Tips Dokter Jiwa Atasi Kecemasan Saat Scroll Berita Demo
Terlalu banyak mengonsumsi konten dan berita negatif tentang demonstrasi belakangan ini dapat menyebabkan gangguan kecemasan.
Dokter spesialis kedokteran jiwa, Lahargo Kembaren, memberikan beberapa saran untuk mengatur konsumsi media sosial (medsos) di tengah situasi unjuk rasa.
Hal ini sangat penting karena scrolling medsos secara berlebihan dapat memicu gangguan cemas atau anxiety.
Berikut adalah enam tips yang dapat diikuti:
Sadari Pola dan Pemicunya.
Catat saat-saat di mana Anda mulai melakukan doomscrolling, seperti ketika malam sebelum tidur atau saat merasa bosan. Kenali jenis konten yang dapat memicu emosi, seperti berita politik yang memanas, gosip selebriti, atau berita tentang bencana.
"Ingat, kesadaran adalah langkah pertama untuk memutus kebiasaan," ungkap Lahargo dalam keterangan tertulis yang dikutip pada Kamis (4/9).
Atur 'Pagar Digital'.
Batasi waktu penggunaan medsos dengan menggunakan timer, misalnya 15 hingga 20 menit setiap sesi. Manfaatkan fitur mute, unfollow, atau block untuk akun-akun yang dapat memicu kemarahan.
Buatlah feed Anda lebih sehat dengan mengikuti akun-akun yang bersifat edukatif, inspiratif, atau yang dapat membuat Anda tersenyum.
Cek Fakta Sebelum Bereaksi.
Lahargo juga merekomendasikan agar pengguna medsos menerapkan prinsip "cek fakta dulu, reaksi belakangan."
"Hindari langsung terpancing oleh judul clickbait—bacalah terlebih dahulu dan teliti sumbernya. Tunda komentar selama 10 detik dan tarik napas. Emosi sering kali mereda sebelum jempol Anda bergerak. Ingat, tidak semua yang viral itu benar, dan tidak semua yang benar perlu Anda komentari," tambah dokter yang berpraktik di RS. dr. H. Marzoeki Mahdi Bogor tersebut.
Jauhkan HP
Jauhkan ponsel dari tempat tidur dan meja makan. Setiap kali ada dorongan untuk scroll, sebaiknya berdiri, ambil minuman, atau lakukan peregangan sejenak.
Ubah kebiasaan scroll di malam hari menjadi membaca buku ringan atau mendengarkan musik yang menenangkan.
Isi Pikiran dengan Hal Positif
Carilah berita baik (good news), bukan hanya berita yang negatif. Latihlah rasa syukur setiap hari dengan mencatat tiga hal kecil yang membuatmu bahagia.
Lakukan aktivitas offline yang dapat meningkatkan suasana hati, seperti berbincang dengan teman, berkebun, atau berjalan santai.
Otak Butuh Damai
"Ingat: algoritma suka drama, tapi otakmu butuh damai. Platform digital dirancang untuk membuat kita betah (bahkan kalut). Jangan beri makan algoritma dengan mengklik konten provokatif secara berlebihan. Kamu yang memegang kendali, bukan algoritma."
Jika mengalami gangguan cemas (ansietas), segera konsultasikan kepada profesional kesehatan jiwa terdekat, seperti psikiater, perawat jiwa, psikolog, dokter umum yang terlatih, pekerja sosial, atau konselor agar segera mendapatkan bantuan.
Waspada tapi Tetap Tenang
Lahargo mengakui bahwa kondisi Indonesia saat ini tidak dalam keadaan baik. Banyak masyarakat yang menyaksikan situasi yang tidak diinginkan, mencemaskan, dan mengulang trauma masa lalu.
"Tontonan di TV, media sosial, dan media cetak sebagian besar berisi hal-hal yang tidak baik, menakutkan, dan membuat rasa tidak nyaman. Situasi ini sangat wajar memunculkan kecemasan yang dapat mengganggu kehidupan sehari-hari," ujarnya.
"Tetap waspada tapi tetap tenang," sarannya. Rasa cemas adalah reaksi emosional yang wajar yang disebabkan oleh situasi yang tidak diharapkan yang dianggap dapat menimbulkan bahaya.