Waspada! Sejumlah Profesi Ini Berisiko Tinggi Alami Masalah Gangguan Pendengaran
Tanpa disadari, beberapa pekerjaan berisiko tinggi menyebabkan masalah gangguan pendengaran. Pekerja konstruksi hingga kru penerbangan rentan mengalaminya.
Ibu selalu mengeluhkan pendengaran ayah yang terus menurun seiring bertambahnya usia. Ketika berbicara dengan Ayah, Ibu harus menggunakan suara yang lebih keras agar ayah bisa mendengar. Ibu berkata bahwa hal ini terjadi karena pekerjaan yang digeluti Ayah selama puluhan tahun ini. Ayah bukanlah orang yang bekerja di depan sound system yang lantang atau di jalan raya yang berisik, Ayah adalah penjahit yang bekerja di depan mesin selama berjam-jam setiap harinya. Pekerjaan penjahit barangkali tampak tak berisiko, padahal ada dampak menurunnya pendengaran akibat pekerjaan ini. Kasus serupa bisa dialami pekerja kantoran yang tampak tidak berurusan dengan mesin yang berisik namun menggunakan earphone atau pelantang suara lain selama berjam-jam.
Kisah yang dialami Ayah hanyalah satu dari banyak cerita yang menunjukkan bahwa gangguan pendengaran tidak hanya mengintai pekerja di lingkungan bising seperti pabrik atau bandara. Pekerjaan yang tampak senyap, seperti menjahit, bekerja di kantor, atau mengajar, ternyata juga menyimpan risiko gangguan pendengaran akibat kebisingan (noise-induced hearing loss atau NIHL). Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 466 juta orang di dunia mengalami gangguan pendengaran, dengan 16% di antaranya disebabkan oleh paparan suara keras di tempat kerja atau lingkungan hiburan (WHO, 2021). Di Indonesia, data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013 mencatat bahwa 2,6% populasi berusia di atas 5 tahun mengalami gangguan pendengaran.
Tanpa kita sadari, ada beberapa jenis pekerjaan yang ternyata memiliki risiko tinggi terhadap masalah gangguan pendengaran. Hal ini disebabkan oleh paparan suara yang keras secara terus menerus, dan berlangsung selama bertahun-tahun. Kondisi ini seringkali diabaikan, padahal dampaknya bisa sangat signifikan bagi kualitas hidup seseorang.
Gangguan pendengaran akibat pekerjaan bisa terjadi secara bertahap. Awalnya, mungkin hanya berupa telinga berdenging sesekali atau kesulitan mendengar suara-suara pelan. Namun, jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa berkembang menjadi gangguan pendengaran permanen.
Lantas, pekerjaan apa saja yang memiliki risiko tinggi terhadap masalah gangguan pendengaran? Berikut adalah beberapa contoh pekerjaan yang perlu diwaspadai, lengkap dengan penjelasan mengapa pekerjaan tersebut bisa berdampak buruk bagi kesehatan pendengaran.
Memahami Gangguan Pendengaran Akibat Kebisingan
Gangguan pendengaran akibat kebisingan terjadi ketika paparan suara keras, baik dalam waktu singkat maupun berulang dalam jangka panjang, merusak sel-sel rambut di koklea, bagian telinga dalam yang mengubah getaran suara menjadi sinyal listrik untuk otak. Sel-sel ini tidak dapat beregenerasi, sehingga kerusakan bersifat permanen. WHO menetapkan bahwa suara di atas 85 desibel (dB) selama lebih dari 8 jam per hari dapat menyebabkan kerusakan pendengaran, sementara suara di atas 100 dB dapat merusak telinga dalam hitungan menit (WHO, 2021).
Ada dua jenis gangguan pendengaran utama: konduktif, akibat masalah di telinga luar atau tengah, dan sensorineural, akibat kerusakan koklea atau saraf pendengaran, yang sering terjadi akibat kebisingan. Kombinasi keduanya disebut gangguan pendengaran campuran. NIHL biasanya bersifat sensorineural, yang sulit disembuhkan, menjadikan pencegahan sebagai langkah paling krusial.
Penjahit
Seperti kisah Ayah, penjahit sering bekerja dengan mesin jahit yang menghasilkan suara berulang antara 70-80 dB. Meskipun tidak sekeras mesin industri, paparan suara ini selama berjam-jam setiap hari, selama bertahun-tahun, dapat menyebabkan kerusakan pendengaran bertahap. Penelitian di International Journal of Occupational Safety and Ergonomics (2020) menemukan bahwa pekerja tekstil, termasuk penjahit, memiliki risiko NIHL akibat paparan kebisingan rendah hingga sedang yang berkelanjutan.
Pekerja Kantoran
Pekerja kantoran sering menggunakan earphone untuk rapat daring, mendengarkan musik, atau panggilan telepon. Earphone dapat menghasilkan suara hingga 100-120 dB, setara dengan konser musik keras. Studi di BMJ Global Health (2022) menunjukkan bahwa 24% pekerja berusia 18-34 tahun menggunakan earphone pada volume yang tidak aman, meningkatkan risiko NIHL (Malang Raya, 2024). Selain itu, lingkungan kantor terbuka (open-plan office) sering kali bising karena percakapan, telepon, atau peralatan kantor, dengan tingkat kebisingan rata-rata 60-70 dB, yang dapat memperburuk risiko jika dikombinasikan dengan penggunaan earphone.
Pekerjaan Konstruksi dan Pengembangan Lahan
Pekerjaan konstruksi dan pengembangan lahan seringkali identik dengan kebisingan yang ekstrem. Para pekerja di sektor ini setiap hari terpapar suara bising dari berbagai alat berat. Contohnya seperti bor pneumatik yang menghasilkan suara hingga 120 desibel, dan jackhammer yang menghasilkan suara 115 desibel. Paparan suara dengan intensitas tinggi secara terus menerus dapat merusak sel-sel rambut halus di dalam koklea, organ yang bertanggung jawab untuk mengubah getaran suara menjadi sinyal listrik yang dikirim ke otak. Kerusakan pada sel-sel rambut ini bersifat permanen dan menyebabkan gangguan pendengaran.
Sebuah studi menunjukkan bahwa sekitar 73% pekerja konstruksi berisiko mengalami gangguan pendengaran atau bahkan tuli. Angka ini sangat mengkhawatirkan dan menunjukkan betapa pentingnya kesadaran akan perlindungan pendengaran di lingkungan kerja konstruksi. Oleh karena itu, penggunaan alat pelindung diri (APD) seperti earplug atau earmuff sangat penting bagi para pekerja konstruksi. APD ini dapat mengurangi intensitas suara yang masuk ke telinga dan melindungi sel-sel rambut dari kerusakan.
Anggota Kru Penerbangan dan Staf Bandara
Anggota kru penerbangan dan staf bandara juga termasuk dalam daftar pekerjaan yang berisiko tinggi terhadap masalah gangguan pendengaran. Mereka setiap hari terpapar suara bising dari mesin pesawat, lalu lintas bandara, dan berbagai peralatan lainnya.
Saat lepas landas, suara pesawat bisa mencapai lebih dari 130 desibel. Paparan suara dengan intensitas ini dapat menyebabkan kerusakan pada membran timpani (gendang telinga) dan organ koklea. Selain itu, lingkungan bandara yang bising secara konsisten (lebih dari 80 desibel) juga dapat berkontribusi terhadap gangguan pendengaran.
Kru penerbangan yang bekerja selama bertahun-tahun di lingkungan bising berpotensi mengalami gangguan pendengaran permanen. Kondisi ini tentu dapat memengaruhi kualitas hidup mereka dan bahkan mengancam karier mereka. Staf bandara yang bertugas di dekat landasan pacu atau area parkir pesawat juga memiliki risiko yang sama. Mereka terpapar suara mesin pesawat yang keras dan lalu lintas kendaraan bandara yang bising secara terus menerus.
Pekerja di Tempat Hiburan dan Manajer Tur
Tempat hiburan malam seperti klub dan bar seringkali memiliki volume musik yang sangat keras, bahkan bisa mencapai 115 desibel. Paparan suara dengan intensitas ini dapat merusak pendengaran dalam waktu singkat. Para pekerja di tempat hiburan, seperti bartender, pelayan, dan petugas keamanan, setiap malam terpapar suara bising yang ekstrem. Mereka berisiko mengalami gangguan pendengaran permanen jika tidak ada upaya perlindungan yang memadai.
Manajer tur yang sering mendampingi band atau artis juga memiliki risiko yang sama. Mereka terpapar suara musik yang keras selama konser dan pertunjukan, serta suara pengeras suara yang kuat. Oleh karena itu, penting bagi para pekerja di tempat hiburan dan manajer tur untuk menggunakan earplug atau earmuff saat bekerja. Selain itu, mereka juga perlu melakukan pemeriksaan pendengaran secara berkala untuk memantau kesehatan pendengaran mereka.
Chef
Siapa sangka, profesi chef atau juru masak juga memiliki risiko terhadap masalah gangguan pendengaran? Peralatan dapur seperti blender dan mesin pemotong daging menghasilkan suara bising yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran dalam jangka panjang. Meskipun suara yang dihasilkan oleh peralatan dapur mungkin tidak sekeras suara mesin konstruksi atau pesawat terbang, paparan suara bising secara terus menerus selama berjam-jam setiap hari dapat merusak pendengaran secara perlahan.
Selain itu, lingkungan dapur yang sibuk dan ramai juga dapat meningkatkan tingkat kebisingan. Suara peralatan masak, percakapan, dan musik latar belakang dapat berkontribusi terhadap paparan suara bising yang berlebihan. Oleh karena itu, para chef perlu menyadari risiko ini dan mengambil langkah-langkah untuk melindungi pendengaran mereka. Penggunaan earplug atau earmuff saat menggunakan peralatan dapur yang bising dapat membantu mengurangi risiko gangguan pendengaran.
Guru Sekolah
Guru sekolah, terutama guru di sekolah anak usia dini dan taman kanak-kanak, juga berisiko mengalami masalah gangguan pendengaran. Mereka setiap hari terpapar suara keras anak-anak dan musik selama waktu bermain dan belajar. Suara anak-anak yang berteriak, menangis, dan tertawa dapat mencapai tingkat kebisingan yang cukup tinggi. Paparan suara bising ini secara terus menerus dapat menyebabkan gangguan pendengaran pada guru sekolah.
Selain itu, penggunaan musik dan berbagai alat peraga yang menghasilkan suara bising juga dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran. Oleh karena itu, penting bagi guru sekolah untuk menyadari risiko ini dan mengambil langkah-langkah untuk melindungi pendengaran mereka. Mengurangi volume suara saat menggunakan alat peraga dan memberikan waktu istirahat yang cukup bagi telinga dapat membantu mengurangi risiko gangguan pendengaran pada guru sekolah.
Personel Militer
Personel militer seringkali terpapar suara keras dari pesawat terbang rendah, senapan mesin, dan peralatan mekanik lainnya. Suara-suara ini dapat mencapai tingkat kebisingan yang sangat tinggi, bahkan hingga 140 desibel. Paparan suara dengan intensitas ini dapat menyebabkan kerusakan gendang telinga yang permanen dan gangguan pendengaran. Oleh karena itu, personel militer wajib menggunakan APD yang sesuai untuk melindungi pendengaran mereka.
Selain itu, mereka juga perlu menjalani pemeriksaan pendengaran secara berkala untuk memantau kesehatan pendengaran mereka. Deteksi dini gangguan pendengaran sangat penting untuk mencegah kondisi ini berkembang menjadi lebih parah. Penting untuk diingat bahwa paparan suara keras secara terus-menerus, bahkan di luar pekerjaan, juga dapat menyebabkan gangguan pendengaran. Mendengarkan musik dengan volume tinggi melalui headphone atau earphone adalah salah satu contohnya.
Pentingnya Menjaga Kesehatan Pendengaran
Pendengaran yang baik sangat penting untuk mendukung kinerja optimal di tempat kerja. Dengan memahami pentingnya kesehatan telinga, kita dapat lebih termotivasi untuk menjaganya dengan baik.
Memahami penyebab masalah gangguan pendengaran dapat membantu kita lebih waspada dan proaktif dalam menjaga kesehatan telinga. Beberapa penyebab utama meliputi paparan kebisingan berlebihan, infeksi telinga, penumpukan serumen (kotoran telinga), penuaan, faktor genetik, dan cedera kepala atau telinga.
Kebisingan yang intens atau berkelanjutan dapat merusak sel-sel rambut di dalam koklea, menyebabkan gangguan pendengaran permanen. Sumber kebisingan berbahaya meliputi musik keras melalui headphone, mesin industri, konser musik atau acara olahraga, dan peralatan rumah tangga yang berisik.
Infeksi telinga, terutama yang berulang, dapat menyebabkan kerusakan pada struktur telinga. Penumpukan serumen yang berlebihan juga dapat menghalangi saluran telinga dan menyebabkan gangguan pendengaran sementara.
Penuaan adalah faktor alami yang dapat menyebabkan penurunan fungsi pendengaran. Faktor genetik juga dapat berperan dalam menentukan risiko seseorang mengalami gangguan pendengaran.
Cedera kepala atau telinga dapat merusak struktur telinga dan menyebabkan gangguan pendengaran. Oleh karena itu, penting untuk melindungi kepala dan telinga dari cedera.
Jika Anda mengalami gejala seperti telinga berdengung, kesulitan mendengar suara tertentu, atau kesulitan memahami percakapan, segera konsultasikan dengan dokter THT. Deteksi dini dan penanganan yang tepat dapat membantu mencegah gangguan pendengaran menjadi lebih parah.