Kenali Tanda-Tanda Gejala Perimenopause, Transisi Sunyi Menuju Menopause
Perimenopause mungkin kurang dikenal dibandingkan menopause, tetapi penting untuk memahami fase ini.
Perimenopause dan menopause, mana yang lebih familiar di telinga masyarakat? Umumnya, orang lebih akrab dengan istilah menopause, yang merujuk pada kondisi di mana seorang wanita tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut. Sayangnya, fase sebelum menopause, yang dikenal sebagai perimenopause, sering kali kurang dipahami. Padahal, fase ini sangat penting karena ditandai dengan perubahan hormon yang dapat memengaruhi suasana hati dan kualitas tidur. Secara harfiah, perimenopause adalah periode sebelum menopause itu sendiri. Kondisi ini umumnya dialami oleh wanita di akhir usia 30-an hingga 40-an. Di Amerika Serikat, fase perimenopause biasanya berlangsung sekitar empat tahun sebelum menopause, namun bisa juga berkisar antara 8 hingga 10 tahun sebelum menopause. Hal ini menyebabkan wanita mengalami periode yang cukup panjang dengan perubahan hormon yang membuat kehidupan mereka terasa seperti rollercoaster.
Perimenopause, Fase yang Menantang untuk Wanita
Ketika perimenopause berlangsung, wanita akan mengalami perubahan hormon yang berdampak pada siklus menstruasi, suasana hati, dan kondisi kulit. Lalu, apa yang sebenarnya terjadi pada tubuh selama perimenopause? Dokter Heather Currie, juru bicara Royal College of Obstetricians and Gynaecologists serta mantan ketua British Menopause Society, menjelaskan bahwa selama perimenopause, ovarium mengalami penyesuaian dari kondisi yang sebelumnya berfungsi normal dan menghasilkan keseimbangan hormon reproduksi untuk menjaga siklus menstruasi tetap teratur, menuju fase di mana ovarium berhenti memproduksi hormon. Hal ini dapat mengakibatkan berbagai gejala yang memengaruhi keseharian wanita, seperti yang diungkapkan dalam Women's Health.
Mengenali Perimenopause Bisa Menjadi Hal Sulit
Menentukan perimenopause bisa menjadi tantangan karena banyak faktor yang terlibat. Dorit Kemsley, bintang dari Real Housewives of Beverly Hills, awalnya mengira gejala yang dialaminya disebabkan oleh gangguan stres pasca-trauma (PTSD) setelah perpisahannya dari mantan suami, bukan perimenopause. Pada usia 40-an, banyak perempuan yang sibuk dengan tanggung jawab besar, baik dalam mengasuh anak atau pekerjaan, dan sering kali menghadapi tekanan ekonomi yang dapat menyebabkan stres.
"Sehingga agak sulit membedakan hal yang terjadi itu perimenopause atau bukan. Misalnya perempuan itu mengalami menstruasi yang tidak teratur, penyebabnya apakah stres atau perubahan hormon?" ungkap dokter obstetri dan ginekologi Mary Rosser, seperti yang dikutip dari Women's Health.
Selain itu, gejala perimenopause sering kali tidak spesifik dan dapat menunjukkan kondisi kesehatan lain atau penuaan secara umum. Contohnya, beberapa pasien Rosser yang mengeluhkan nyeri sendi harus menjalani pemeriksaan menyeluruh oleh ahli reumatologi untuk menyingkirkan kemungkinan gangguan autoimun atau osteoartritis, padahal sebenarnya perimenopause yang menjadi penyebab kekakuan dan nyeri tersebut. Oleh karena itu, Rosser mendorong perempuan di usia tersebut untuk mencatat setiap perubahan kecil yang mereka alami. Dengan cara ini, mereka dapat lebih mudah melacak kemungkinan penyebab dari gejala yang muncul.
Tanda-Tanda Umum Perimenopause Harus Dipahami
Setiap wanita pasti akan mengalami perimenopause, meskipun usia dan gejalanya dapat bervariasi. Namun, terdapat beberapa tanda "umum" yang dapat menunjukkan bahwa mereka berada dalam fase ini.
1. Menstruasi Tidak Teratur
Menurut Rosser, perubahan dalam siklus menstruasi sering kali menjadi gejala awal perimenopause.
"Siklus menstruasi yang biasanya berlangsung setiap 28 hari bisa berubah menjadi lebih pendek, misalnya setiap 21 hingga 24 hari," ujarnya.
Jika seorang wanita tidak mencatat siklus menstruasinya, ia mungkin tidak menyadari perubahan tersebut. Oleh karena itu, Rosser menyarankan agar wanita kembali mencatat jadwal menstruasi mereka. Dengan cara ini, mereka dapat mengetahui kapan menstruasi dimulai, berapa banyak cairan yang keluar, serta gejala lain yang mungkin menyertai.
2. Hot Flashes dan Berkeringat di Malam Hari
Menurut Harvard Health, peningkatan suhu tubuh ini dapat memengaruhi sekitar 35 hingga 50 persen wanita yang mengalami perimenopause. Tingkat keparahan gejala ini bervariasi antara satu wanita dengan yang lainnya—ada yang hanya merasa sedikit hangat, sementara yang lain mungkin mengalami keringat berlebih. Disarankan untuk mencatat waktu ketika ketidaknyamanan akibat peningkatan suhu tubuh mulai dirasakan, baik di siang maupun malam hari.
Gangguan Tidur
Baik karena keringat malam maupun perubahan hormon, banyak wanita mengalami kesulitan tidur yang berkualitas selama perimenopause. Oleh karena itu, bangun pada pukul 2 atau 3 pagi menjadi hal yang umum. Ketika perempuan tidak mendapatkan tidur yang cukup, mereka mungkin merasa mudah tersinggung dan mengalami perubahan suasana hati di hari berikutnya.
4. Kebingungan Mental atau Gangguan Fokus
Rosser menyatakan bahwa kesulitan dalam berkonsentrasi atau fokus merupakan salah satu tanda umum perimenopause.
"Banyak orang telah menjalani pemeriksaan neurologis, dan setelah hasilnya negatif, mereka menyadari bahwa ini mungkin disebabkan oleh fluktuasi hormon yang terjadi pada masa perimenopause," ujarnya.
5. Kenaikan Berat Badan
Perubahan hormon dapat menyebabkan penambahan berat badan. Saat kadar estrogen menurun, lemak cenderung lebih banyak terakumulasi di area perut. Kenaikan berat badan secara keseluruhan juga dialami oleh sekitar 70 persen wanita, seperti yang dilaporkan dalam Journal of Health Psychology.
6. Kekeringan Vagina
Selain penurunan hasrat seksual akibat berkurangnya hormon testosteron, wanita juga akan merasakan kekeringan pada area vagina. Kondisi ini dapat menyebabkan rasa sakit saat berhubungan seksual.
Menghadapi kondisi perimenopause memerlukan beberapa strategi yang efektif. Pertama, penting untuk memahami perubahan fisik dan emosional yang terjadi selama fase ini. Kedua, menjaga pola makan sehat dan rutin berolahraga dapat membantu mengurangi gejala yang muncul. Ketiga, berbicara dengan dokter mengenai opsi pengobatan atau terapi yang tersedia juga sangat disarankan. Terakhir, dukungan dari keluarga dan teman dapat memberikan kenyamanan dan membantu mengatasi tantangan yang dihadapi
Rosser menjelaskan bahwa proses untuk menetapkan diagnosis tidaklah sederhana.
"Ini bukan seperti tes darah yang mudah," ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kadar hormon dapat sangat bervariasi. Oleh karena itu, ia pribadi tidak terlalu menekankan pentingnya pengujian hormon. Biasanya, dokter akan memeriksa track jadwal menstruasi pasien dan menanyakan gejala yang dialami.
"Setelah empat bulan, biasanya pasien akan ditanya mengenai gejala yang dirasakan, dan dari situ bisa dimulai pengobatan yang tepat. Pengobatan bisa berupa perubahan gaya hidup, seperti pola makan dan olahraga, terapi perilaku kognitif, atau mungkin terapi hormon," jelasnya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3625460/original/065449300_1636292983-vaksin_covid-19.jpg)