Pasien Osteoarthritis yang Juga Alami Kolesterol dan Diabetes, Perlu Konsultaso Rutin dengan Dokter
Pengapuran dapat terjadi secara mandiri atau berkaitan dengan kondisi diabetes dan kolesterol.
Kondisi kesehatan yang menyertai, seperti kolesterol tinggi dan diabetes, dapat berpengaruh terhadap proses penyembuhan pasien yang mengalami pengapuran tulang dan sendi atau osteoarthritis. "Pengapuran bisa berdiri sendiri atau berhubungan dengan diabetes dan kolesterol. Kalau dia single aja, pengapuran, tidak ada faktor komorbid (penyerta) maka penyembuhan atau grade atau keparahan dari pengapuran itu bisa kita tolerir, biasanya enggak seberapa parah," ungkap dokter spesialis ortopedi dan traumatologi di RS EMC Alam Sutera, Albert Gandakusuma, saat diwawancarai oleh Health Liputan6.com.
Di sisi lain, apabila pasien memiliki diabetes atau kolesterol, mereka perlu menjaga kondisi kesehatan tersebut setelah menjalani operasi sendi. "Karena, diabet itu kalau gulanya terlalu tinggi lukanya enggak mau kering, kualitas pembuluh darahnya juga kurang bagus kalau pada pasien kolesterol," jelas Albert. Dengan kata lain, Albert menambahkan, jika pasien hanya mengalami pengapuran tanpa penyakit penyerta, harapan untuk sembuh akan lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang memiliki kondisi kesehatan tambahan seperti diabetes dan kolesterol.
"Kalau ada underline disease seperti diabet dan kolesterol itu harus lebih hati-hati. Prinsipnya, orang diabet atau kolesterol harus tetap menjaga setelah tindakan pada osteoarthritisnya, entah itu operasi atau obat-obatan. Kalau tidak dijaga, ya akan membahayakan pengapurannya secara tidak langsung," papar Albert.
Kelebihan Berat Badan Bisa Memengaruhi Sendi Lutut
Selain kolesterol dan diabetes, obesitas atau kelebihan berat badan juga merupakan faktor yang dapat berdampak negatif pada kesehatan tulang dan sendi, terutama pada lutut.
"Berat badan atau obesitas itu mengambil peranan yang besar sekali (pada lutut)," ungkap Albert.
Melakukan operasi pengapuran sendi dan tulang pada individu yang mengalami obesitas tidak selalu menjadi solusi yang efektif. Pasien perlu mulai mengontrol berat badan mereka serta aktif bergerak sesuai dengan saran dokter. Sebagaimana kita ketahui, kelebihan berat badan memberikan beban tambahan pada lutut yang berfungsi menopang tubuh. "Bukan berarti orang gemuk dioperasi lututnya terus ya udah berat badannya (tetap) segitu. Semakin dia gemuk, dia enggak gerak, maka aus untuk implannya semakin cepat," jelasnya.
Masalah Lutut Biasanya Disertai Rasa Nyeri Ringan
Albert menjelaskan bahwa gejala yang berkaitan dengan masalah lutut seringkali ditandai dengan rasa nyeri. Nyeri ini biasanya dimulai dari tingkat yang ringan. "Nyeri itu kadang-kadang dimulai dengan ringan-ringan saja, bangun tidur terasa kakinya kaku, mau melangkah pertama kali tuh sakit rasanya. Setelah berjalan beberapa saat, nyerinya berkurang pelan-pelan, aktivitas sehari-harinya belum terganggu." Dia menambahkan, "Kemudian, sore harinya, setelah bekerja banyak mulai terasa kembali lututnya. Sama juga keluhannya, kaku dan nyeri, itu yang permulaan," jelas Albert.
Seiring berjalannya waktu, Albert menyebutkan bahwa nyeri lutut ini akan semakin meningkat dan menjadi lebih parah. Jika sebelumnya hanya memerlukan waktu sebentar untuk bisa berjalan kembali di pagi hari, kini waktu yang dibutuhkan menjadi lebih lama. "Lama-lama nyerinya akan meningkat, lama-lama nyerinya terus-menerus. Mulai ada gangguan, gangguan melangkah, gangguan naik turun tangga, gangguan jongkok, mau shalat susah, berlutut juga susah, begitu step-step-nya, sampai lama-lama, gerak pun terbatas." Jika gejala ini sudah muncul, Albert sangat menyarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter. "Sebelum terlambat, sebelum sampai harus diperbaiki," imbau Albert.
Albert menjelaskan bahwa masalah pada lutut terbagi menjadi empat tingkat. Tingkat pertama dianggap ringan, sedangkan tingkat empat merupakan yang paling parah. "Grade (tingkat) empat itu artinya tulang rawannya sudah habis, sudah bone to bone, tulangnya sudah menempel sama sekali. Nah kalau begitu kita sudah tidak bisa memperbaiki. Seperti mobil, bannya sudah habis, kita enggak bisa apa-apakan lagi, kita bisa ganti dengan ban yang baru," ungkapnya. Bagian lutut yang mengalami masalah dapat diganti dengan implan untuk menciptakan sendi baru.
"Jadi bukan tulangnya yang diganti, banyak orang berpikir itu lututnya diganti semuanya, bukan, bukan tulang, enggak semuanya diganti. Sudah tidak perlu mengganti tempurungnya, yang diganti adalah sendinya. Semakin sedikit sendi yang diganti, semakin nyaman lututnya seperti aslinya," jelas Albert. Proses penggantian sendi kini tidak hanya dilakukan dengan metode konvensional, tetapi juga dapat menggunakan bantuan robot, yang dikenal sebagai robotic surgical assistant. Robot ini berfungsi sebagai alat navigasi dalam prosedur penggantian sendi lutut.
Walaupun robot tidak sepenuhnya menggantikan peran dokter, alat ini dapat membantu dokter dalam menjalankan tugasnya dengan lebih efisien. Sebelum proses pemotongan tulang dilakukan, robot akan memberikan rekomendasi, misalnya sebaiknya pemotongan dilakukan sebanyak 9mm atau 10mm. "Tapi semua itu kita (dokter) yang menentukan, di sini pengalaman penting, kalau tidak punya pengalaman, tidak punya basis yang baik tentu saja akan ikut terus apa yang dia (robot) bilang," tutupnya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/703825/original/Cedera-Tulang-Belakang-Neymar-1-140707.jpg)