Waspada! Batas Hipertensi Kini Turun Jadi 130/80, Ini Penjelasannya
Tekanan darah yang lebih dari 130/80 kini sudah dianggap sebagai hipertensi, bukan hanya yang mencapai 140/90.
Definisi hipertensi atau tekanan darah tinggi telah mengalami perubahan. Sebelumnya, seseorang dianggap menderita tekanan darah tinggi jika angkanya mencapai 140/90. Namun, kini ambang batas tersebut diturunkan menjadi 130/80.
Ini berarti, individu yang memiliki tekanan darah di atas 130/80 sudah termasuk dalam kategori hipertensi.
"Sekarang definisi tekanan darah (tinggi) diturunkan, terakhir dari American Heart Association bukan lagi di atas 140/90. Sekarang tekanan darah (tinggi) di atas 130/80 saja pun sudah namanya darah tinggi," ungkap dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal hipertensi RS Grha Kedoya, Salim Lim, dalam seminar yang membahas tentang ginjal, hipertensi, dan penggunaan obat tradisional di RS Grha Kedoya, Jakarta Barat, pada Minggu (14/9).
Salim juga menekankan bahwa penurunan ambang batas ini sebesar 10 poin sangat penting, karena risiko untuk mengalami gagal ginjal dan penyakit jantung meningkat bahkan pada tekanan 140.
"Jadi diturunkan 10 poin, katanya memang kalau 140 pun risiko Anda untuk gagal ginjal, jantung, segala macam meningkat, tensi yang normal harusnya di bawah 130/80," tambahnya.
Ia juga mencatat bahwa banyak orang tidak menyadari mereka mengalami hipertensi, karena gejalanya sering kali tidak terlihat. "Nah kebanyakan orang tidak bisa merasakan kalau tensinya tinggi, bukan artinya kalau saya enggak sakit kepala, tensi saya enggak tinggi, kalau sakit kepala baru tinggi, enggak, itu enggak ada gejalanya," jelas Salim.
Hipertensi Tingkat Pertama
Menurut tabel kategori tekanan darah yang dirilis oleh American Heart Association, tekanan darah di atas 130/80 dikategorikan sebagai hipertensi tahap pertama.
Sementara itu, tekanan darah yang melebihi 140/90 masuk ke dalam kategori hipertensi tahap kedua. Hipertensi terjadi ketika tekanan darah yang mengalir ke dinding pembuluh darah berada pada tingkat yang terlalu tinggi. Kondisi ini dapat berpotensi menimbulkan masalah kesehatan serius, seperti serangan jantung dan stroke.
Hipertensi tidak mengenal batas usia dan dapat memengaruhi semua kelompok, mulai dari anak-anak hingga lansia. Di Amerika Serikat, hampir setengah dari populasi dewasa mengalami tekanan darah tinggi, dan banyak di antaranya yang tidak menyadari bahwa mereka mengidap kondisi ini.
Untuk mengetahui apakah seseorang mengalami tekanan darah tinggi, pemeriksaan tekanan darah secara rutin adalah langkah yang penting. Diagnosis hipertensi sebaiknya dilakukan oleh tenaga medis profesional, seperti yang diungkapkan dalam laman resmi American Heart Association.
Hipertensi dapat menyebabkan gangguan pada ginjal
Salim mengungkapkan bahwa hipertensi merupakan salah satu faktor yang dapat menyebabkan masalah pada ginjal. Oleh karena itu, salah satu langkah dalam terapi pengobatan ginjal adalah dengan mengontrol tekanan darah tinggi.
"Apa saja faktor risiko penyakit ginjal? Tekanan darah tinggi, diabetes, kolesterol, obesitas, penggunaan obat pereda nyeri, konsumsi obat tradisional (seperti jamu, herbal, dan obat China), riwayat keluarga, kurangnya asupan cairan, serta proteinuria (kebocoran ginjal)," jelas Salim.
Tekanan darah tinggi tidak hanya berfungsi sebagai faktor risiko untuk penyakit ginjal, tetapi juga dapat menjadi penyebab terjadinya gagal ginjal.
"Ada tiga penyebab utama gagal ginjal yang perlu kita ingat. Diabetes adalah penyebab nomor satu gagal ginjal di Indonesia dan di seluruh dunia, dengan persentase mencapai 40 persen. Penyebab kedua adalah hipertensi, yang menyumbang sekitar 25 persen, dan yang ketiga adalah glomerulonephritis, yang sering disebut sebagai ginjal bocor, dengan persentase sekitar 15 persen. Sementara itu, penyebab gagal ginjal lainnya, yang mencakup 20 persen, adalah batu ginjal, polikistik ginjal, efek samping obat-obatan, kanker, dan infeksi."
Gagal ginjal akibat hipertensi biasanya dialami oleh orang yang berusia 40 tahun ke atas
Penyebab gagal ginjal cenderung dipengaruhi oleh faktor usia. Umumnya, kondisi hipertensi dan diabetes menjadi pemicu gagal ginjal pada individu yang berusia di atas 40 tahun.
"Kalau diabetes dan hipertensi itu, gagal ginjal biasanya terjadi setelah umur 40 tahun ke atas karena itu lama (perkembangan penyakitnya) lima tahun, 10 tahun, 20 tahun baru ada gagal ginjal," ungkap Salim.
Selain itu, batu ginjal, polikistik ginjal, penggunaan obat-obatan tertentu, kanker, dan infeksi juga dapat menyebabkan gagal ginjal pada usia di atas 40 tahun.
Di sisi lain, glomerulonephritis atau ginjal bocor tidak mengenal batasan usia dalam memicu gagal ginjal; bahkan anak-anak pun dapat mengalaminya.
"Banyak pasien anak-anak juga gagal ginjal, anak-anak kecil juga udah cuci darah," jelasnya. Hal ini menunjukkan bahwa risiko gagal ginjal dapat terjadi pada berbagai kelompok usia, dan penting untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin untuk mendeteksi masalah ginjal sejak dini.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4144313/original/069822800_1662096788-Infografis_hipertensi.jpg)