Punya Tubuh Kurus Bukan Berarti Bebas Kolesterol dan Hipertensi, Waspada!
Penampilan fisik yang menarik tidak selalu mencerminkan kesehatan yang optimal termasuk potensi masalah kesehatan, seperti kolesterol tinggi atau hipertensi.
Seseorang yang memiliki bentuk tubuh normal atau bahkan kurus sering kali dianggap sehat dan bebas dari masalah kesehatan. Namun, anggapan ini tidak selalu benar.
"Shape (bentuk tubuh) yang terlihat bagus belum tentu merupakan indikator kesehatan yang baik," ujar dokter Levina Avissa dari Klinik Sirka, BSD. Vivi, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa tubuh kita terdiri dari lemak yang dapat diraba di bagian luar. Namun, ada jenis lemak lain yang juga penting untuk kesehatan, yaitu visceral fat atau lemak yang terletak di area perut. Meskipun tidak selalu tampak dari luar, keberadaan visceral fat dapat menjadi tanda bahaya karena dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan yang serius.
Menurut Vivi, "Visceral fat itu berbahaya ya karena itu penanda kegagalan dari metabolisme gula dan lemak." Seharusnya, lemak di dalam tubuh diubah menjadi energi yang digunakan sehari-hari. Ketika cadangan gula habis, tubuh seharusnya memanfaatkan lemak. Namun, pada individu dengan kondisi metabolisme yang tidak baik, lemak tersebut tidak dapat dipecah dengan efektif. "Lemak tidak dipakai otot. Sehingga lemak ada di pembuluh darah, hal ini menyebabkan darah menjadi kental, tensi naik (hipertensi)," jelas Vivi dalam konferensi pers peluncuran Klinik Sirka BSD minggu lalu.
Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap keberadaan visceral fat, meskipun bagian tubuh lainnya terlihat kurus. Bisa jadi saat melakukan medical check-up (MCU), hasil menunjukkan bahwa kadar LDL tinggi dan HDL rendah, yang menandakan adanya kolesterol tinggi.
Untuk mengetahui kondisi kesehatan secara menyeluruh, disarankan agar setiap orang melakukan pemeriksaan kesehatan atau medical check-up tanpa mempertimbangkan ukuran badan. Apakah seseorang kurus, memiliki berat badan normal, atau bahkan kelebihan berat badan, pemeriksaan MCU tetap penting dilakukan.
Mulai Lakukan Medical Check Up
Vivi menyatakan bahwa langkah awal yang dapat diambil adalah berkonsultasi dengan dokter. Selanjutnya, ia menyarankan untuk menyampaikan keinginan melakukan Medical Check-Up (MCU) serta masalah kesehatan yang dialami belakangan ini. "Kita harus cari akar masalah sebelum menjadi penyakit ya," ujar Vivi saat menjawab pertanyaan dari Liputan6.com. "Semakin cepat kita deteksi ada kelainan maka semakin mudah melakukan perbaikan," tambahnya. Sebagai seorang Medical Director Klinik Sirka, ia juga menekankan pentingnya melakukan MCU sejak usia dewasa, yaitu sekitar 18 tahun, dan merekomendasikan untuk melakukannya setidaknya sekali dalam setahun.
Apabila hasil pemeriksaan kesehatan menunjukkan adanya masalah seperti hipertensi, kolesterol tinggi, atau pre-diabetes, sangat penting untuk kembali berkonsultasi dengan dokter guna mendapatkan penanganan yang menyeluruh. "Tidak hanya treatment obat-obatan yang dilakukan dokter, tapi holistik ya mulai dari makanan diperbaiki, aktivitas fisik diperbaiki, stres dimanajemen dengan baik, tidur harus cukup ya. Itu faktor-faktor yang bisa dikendalikan," tutur Vivi.
Dalam situasi tersebut, pendekatan yang komprehensif diperlukan untuk mengatasi masalah kesehatan yang dihadapi. Dengan memperbaiki pola makan, meningkatkan aktivitas fisik, serta mengelola stres dan tidur yang cukup, individu dapat mengendalikan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap kesehatan mereka.
Pentingnya Pendekatan Holistik
Dalam kesempatan yang sama, Sirka, yang sebelumnya merupakan aplikasi kesehatan, kini telah membuka sebuah klinik di kawasan BSD, Tangerang. Klinik ini ditujukan untuk pasien yang mengalami masalah kesehatan, khususnya terkait penyakit metabolik, yang dapat mengganggu metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein, serta berpotensi menyebabkan berbagai penyakit seperti diabetes melitus tipe 2, obesitas, sindrom metabolik, dan penyakit kardiovaskular.
"Dari data Sirka setelah melayani lebih dari 25.000 pasien hingga 2024, kami menemukan lebih dari 60% pelanggan kami, memiliki gangguan metabolik. Untuk menjawab tantangan tersebut, Klinik Sirka hadir sebagai klinik metabolik pertama di Indonesia (1st metabolic clinic in Indonesia) dengan layanan holistik yang kini berbasis online dan offline," ungkap Rifanditto Adhikara, Chief Executive Officer Klinik Sirka. Klinik ini menawarkan kombinasi layanan konsultasi langsung di klinik, perawatan di rumah, serta pendampingan sehari-hari melalui aplikasi Sirka, sehingga perawatan yang diterima pasien menjadi lebih menyeluruh dan terintegrasi.
Pasien yang mengalami masalah seperti hipertensi tidak hanya akan mendapatkan pengobatan, tetapi juga akan didampingi dalam menyusun menu makanan dan panduan aktivitas fisik. "Setiap pasien akan memiliki satu ahli gizi yang bertanggung jawab. Jadi, jika dalam 10 hari mereka tidak menyukai rencana makan yang diberikan, mereka dapat berkonsultasi kembali hingga menemukan menu yang sesuai dengan selera mereka," jelas Vivi.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2878008/original/054745300_1565600209-Infografis_7_Jurus_Turunkan_Kolesterol-rev.jpg)