Fakta Menarik Songket Nyakmu dari Aceh, Dijual hingga ke Luar Negeri
Keunikan dari kain songket ini adalah bahan dasar untuk pembuatannya yang menggunakan benang sutra.
Keunikan dari kain songket ini adalah bahan dasar untuk pembuatannya yang menggunakan benang sutra.
Fakta Menarik Songket Nyakmu dari Aceh, Dijual hingga ke Luar Negeri
Provinsi Aceh terkenal dengan kebudayaan Islamnya yang begitu kental. Dari sisi kebudayaan lokal, Aceh juga cukup kaya akan keberagaman dan memiliki nilai-nilai seni yang begitu tinggi.
Salah satunya adalah Tenun Songket Aceh Nyakmu, usaha kain tenun yang berada di Desa Siem, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar.
Sejak dahulu, produk ini sudah begitu populer dan diwariskan dari generasi ke generasi. (Foto: Instagram/songketacehnyakmu)
Sampai sekarang kain ini masih tetap eksis dengan berbagai macam motif yang indah dan cantik.
Kira-kira seperti apa fakta menarik produk Songket Nyakmu dari Aceh? Simak ulasan informasinya yang dirangkum merdeka.com dari berbagai sumber berikut ini.
Gunakan Benang Sutra
Melansir dari artikel "Tenun Songket Aceh "Nyakmu" di Desa Siem Kabupaten Aceh Besar" karya Yasmin Afrilla dkk, keunikan dari kain songket ini adalah bahan dasar untuk pembuatannya yang menggunakan benang sutra.
Kain ini terdiri dari berbagai macam motif dan seluruhnya hanya menggunakan benang sutra. Ada beberapa jenis motif kain songket, di antaranya Pucok Mutia, Bungong Jeumpa, Keupala Meurante, dan Bungong Meulu.
Untuk durasi pembuatan dari bahan dasar benang hingga menjadi kain kira-kira memakan waktu sekitar 1 bulan. Pada dasarnya kain songket yang dihasilkan di Desa Siem ini memiliki kesamaan dengan kain songket lainnya, hanya saja terdapat perbedaan pada teknik menenun.
Sebuah Brand Lokal
Kain Songket "Nyakmu" ini adalah sebuah brand lokal kain tradisional nusantara. Usaha tersebut sudah diwariskan dari generasi ke generasi. Hal ini dikarenakan menenun merupakan salah satu unsur budaya asli dari Aceh.
Mengutip dari situs disbudpar.acehprov.go.id, tokoh penting di balik kain Songket "Nyakmu" ini adalah Hj. Maryamun yang kemudian dipanggil Nyakmu. Ia mewarisi selembar kain sutera dari ibunya yang sudah membuat 25 motif tradisional.
Usaha yang sudah berdiri sejak tahun 1973 ini juga memiliki kain berwarna cokelat yang konon sudah berusia 200 tahun. Kain tersebut berisikan motif-motif yang diadopsi dari bunga dan kaligrafi Arab. (Foto: disbudpar.acehprov.go.id)
Melahirkan Motif Baru
Hj. Maryamun sendiri bukan hanya berperan sebagai pewaris saja, melainkan dirinya juga cukup piawai menciptakan motif-motif baru pada kain songket Aceh tersebut.
Beberapa motif ciptaan dari Maryamun sendiri seperti, Pinto Aceh dan Bungong Kertah. Saat itu proses pewarnaan masih menggunakan bahan alami, mulai dari kulit batang kayu, dedaunan, dan lumpur.
Selain itu Songket Nyakmu memiliki kekayaan motif dengan kualitas hebat, seperti motif Pucok Aron, Bungong Rante Lhe, Timpeung, Mata Uro, Bungong Kala, Pucok Meuriya, Bungong Reudep dan beberapa motif lainnya yang terinspirasi dari alam dan lingkungan perdesaan.
Memiliki 63 Motif
Dari pewaris Hj. Maryamun yang terus berinovasi melahirkan motif-motif baru, kini motif Songket Aceh "Nyakmu" sendiri sudah mencapai 63 jenis motif!
Hampir seluruh motif tersebut didesain dari bentuk garis, atau elemen yang dipengaruhi oleh bentuk alam benda dengan gaya khas.
akan dililit pada batang kumpar (Peuget Idong), melilit benang lungsi pada batang kumpar (Dong Teupun), dan mendesain motif (Nyulek Motif).