Akhirnya Salju Gunung Fuji Terlihat
Tahun 2024 menjadi tahun ketiga terjadinya salju yang muncul terlambat di Gunung Fuji, setelah kejadian serupa pada tahun 1955 dan 2016.
Setelah sekian lama lereng Gunung Fuji gundul, salju akhirnya turun. Kejadian ini dilaporkan setelah pemerintah daerah dan warga setempat membagikan foto-foto yang menunjukkan salju di lereng gunung pada Rabu (6/11/2024).
Badan cuaca nasional Jepang belum memberikan pengumuman mengenai rekor baru terkait pembentukan salju di Gunung Fuji yang muncul terlambat, disebabkan oleh kondisi berawan di sekitar stasiun pemantau. Namun, gambar-gambar yang diambil dari berbagai lokasi di sekitar gunung berapi aktif ini menunjukkan adanya lapisan salju di puncaknya.
"Ini adalah foto-foto Gunung Fuji, yang terlihat dari balai kota pagi ini. Kami dapat melihat lapisan tipis salju di dekat puncak," demikian pernyataan yang diunggah di akun X resmi Kota Fuji, yang terletak di wilayah Shizuoka, Jepang bagian tengah, seperti yang dilansir oleh CNA pada Kamis (7/11).
Selain itu, banyak warga lainnya di sekitar juga mengunggah foto-foto salju yang mereka ambil di gunung tertinggi di Jepang tersebut.
"Akhirnya, lapisan salju pertama! Gunung Fuji tampak indah dengan salju," tulis sebuah unggahan dari sebuah panti jompo di Kota Fuji.
Lapisan salju di Gunung Fuji biasanya mulai terbentuk rata-rata pada tanggal 2 Oktober, sedangkan tahun lalu salju pertama kali terdeteksi oleh ahli meteorologi pemerintah pada 5 Oktober di Kota Kofu. Tahun 2024 ini menandakan kali ketiga salju di Gunung Fuji muncul terlambat, sebelumnya tercatat pada tahun 1955 dan 2016.
Pemanasan Global Penyebabnya
Seorang pejabat dari Badan Meteorologi Jepang (JMA) yang berada di kantor Kofu menyampaikan kepada AFP bahwa kondisi cuaca di sana masih terlalu mendung untuk mengumumkan adanya rekor baru. Namun, ia optimis bahwa langit akan cerah pada sore hari di hari Rabu.
Ia juga menjelaskan bahwa pemanasan global merupakan salah satu dari beberapa faktor yang menyebabkan keterlambatan kedatangan salju.
"Suhu pada bulan Oktober di puncak Gunung Fuji lebih hangat dari rata-rata," ujarnya.
Musim panas di Jepang tahun ini tercatat sebagai yang terpanas karena gelombang panas ekstrem yang disebabkan oleh perubahan iklim yang melanda banyak wilayah di dunia.
Gunung Fuji, yang hampir selalu tertutup salju, biasanya menjadi tujuan pendakian bagi lebih dari 220.000 pengunjung selama musim pendakian yang berlangsung dari bulan Juli hingga September. Meskipun salju biasanya melapisi puncaknya, tahun ini kondisi tersebut berbeda.
Hal ini menunjukkan dampak nyata dari perubahan iklim yang mempengaruhi pola cuaca dan suhu di wilayah tersebut. Dengan fenomena ini, banyak yang mulai memperhatikan pentingnya menjaga lingkungan dan mengurangi jejak karbon untuk mencegah dampak lebih lanjut dari pemanasan global.