49 Satelit Starlink Jatuh dari Luar Angkasa, Ini Penyebabnya
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa penyebab kegagalan itu mungkin jauh lebih kompleks. Bukan sekadar badai.
Pada 3 Februari 2022, SpaceX meluncurkan 49 satelit Starlink ke orbit. Namun hanya dalam hitungan hari, sebagian besar satelit itu jatuh kembali ke Bumi, menghujani wilayah Karibia. Saat itu, perusahaan Elon Musk menyalahkan badai geomagnetik ringan yang terjadi hampir bersamaan.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa penyebab kegagalan itu mungkin jauh lebih kompleks. Hal tersebut seperti dikutip dari IFLScience, Selasa (29/4).
Satelit-satelit tersebut gagal bertahan karena atmosfer Bumi memuai lebih dari yang diperkirakan. Meski tipis, atmosfer Bumi membentang sangat luas, bahkan beberapa ilmuwan berpendapat bahwa tidak ada astronot yang benar-benar pernah meninggalkannya.
Ketika badai geomagnetik terjadi akibat aktivitas Matahari, energi besar disalurkan ke atmosfer, memanaskannya dan membuatnya mengembang. Ini meningkatkan kerapatan lapisan atas atmosfer, menciptakan hambatan yang memperlambat satelit.
Satelit yang melambat akan turun ke ketinggian lebih rendah, di mana hambatan atmosfer makin kuat, hingga akhirnya terbakar dan jatuh ke Bumi.
Beberapa studi mengungkap bahwa efek gabungan dari badai-badai kecil berturut-turut mempercepat proses jatuhnya satelit, meskipun sebagian badai terjadi setelah satelit sudah mulai menghilang.
Peristiwa Magnetik di Matahari
Namun laporan terbaru dari spaceweather.com menawarkan penjelasan yang lebih mendalam: peristiwa kompleks dalam siklus magnetik Matahari disebut menjadi penyebab utama.
Matahari memiliki siklus aktivitas 11 tahunan yang memuncak pada solar maksimum. Kita baru saja melewati puncak siklus ke-25.
Selain itu, Matahari menjalani siklus magnetik yang lebih panjang, yaitu 22 tahun, dikenal sebagai siklus Hale. Setiap 11 tahun, medan magnet Matahari berbalik arah.
Salah satu fitur penting dalam siklus Hale adalah terbentuknya "donat magnetik" di sekitar 55 derajat lintang di kedua belahan Matahari. Struktur ini perlahan bergerak ke ekuator, dan saat bertabrakan, terjadi peristiwa yang disebut terminator — bukan robot pembunuh, melainkan momen di mana medan magnet lawan saling meniadakan.
"Dalam istilah sederhana, peristiwa terminator adalah napas terakhir dari donat magnetik yang bertabrakan itu," ujar Dr. Scott McIntosh, Deputi Direktur National Center for Atmospheric Research, kepada IFLScience tahun lalu.
Keterkaitan dengan Solar Cycle 25
McIntosh dan timnya telah mengkaji peristiwa terminator untuk memprediksi siklus ke-25. Berbeda dari prediksi resmi yang memperkirakan solar maksimum lemah pada 2024, McIntosh memperkirakan puncak awal yang lebih aktif — yang terbukti benar, dengan 216 bintik Matahari pada Oktober 2024.
Menurut analisis lain dari Scott Shambaugh di Capella Space, model terminator lebih akurat dalam memprediksi fluks matahari — faktor utama yang menentukan kepadatan atmosfer dan hambatan terhadap satelit.
Artinya, meski badai geomagnetik berkontribusi, faktor utama yang memperbesar hambatan atmosfer adalah aktivitas magnetik kompleks akibat peristiwa terminator, bukan sekadar badai sesaat.
Penemuan ini menunjukkan bahwa meskipun Matahari adalah bintang yang paling banyak dipelajari, masih banyak yang belum kita pahami tentang perilakunya. Upaya ilmiah terus dilakukan untuk memperbaiki prediksi tentang bagaimana aktivitas Matahari memengaruhi Bumi — termasuk terhadap keselamatan satelit yang mengorbit di atas kita.