Awas! Kebiasaan Sepele Ini Bisa Bikin Telinga Tuli Mendadak, Kok Bisa?
Telinga tuli mendadak bisa disebabkan oleh kebiasaan buruk yang sering dianggap sepele. Kenali penyebabnya dan lakukan pencegahan lebih dini.
Tuli mendadak atau sudden sensorineural hearing loss (SSHL) adalah kondisi hilangnya kemampuan pendengaran secara tiba-tiba. Kondisi ini bisa terjadi hanya pada satu telinga atau bahkan kedua telinga sekaligus. Meski seringkali dapat pulih dengan sendirinya dalam beberapa hari, kondisi ini tidak boleh disepelekan.
Kondisi ini terjadi akibat adanya gangguan pada saraf pendengaran. Saraf ini bertugas mengirimkan sinyal suara ke otak, sehingga gangguan pada saraf ini akan mempengaruhi kemampuan mendengar. Penting untuk mengetahui kebiasaan buruk apa saja yang dapat meningkatkan risiko terjadinya tuli mendadak.
Lalu, apa saja kebiasaan buruk yang bisa menyebabkan telinga tuli mendadak? Simak ulasan selengkapnya berikut ini.
Mengorek Telinga Terlalu Dalam
Mengorek telinga terlalu dalam adalah kebiasaan yang sering dianggap sepele, padahal sangat berbahaya bagi kesehatan telinga.
Kebiasaan ini dapat mendorong kotoran telinga (serumen) lebih dalam ke saluran telinga. Akibatnya, kotoran tersebut dapat menyumbat dan menutup gendang telinga.
Sumbatan kotoran telinga dapat menyebabkan penurunan pendengaran hingga tuli mendadak. Oleh karena itu, hindari mengorek telinga dengan benda apapun, termasuk cotton bud.
Jika merasa ada sumbatan di telinga, sebaiknya konsultasikan dengan dokter THT untuk penanganan yang tepat.
Dokter THT akan membersihkan telinga dengan alat khusus yang aman dan tidak merusak telinga. Membersihkan telinga sendiri dengan cara yang salah justru dapat memperburuk kondisi dan meningkatkan risiko infeksi. Jadi, jangan anggap remeh kebersihan telinga dan hindari mengorek telinga terlalu dalam.
Paparan Suara Keras
Paparan suara bising yang sangat keras dalam jangka waktu lama dapat merusak sel-sel rambut di telinga bagian dalam. Sel-sel rambut ini bertanggung jawab untuk mengirimkan sinyal suara ke otak. Kerusakan pada sel-sel rambut dapat menyebabkan penurunan pendengaran permanen, termasuk tuli mendadak.
Lingkungan kerja yang bising tanpa pelindung telinga merupakan salah satu faktor risiko utama. Pekerja di pabrik, konstruksi, atau tempat hiburan malam rentan mengalami masalah pendengaran akibat paparan suara keras. Oleh karena itu, penting untuk selalu menggunakan pelindung telinga jika bekerja di lingkungan bising.
Selain lingkungan kerja, kebiasaan mendengarkan musik dengan volume terlalu keras juga dapat merusak pendengaran. Gunakan earphone atau headphone dengan bijak dan atur volume suara agar tidak terlalu tinggi. Istirahatkan telinga secara berkala jika sering terpapar suara keras.
Infeksi dan Cedera Kepala
Infeksi virus seperti gondok, campak, rubela, meningitis, sifilis, dan AIDS dapat menyebabkan kerusakan pada telinga bagian dalam. Infeksi bakteri juga dapat menjadi penyebab tuli mendadak. Perawatan infeksi secara tepat waktu sangat penting untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.
Cedera kepala akibat benturan keras dapat menyebabkan dislokasi tulang telinga tengah, kerusakan saraf pendengaran, atau cedera langsung pada organ pendengaran. Kondisi ini dapat mengakibatkan tuli mendadak. Oleh karena itu, selalu berhati-hati dan gunakan alat pelindung kepala saat beraktivitas yang berisiko cedera.
Selain itu, perubahan tekanan yang drastis, seperti saat menyelam scuba atau naik pesawat terbang, dapat merusak gendang telinga atau struktur telinga lainnya. Jika Anda memiliki masalah dengan telinga, sebaiknya konsultasikan dengan dokter sebelum melakukan aktivitas yang melibatkan perubahan tekanan.
Penyakit dan Kondisi Medis Lainnya
Tumor di otak, khususnya di lobus parietal yang mengatur pendengaran, atau tumor di telinga dalam (akustik neuroma) dapat mengganggu fungsi pendengaran. Kondisi ini dapat menyebabkan tuli mendadak. Oleh karena itu, penting untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin untuk mendeteksi dini adanya tumor.
Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) atau penyakit asam lambung dapat menyebabkan isi lambung terpapar ke telinga tengah. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko kehilangan pendengaran. Penderita GERD perlu mengontrol kondisi mereka dengan baik untuk mencegah komplikasi pada telinga.
Migrain juga dapat menjadi faktor risiko tuli mendadak. Penderita migrain memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah pendengaran. Jika Anda sering mengalami migrain dan merasakan adanya gangguan pada pendengaran, segera konsultasikan dengan dokter.
Pencegahan dan Penanganan Tuli Mendadak
Jika Anda mengalami tuli mendadak, segera konsultasikan dengan dokter THT. Penanganan dini sangat penting untuk memaksimalkan peluang pemulihan pendengaran.
Dokter akan melakukan pemeriksaan untuk menentukan penyebab tuli mendadak dan memberikan pengobatan yang sesuai.
Selain itu, periksakan kesehatan telinga secara rutin minimal sekali setahun untuk deteksi dini masalah pendengaran. Menjaga pola hidup sehat, termasuk menjaga daya tahan tubuh dan mencegah infeksi saluran pernapasan atas, juga dapat membantu mencegah tuli mendadak.
Hindari kebiasaan buruk seperti mengorek telinga terlalu dalam dan mendengarkan musik dengan volume terlalu keras. Gunakan pelindung telinga jika bekerja di lingkungan bising. Dengan menjaga kesehatan telinga, Anda dapat mencegah tuli mendadak dan menikmati pendengaran yang sehat sepanjang hidup.