Dalam situasi yang paling ekstrem, badai matahari dapat mengganggu komunikasi radio jarak jauh para astronaut, yang dapat menimbulkan risiko bagi keselamatan mereka.
NASA juga telah menyiapkan prosedur darurat bagi astronaut untuk berlindung saat badai matahari terjadi, seperti menghentikan sistem sensitif di satelit terlebih dahulu.
Selain itu, pesawat ruang angkasa yang digunakan oleh astronaut harus dilengkapi dengan tempat perlindungan untuk melindungi mereka dari efek berbahaya tersebut.