LSPR Dorong Produk Anyaman Bambu Tangerang Tembus Pasar Internasional
Kolaborasi LSPR dengan masyarakat Desa Buniayu Sukamulya, Kabupaten Tangerang, fokus pada pelatihan digital dan pengembangan desain untuk membawa produk anyaman bambu Tangerang bersaing di kancah global.
London School of Public Relations (LSPR) Angkatan 27 baru-baru ini menjalin kerja sama strategis dengan masyarakat Desa Buniayu Sukamulya, Kabupaten Tangerang. Kolaborasi ini bertujuan untuk memberikan pelatihan digital serta pengembangan desain produk anyaman bambu. Inisiatif ini diharapkan dapat membuka jalan bagi produk kerajinan anyaman bambu lokal untuk menembus pasar internasional.
Ketua Penyelenggara The Story of Buniayu, Moza Febrianita, menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan upaya nyata untuk memperkuat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Selain itu, program ini juga berfokus pada keberlanjutan produk tradisional Indonesia melalui inovasi digital dan peningkatan kualitas desain produk.
Moza menekankan pentingnya promosi digital dan peningkatan mutu desain agar produk anyaman bambu dari Desa Buniayu memiliki daya saing. Dengan demikian, kerajinan lokal ini dapat dikenal lebih luas dan mampu bersaing secara global, membawa nama baik Tangerang ke panggung dunia.
Mendorong Anyaman Bambu Tangerang ke Kancah Global
LSPR Angkatan 27 bertekad untuk membawa produk anyaman bambu Tangerang ke tingkat yang lebih tinggi melalui pendekatan modern. Moza Febrianita menjelaskan bahwa fokus utama adalah menciptakan produk yang relevan dengan tren saat ini, khususnya di ranah fesyen. Harapannya, inovasi ini akan membuat Desa Buniayu semakin dikenal di pasar yang lebih luas.
Kolaborasi ini diharapkan dapat menghasilkan beragam inovasi produk anyaman bambu yang lebih bervariasi dan menarik. Dengan demikian, kesejahteraan masyarakat perajin dapat meningkat secara signifikan, sekaligus melestarikan tradisi kerajinan yang telah diwariskan secara turun-temurun.
Upaya ini tidak hanya sekadar pelatihan, melainkan juga sebuah visi untuk memastikan bahwa potensi anyaman bambu Tangerang dapat dikenal secara global. Ini juga menjadi langkah penting untuk memajukan kesejahteraan warga dan mendorong generasi muda untuk melanjutkan tradisi berharga ini.
Inovasi dan Pelestarian Kerajinan Bambu Buniayu
Murdani, atau akrab disapa Kang Dhany, salah satu penggerak kerajinan produk bambu di Desa Buniayu, menjelaskan latar belakang berdirinya sentra ini. Sentra kerajinan ini dibangun untuk melestarikan keahlian menganyam bambu yang telah diwariskan dari para pendahulu. Ini juga merupakan bentuk komitmen untuk menjaga kearifan lokal yang kaya.
Kang Dhany mengungkapkan bahwa sentra ini menjadi titik awal bagi masyarakat untuk mengembangkan kerajinan bambu, sekaligus mensejahterakan warga sekitar. Ia sendiri telah belajar menganyam bambu sejak kecil, dan pada tahun 2021, di tengah pandemi, ia bersama masyarakat berinisiatif mendirikan sentra UMKM untuk melestarikan kerajinan bambu di Buniayu.
Sekitar setahun setelah pendiriannya, pemerintah setempat mengakui Saung Bakul sebagai sentra edukasi. Pengakuan ini memicu sentra kerajinan bambu untuk terus mengadakan berbagai pelatihan dan pengembangan. Salah satu inovasi yang berhasil dikembangkan adalah produk peci dari anyaman bambu, menunjukkan potensi adaptasi produk tradisional ke pasar modern.
Transformasi Digital untuk Anyaman Bambu: Dari Lokal ke Internasional
Pengembangan produk anyaman bambu, seperti peci, telah berhasil membuat kerajinan ini dikenal luas di berbagai wilayah Indonesia. Meskipun demikian, Kang Dhany mengakui bahwa masih ada kebutuhan besar untuk terus mengembangkan produk, terutama dalam aspek pemasarannya agar dapat menjangkau pasar yang lebih luas.
Kang Dhany menyambut baik kerja sama dengan LSPR, yang berfokus pada pelatihan digital dan pengembangan produk. Ia mengakui bahwa para perajin di Buniayu, yang mayoritas berusia antara 35 hingga 50 tahun, masih memiliki keterbatasan dalam hal digitalisasi. Oleh karena itu, dukungan dari LSPR sangat krusial untuk mengisi kesenjangan ini.
Harapan besar disematkan pada kolaborasi ini agar dapat membantu meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat Desa Buniayu. Melalui digitalisasi dan pengembangan produk yang lebih baik, anyaman bambu Tangerang diharapkan tidak hanya dikenal secara nasional, tetapi juga mampu bersaing dan diakui di pasar internasional.
Sumber: AntaraNews