Laku Dijual, Berapa Harga Selongsong Amunisi Bekas TNI?
Harga selongsong amunisi bekas TNI bervariasi, dipengaruhi oleh jenis logam, kualitas, dan pemanfaatannya.
Peristiwa pemusnahan amunisi kedaluwarsa yang dilakukan TNI AD di Cibalong, Garut, Jawa Barat, beberapa waktu lalu berakhir tragis. Sebanyak 13 orang tewas dalam kejadian tersebut.
Kepala Pusat Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Wahyu Yudhayana menjelaskan, pada hari ini, Senin (12/5) pukul 09.30 WIB, dilaksanakan pemusnahan amunisi afkir tidak layak pakai inventaris TNI Angkatan Darat di Desa Sagara, Kecamatan Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
“Pemusnahan tersebut dilaksanakan oleh jajaran gudang pusat amunisi 3, pusat peralatan TNI Angkatan Darat,” jelas Wahyu lewat sebuah video.
Proses peledakan amunisi afkir tidak layak pakai ini berjalan sesuai prosedur. Berawal dari dilaksanakan pengecekan terhadap personel maupun lokasi peledakan. Semuanya dinyatakan dalam keadaan aman.Selanjutnya tim penyusun amunisi melakukan persiapan pemusnahan di dalam dua lubang sumur yang disiapkan.
Setelahnya, seluruh tim masuk ke pos masing-masing untuk melaksanakan pengamanan.“Setelah dinyatakan aman kemudian dilakukan peledakan di dua sumur yang ditempati oleh amunisi afkir tersebut untuk dihancurkan,” sambungnya.
Sedangkan di luar dua umur ini disiapkan satu lubang yang digunakan untuk menghancurkan detanator yang selesai digunakan.
Dari 13 korban tewas, sembilan di antaranya merupakan warga sipil. Terungkap, diduga warga sipil yang tewas bermaksud mengambil puing-puing sisa amunisi kedaluwarsa. Sebab, masih mempunyai nilai jual.
Dikutip berbagai sumber, harga jual selongsong amunisi bekas ini dipengaruhi sejumlah faktor, yang berkisar antara Rp50.000 hingga Rp100.000. Variasi harga ini tidak terlepas dari jenis logam serta kualitas selongsong yang ditawarkan.
Di Garut, warga sipil aktif mengumpulkan selongsong amunisi bekas untuk dijual kembali kepada pengepul. Proses pengumpulan ini menjadi salah satu sumber pendapatan bagi masyarakat setempat. Selain itu, mereka juga mendapatkan upah dari kegiatan pembongkaran selongsong amunisi, yang dapat mencapai Rp150.000 hingga Rp200.000 per hari.
Harga selongsong amunisi bekas juga sangat dipengaruhi oleh jenis logam yang digunakan. Logam kuningan, misalnya, memiliki nilai jual yang lebih tinggi dibandingkan dengan logam besi. Hal ini disebabkan oleh permintaan pasar yang berbeda untuk masing-masing jenis logam.
Bahan Baku Kerajinan
Di Bali, selongsong peluru bekas telah dimanfaatkan untuk membuat berbagai kerajinan ukir yang memiliki nilai jual tinggi. Kerajinan ini tidak hanya menarik perhatian wisatawan, tetapi juga menjadi sumber pendapatan bagi para pengrajin lokal. Harga jual kerajinan ini berkisar antara Rp60.000 hingga Rp1.000.000 per selongsong, tergantung pada ukuran kaliber peluru, kerumitan ukiran, dan nilai artistiknya.
Proses pengolahan selongsong amunisi bekas menjadi kerajinan menunjukkan potensi nilai tambah yang signifikan. Para pengrajin mampu menciptakan produk yang unik dan menarik dari bahan yang awalnya dianggap sebagai limbah.
Risiko dan Bahaya Pengumpulan Selongsong Amunisi Bekas
Meskipun terdapat peluang ekonomi yang menarik, perlu diingat bahwa pengumpulan dan penjualan selongsong amunisi bekas dapat sangat berbahaya dan berisiko tinggi.
Selongsong yang tidak terkelola dengan baik dapat mengandung sisa-sisa bahan peledak yang dapat membahayakan keselamatan pengumpul.
Kesadaran akan risiko ini harus menjadi perhatian utama bagi semua pihak yang terlibat dalam pengumpulan dan pengolahan selongsong amunisi bekas. Edukasi mengenai cara yang aman dalam menangani dan mengolah selongsong ini perlu dilakukan untuk mengurangi potensi bahaya yang mungkin terjadi.