Penyakit Beriberi: Dari Penyebab hingga Cara Mencegah dan Mengobatinya
Sering kesemutan, lelah, dan tungkai bengkak bisa jadi gejala beriberi—penyakit akibat kekurangan vitamin B1 yang berisiko fatal.
Pernahkah Anda merasa sering lelah, kesemutan di kaki dan tangan, bahkan mengalami pembengkakan di tungkai tanpa sebab yang jelas? Bisa jadi itu adalah gejala dari beriberi, penyakit yang tampaknya sederhana namun bisa berdampak fatal jika dibiarkan. Beriberi adalah penyakit akibat kekurangan vitamin B1 (tiamin) yang berperan penting dalam metabolisme energi dan fungsi saraf.
Di zaman modern seperti sekarang, beriberi memang jarang terdengar, apalagi di negara yang memiliki akses mudah ke makanan bergizi. Namun, itu bukan berarti kita bebas dari ancaman penyakit ini. Beriberi masih mengintai kelompok tertentu seperti orang dengan gangguan pola makan, penderita alkoholisme, hingga ibu hamil dengan mual muntah berat. Bahkan, pasien pasca operasi bariatrik (penurunan berat badan) juga berisiko tinggi.
Ironisnya, beriberi sering kali tidak terdiagnosis dini karena gejalanya mirip dengan banyak penyakit lain. Padahal, jika tidak segera ditangani, beriberi bisa menyebabkan kerusakan permanen pada otak dan gagal jantung. Untuk itu, penting bagi kita mengenali gejala, memahami penyebab, dan mengetahui langkah pencegahan yang bisa dilakukan.
Jenis dan Gejala Beriberi yang Perlu Diwaspadai
Secara umum, beriberi terbagi menjadi dua jenis utama: beriberi basah (wet beriberi) dan beriberi kering (dry beriberi). Keduanya memiliki dampak yang berbeda pada tubuh, tergantung bagian organ mana yang terdampak.
Wet beriberi menyerang sistem jantung dan peredaran darah. Gejalanya antara lain sesak napas saat beraktivitas, terbangun karena kesulitan bernapas, detak jantung yang cepat, dan pembengkakan pada tungkai bawah. Bila tidak segera ditangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi gagal jantung yang mengancam nyawa.
Sementara itu, dry beriberi lebih banyak berdampak pada sistem saraf. Gejala umumnya meliputi penurunan fungsi otot, terutama di bagian kaki, kesemutan atau mati rasa pada tangan dan kaki, nyeri, kebingungan mental, gangguan berbicara, muntah, gerakan bola mata yang tidak terkendali, bahkan kelumpuhan.
Dalam kasus ekstrem, kekurangan vitamin B1 yang tidak ditangani bisa berkembang menjadi Wernicke-Korsakoff syndrome, suatu kondisi neurologis serius. Fase awal yang disebut ensefalopati Wernicke memengaruhi bagian otak seperti talamus dan hipotalamus dan dapat menyebabkan kebingungan, kehilangan koordinasi otot, serta gangguan pada gerakan mata (seperti penglihatan ganda atau nistagmus). Jika berlanjut ke tahap sindrom Korsakoff, maka terjadi kerusakan permanen pada area otak yang membentuk memori. Penderita bisa mengalami kehilangan ingatan, kesulitan membentuk ingatan baru, hingga halusinasi.
Penyebab dan Faktor Risiko Beriberi
Penyebab utama dari penyakit beriberi adalah kekurangan asupan vitamin B1 (tiamin). Tiamin merupakan vitamin larut air yang harus diperoleh dari makanan setiap hari karena tubuh tidak menyimpannya dalam jumlah besar. Kekurangan ini sering kali terjadi pada orang yang mengonsumsi beras putih atau karbohidrat olahan secara dominan, tanpa diimbangi dengan sumber nutrisi lain yang mengandung tiamin.
Di beberapa wilayah di dunia, termasuk beberapa negara berkembang, diet utama berbasis beras putih tidak diperkaya menjadi faktor risiko signifikan. Beras putih hanya mengandung sekitar 10% dari kadar tiamin yang ada dalam beras merah atau cokelat.
Namun, bukan hanya pola makan yang bisa menyebabkan beriberi. Beberapa kondisi medis juga meningkatkan risiko kekurangan vitamin B1, seperti:
- Penggunaan alkohol berlebihan, yang mengganggu penyerapan dan penyimpanan tiamin dalam tubuh.
- Penyakit AIDS
- Penderita hipertiroidisme
- Pasien hemodialisis (cuci darah)
- Diare berkepanjangan atau penggunaan diuretik jangka panjang
- Pasca operasi bariatrikIbu menyusui yang kekurangan tiamin dalam asupan harian
- Kanker, gangguan makan, diet ekstrem, atau penyakit usus inflamasi
Bahkan, beriberi genetik juga bisa terjadi, meskipun sangat jarang. Pada kasus ini, tubuh mengalami gangguan dalam menggunakan tiamin secara efektif, meskipun asupannya cukup.
Diagnosis dan Penanganan Beriberi
Karena gejalanya bervariasi dan bisa menyerupai penyakit lain, diagnosis beriberi memerlukan pemeriksaan menyeluruh oleh tenaga medis. Dokter biasanya akan melakukan tes darah dan urin untuk mengevaluasi kadar tiamin dalam tubuh. Selain itu, pemeriksaan neurologis dilakukan untuk menguji koordinasi, refleks, kemampuan berjalan, dan pergerakan mata.
Dalam kasus beriberi basah, pemeriksaan fisik seperti deteksi pembengkakan di tungkai atau detak jantung yang cepat juga menjadi indikasi penting. Diagnosis dini menjadi kunci penting karena pengobatan yang tepat dapat membalikkan kerusakan yang terjadi sebelum menjadi permanen.
Pengobatan utama beriberi adalah pemberian suplemen tiamin, baik dalam bentuk tablet, suntikan intramuskular, maupun infus intravena pada kasus berat. Pemulihan biasanya diawasi melalui tes lanjutan untuk memastikan bahwa tubuh telah menyerap vitamin B1 dengan baik.
Kabar baiknya, sebagian besar kasus beriberi yang didiagnosis dan ditangani lebih awal memiliki peluang pemulihan penuh, baik dari sisi jantung maupun saraf. Namun, jika sudah berkembang menjadi sindrom Korsakoff, kerusakan otak bersifat irreversibel dan bisa berdampak seumur hidup.
Cara Mencegah Beriberi: Mulai dari Piring Makan Anda
Pencegahan penyakit beriberi sangat bergantung pada pola makan yang bergizi dan seimbang. Pastikan asupan makanan harian Anda mencakup sumber tiamin alami seperti:
- Kacang-kacangan dan polong-polongan
- Biji-bijian dan kacang tanah
- Daging merah dan ikan
- Produk susu
- Sayuran hijau seperti bayam, asparagus, daun bit, dan kubis Brussel
- Sereal dan roti yang difortifikasi vitamin
Perlu diingat bahwa proses memasak dan pemrosesan makanan berlebihan bisa mengurangi kandungan tiamin secara signifikan. Oleh karena itu, hindari terlalu sering mengonsumsi makanan ultra-proses dan lebih pilih makanan segar dan alami.
Bagi bayi, pastikan susu formula yang digunakan sudah difortifikasi dengan vitamin B1 dan hanya gunakan produk dari produsen terpercaya. Ibu menyusui juga harus memastikan kebutuhan tiamin terpenuhi agar tidak menimbulkan defisiensi pada bayi yang disusuinya.
Orang dengan alkohol use disorder atau gangguan penyerapan nutrisi perlu melakukan pemeriksaan rutin untuk memantau kadar vitamin B1 mereka. Dokter bisa merekomendasikan suplemen tambahan bila diperlukan untuk mencegah terjadinya beriberi.
Jangan Remehkan Kekurangan Vitamin
Beriberi bukan sekadar penyakit zaman dahulu. Di tengah gaya hidup modern yang serba instan dan cenderung abai terhadap asupan gizi seimbang, penyakit ini bisa mengintai siapa saja. Jangan tunggu tubuh Anda memberi sinyal bahaya dalam bentuk kesemutan, kelumpuhan, atau sesak napas yang tak wajar.
Pencegahan selalu lebih baik daripada pengobatan. Dengan memastikan pola makan harian mencukupi kebutuhan vitamin B1, menjaga kesehatan usus, dan memperhatikan risiko pribadi seperti alkoholisme atau penyakit kronis, Anda sudah mengambil langkah penting untuk melindungi tubuh dari ancaman beriberi.
Kesehatan adalah investasi jangka panjang. Dan kadang, yang tampak sederhana seperti vitamin B1, justru memegang peran krusial dalam menjaga tubuh tetap berfungsi optimal. Jangan tunggu sampai telat.