Dengar Musik Terlalu Keras? Ini Risiko Cedera Bising dan Cara Mencegahnya
Terlalu sering menggunakan earphone dengan volume tinggi bisa sebabkan cedera bising. Kenali gejala, dampak jangka panjang, dan cara pencegahannya di sini.
Suara keras kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, baik dari kendaraan, konser, hingga penggunaan earphone. Tanpa disadari, kebiasaan ini bisa membahayakan kesehatan pendengaran. Salah satu dampaknya adalah cedera bising, kondisi yang dapat merusak fungsi telinga secara perlahan dan permanen.
Dr. dr. Fikri Mirza Putranto, Sp.THT-KL dari Rumah Sakit Universitas Indonesia, menegaskan, “Gejala awal bisa berupa telinga berdenging, rasa ‘kemeng’, seperti ketutup atau tertekan. Jika berlanjut, bisa menyebabkan kesulitan berkomunikasi,” ujarnya dalam diskusi daring.
Meski gejalanya kerap diabaikan, gangguan ini bisa mengganggu komunikasi, konsentrasi, dan bahkan kehidupan sosial seseorang. Maka dari itu, pemahaman tentang jenis cedera bising, gejalanya, serta upaya pencegahan sangat penting untuk melindungi kesehatan telinga sejak dini.
Jenis Cedera Bising dan Gejala yang Perlu Diwaspadai
Cedera bising terbagi menjadi dua jenis utama: cedera bising akut dan cedera bising kronik. Keduanya memiliki penyebab dan dampak yang berbeda, namun sama-sama merusak sistem pendengaran manusia.
1. Cedera Bising Akut
Cedera bising akut terjadi secara mendadak, biasanya disebabkan oleh suara sangat keras dalam waktu singkat seperti ledakan, bunyi tembakan, atau petasan yang meledak dekat telinga tanpa pelindung. Cedera semacam ini bisa langsung menyebabkan gangguan pendengaran, bahkan dalam satu kejadian saja. Sayangnya, banyak orang meremehkan potensi kerusakan akibat kejadian seperti ini.
2. Cedera Bising Kronik
Sementara itu, cedera bising kronik adalah bentuk kerusakan yang lebih sering terjadi di era digital saat ini. Cedera ini disebabkan oleh paparan suara keras dalam jangka panjang dan berulang, seperti kebiasaan mendengarkan musik dengan volume di atas 60 persen selama berjam-jam menggunakan earphone. “Telinga kehilangan kemampuan menyaring antara suara dan bising, akibatnya otak harus bekerja lebih keras,” jelas dr. Fikri. Ini menyebabkan penurunan kualitas pendengaran secara perlahan tanpa disadari.
Beberapa gejala cedera bising kronik yang umum antara lain:
- Telinga berdenging (tinitus)
- Rasa tidak nyaman atau nyeri setelah penggunaan earphone
- Kesulitan menyaring suara di lingkungan ramai, seperti di kelas atau kantor
- Penurunan konsentrasi
- Terganggunya kemampuan komunikasi dalam kelompok
Apabila dibiarkan, kondisi ini bisa memburuk dan berdampak pada aktivitas akademik, sosial, hingga profesional. Oleh karena itu, mengenali gejala sejak dini menjadi kunci pencegahan.
Dampak Jangka Panjang dan Pentingnya Pencegahan Sejak Muda
Cedera bising kronik yang terjadi sejak usia muda memiliki konsekuensi serius. Menurut dr. Fikri, gangguan ini dapat mempercepat penuaan jalur pendengaran, meskipun sering kali tidak langsung terdeteksi. “Biasanya baru disadari di usia 40 tahun ke atas,” jelasnya.
Kerusakan pendengaran yang tidak ditangani bisa memicu berbagai permasalahan sekunder. Orang dengan cedera bising kerap mengalami kesulitan menangkap percakapan di tempat ramai, merasa cepat lelah karena otak harus bekerja ekstra, hingga menarik diri dari interaksi sosial akibat tidak nyaman berkomunikasi. Lebih jauh lagi, gangguan ini dapat memicu stres, depresi, dan penurunan produktivitas kerja atau belajar.
Namun kabar baiknya, cedera bising bisa dicegah. Salah satu langkah pencegahan yang paling sederhana adalah menerapkan aturan 60:60—mengatur volume tidak lebih dari 60 persen, dan membatasi penggunaan earphone selama maksimal 60 menit, kemudian istirahat selama 5 menit. Kebiasaan ini membantu telinga ‘bernapas’ dan mencegah kelelahan pada saraf pendengaran.
Selain itu, menggunakan perangkat dengan fitur noise cancellation juga sangat disarankan. Teknologi ini memungkinkan pengguna mendengarkan audio dengan volume rendah di lingkungan yang bising, karena suara luar sudah diredam lebih dulu. Dengan demikian, tidak ada lagi kebutuhan untuk menaikkan volume hingga berlebihan.
Pentingnya Edukasi dan Kesadaran Kolektif
Cedera bising sering kali tidak dianggap serius karena efeknya tidak langsung terasa. Namun, ketika dampaknya sudah muncul, kerusakan yang terjadi bersifat permanen dan tidak dapat disembuhkan. Hal ini menegaskan bahwa edukasi menjadi langkah penting dalam pencegahan.
Edukasi mengenai bahaya cedera bising harus menyasar berbagai kalangan, terutama remaja dan dewasa muda yang merupakan pengguna aktif perangkat audio seperti earphone dan headphone. Sosialisasi bisa dilakukan melalui sekolah, media sosial, komunitas digital, bahkan dalam lingkungan kerja. Semakin banyak yang sadar akan risiko ini, semakin besar peluang untuk menekan angka penderita gangguan pendengaran dini.
Membangun budaya mendengar yang sehat perlu menjadi kebiasaan kolektif. Mengingat cedera bising kronik berkembang perlahan dan sering tidak disadari, maka langkah kecil seperti mengatur volume, memberi jeda mendengarkan, dan memilih perangkat audio yang aman sangat berarti dalam jangka panjang. Edukasi ini juga bisa memperkuat perhatian terhadap kesehatan pendengaran sebagai bagian dari gaya hidup modern yang seimbang.
Cedera bising memang tidak langsung terasa, tapi dampaknya bisa sangat besar jika dibiarkan. Dengan memahami risikonya dan menerapkan kebiasaan mendengar yang aman, seperti mengatur volume dan memberi waktu istirahat pada telinga, kita bisa menjaga pendengaran tetap sehat. Menjaga telinga sejak dini berarti menjaga kualitas hidup di masa depan.