Mengenal Ulap Doyo, Kearifan Lokal Kain Tenun Khas Kalimantan Timur yang Populer Sejak Kerajaan Kutai

Kearifan lokal yang satu ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-17 atau bertepatan dengan masa Kerajaan Hindu-Buddha di Indonesia.

Adrian Juliano
Oleh Adrian Juliano - Reporter
Mengenal Ulap Doyo, Kearifan Lokal Kain Tenun Khas Kalimantan Timur yang Populer Sejak Kerajaan Kutai
Mengenal Ulap Doyo, Kearifan Lokal Kain Tenun Khas Kalimantan Timur yang Populer Sejak Kerajaan Kutai (Merdeka.com)

Pulau Kalimantan tidak lepas dari kentalnya tradisi dan budayanya yang sudah begitu dikenal banyak orang. Di Provinsi Kalimantan Timur, terdapat kearifan lokal berupa kerajinan tangan berupa kain tenun bernama Ulap Doyo.

Kain tenun Ulap Doyo ini merupakan kain buatan dari Suku Dayak Benuaq, Tanjung Isuy, Kabupaten Kutai, Samarinda. Lahirnya kain ini konon sudah sejak sebelum abad ke-17, tepatnya saat Kerajaan Kutai berkuasa.

(Foto: kebudayaan.kemdikbud.go.id)

Tak jauh berbeda dari kain-kain tenun yang ada di beberapa daerah lainnya, namun yang unik adalah bahan utama untuk pembuatan kain ini diambil langsung dari alam yang hanya ditemukan di hutan pedalaman Kalimantan, salah satunya Tanjung Isuy.

Ingin mengenal lebih dalam tentang kain ini? Simak rangkuman informasinya yang dihimpun merdeka.com dari berbagai sumber berikut.

Penamaan Ulap Doyo memiliki artinya masing-masing, 'Ulap' diambil dari bahasa setempat yang berarti kain. Sedangkan 'Doyo' diambil dari nama jenis tumbuhan yaitu Daun Doyo atau Curliglia latifolia. Tanaman ini memiliki ciri khas mirip daun pandan yang berserat kuat.

Mengutip Liputan6.com, kain Ulap Doyo dibuat dalam warna merah yang berasal dari buah Glinggam, kayu oter, dan juga Buah Londo. Tetapi ada juga kain yang berwarna cokelat yang warnanya diperoleh dari Kayu Uwar.

Mengutip situs warisanbudaya.kemdikbud.go.id, kegiatan pertama yang dilakukan untuk proses menenun yaitu menyusun corak dan warna yang diinginkan. Alat yang digunakan bernama Ngorak Utah dalam bahasa Dayak Benuaq.

Alat ini memiliki dua buah tiang tegak lurus yang ditancapkan pada sebuah kayu balok berukuran agak besar. Kemudian, benang-benang disusun rapi lalu diikat ujungnya dan dibagi beberapa bagian sesuai dengan jumlah lipatan kain.

Setelah proses pengikatan selesai, dilanjutkan proses perwarnaan atau Nyarau. Pewarnaan pun juga harus melalui beberapa tahapan. Apabila ingin ada campuran warna, maka yang pertama itu adalah warna dengan intensitas rendah, begitu seterusnya.

Kain tenun Ulap Doyo sudah sangat populer sejak lama. Kain ini memiliki berbagai macam motif dan corak yang begitu khas. Contohnya saja motif khas Kalimantan berupa gambaran jenis flora dan fauna yang cantik.

Selain motif flora dan fauna, ada motif bertema peperangan, makhluk mitologi, Limar (perahu), Timang (harimau), Tangga Tukar Toray (tangga rebah), Jautan Nguku (awan berarak) dan lain sebagainya.

Untuk kain tenun Ulap Doyo ini bisa digunakan oleh laki-laki maupun perempuan. Biasanya kain tersebut akan digunakan ketika sedang dalam upacara adat bahkan dikenakan untuk sehari-hari.

Ketika kain ini populer di masa kerajaan, motif-motifnya menandakan status sosial seseorang. Dalam kehidupan budaya suku Dayak Benuaq begitu kental dengan corak agama Hindu.

Kemudian, untuk jenis pewarnaan sendiri juga memiliki fungsi dan peruntukkannya masing-masing. Kain dengan warna dasar hitam biasanya digunakan untuk pakaian sehari-hari. Sedangkan kain tenun dengan warna dan pola beragam digunakan untuk upacara adat dan acara penting.

Rekomendasi