Apakah Masturbasi Bisa Ringankan Gejala Menopause? Begini Penjelasan Ilmuwan
Studi internasional mengungkap sebagian perempuan menggunakan masturbasi untuk meredakan gejala perimenopause dan menopause, dari insomnia hingga nyeri.
Sebuah riset terbaru dari Amerika Serikat mengungkap bahwa sebagian perempuan pada fase perimenopause dan menopause menggunakan masturbasi sebagai salah satu cara untuk membantu mengurangi gejala fisik dan emosional yang mereka alami.
Penelitian ini dilakukan oleh tim dari Kinsey Institute, Indiana University, dan melibatkan 1.178 perempuan berusia 40 hingga 65 tahun. Temuan mereka diterbitkan dalam jurnal Menopause dan dikutip dari laporan ScienceAlert, Selasa (25/11/2025).
Dari hasil survei, sekitar 80 persen responden mengaku pernah melakukan masturbasi. Dari kelompok tersebut, kurang lebih 20 persen menyatakan aktivitas tersebut memberikan dampak positif terhadap gejala yang mereka alami selama masa transisi menuju menopause.
Pada kelompok perempuan perimenopause, masturbasi paling sering dikaitkan dengan perbaikan kualitas tidur dan berkurangnya rasa mudah tersinggung.
Sementara pada sebagian perempuan menopause, aktivitas ini dilaporkan membantu mengurangi keluhan seperti nyeri pada area vagina, perut kembung, hingga rasa tidak nyaman saat buang air kecil.
Tim peneliti menjelaskan bahwa orgasme memicu pelepasan endorfin, hormon yang berperan dalam mengurangi stres, memperbaiki suasana hati, dan membantu proses tidur.
Tak Semua Nyaman
Selain itu, stimulasi seksual juga meningkatkan pelumasan alami serta aliran darah ke area genital, yang diyakini membantu menjaga kesehatan jaringan vagina.
Meski sejalan dengan sejumlah studi sebelumnya, para peneliti menegaskan bahwa bukti klinis terkait manfaat masturbasi masih tergolong terbatas.
Namun, tidak semua responden merasakan manfaat tersebut. Sebagian kecil perempuan justru melaporkan gejalanya terasa lebih buruk setelah masturbasi. Hingga kini, alasan di balik respons tersebut masih belum dapat dijelaskan secara ilmiah.
Penelitian juga menemukan bahwa pembahasan seputar masturbasi masih tergolong sensitif. Hampir seluruh peserta mengaku belum pernah mendiskusikan aktivitas ini dengan tenaga medis karena faktor rasa malu dan norma sosial.
Meski demikian, lebih dari setengah responden dalam fase perimenopause menyatakan akan mempertimbangkan masturbasi sebagai salah satu cara mengatasi gejala jika dianjurkan oleh tenaga kesehatan.
Peneliti juga mencatat bahwa tidak semua perempuan merasa nyaman melakukan masturbasi. Hambatan bisa muncul karena faktor agama, budaya, kondisi fisik, hingga keterbatasan privasi, terutama pada kelompok usia lanjut.
Reporter magang: Ahmad Subayu