Mengapa Bayi Punya Lebih Banyak Tulang dari Orang Dewasa?
Bayi memiliki tulang lebih banyak dari orang dewasa karena tulang bayi masih berupa tulang rawan yang akan menyatu seiring pertumbuhan.
Pernahkah Anda bertanya-tanya mengapa bayi yang baru lahir memiliki jumlah tulang yang lebih banyak dibandingkan orang dewasa? Bayi lahir dengan sekitar 300 tulang, sementara orang dewasa hanya memiliki 206 tulang. Jumlah tulang yang lebih banyak pada bayi ini memungkinkan mereka lebih fleksibel saat melewati jalan lahir.
Hal ini disebabkan karena sebagian besar tulang bayi masih berupa tulang rawan (kartilago), yaitu jaringan ikat yang kuat namun fleksibel. Tulang rawan ini belum sepenuhnya mengeras dan menyatu seperti tulang orang dewasa. Proses pengerasan dan penyatuan tulang rawan ini disebut osifikasi.
Lantas, apa yang menyebabkan bayi memiliki tulang yang lebih banyak dari orang dewasa? Berikut adalah beberapa penyebabnya:
Tulang Rawan yang Belum Menyatu
Banyak tulang pada bayi masih berupa tulang rawan yang terpisah-pisah. Seiring pertumbuhan, tulang rawan ini akan mengalami osifikasi, menyatu, dan membentuk tulang yang lebih keras dan lebih sedikit jumlahnya. Tengkorak bayi terdiri dari beberapa bagian tulang yang terpisah, yang kemudian menyatu seiring pertumbuhan.
Menurut Harvey Karp, dokter anak bersertifikat dan pendiri Happiest Baby, bayi baru lahir memiliki sekitar 300 tulang. Jumlah ini hampir 100 lebih banyak dari jumlah tulang orang dewasa. Karp menambahkan bahwa fleksibilitas ini sangat penting agar bayi dapat melewati jalan lahir dengan lebih mudah.
Lauren Hyer, seorang ahli bedah ortopedi anak di Shriners Children’s, menjelaskan bahwa secara teknis, bayi memiliki 206 tulang yang sama dengan orang dewasa. Akan tetapi, tulang-tulang tersebut belum menyatu sepenuhnya. Hal inilah yang membuat jumlah tulang pada bayi tampak lebih banyak.
Proses Osifikasi
Proses osifikasi dimulai sejak minggu kedelapan perkembangan embrio dan berlanjut hingga masa kanak-kanak. Proses ini melibatkan pembentukan tulang sejati dari tulang rawan, dan penyatuan beberapa tulang kecil menjadi tulang yang lebih besar. Proses ini terus berlanjut hingga usia sekitar 20 tahun.
“Bayi dan anak-anak selalu tumbuh, tetapi ada saat-saat ketika laju pertumbuhan dipercepat dan ada saat-saat ketika kurang aktif,” kata Dr. Hyer. “Bayi yang baru lahir dan bayi tumbuh lebih cepat daripada tahap perkembangan lainnya.”
Karp menjelaskan bahwa pembentukan tulang pada bayi adalah proses penggantian. Saat bayi tumbuh, tulang rawan perlahan digantikan oleh tulang. Pembuluh darah kecil di seluruh tubuh bekerja untuk mengantarkan darah ke osteoblas, yaitu sel yang menciptakan tulang yang akan menutupi dan menggantikan tulang rawan.
Fleksibilitas Tulang Bayi
Tulang rawan yang lentur pada bayi memungkinkan mereka untuk melewati saluran lahir dan beradaptasi dengan ruang terbatas di dalam rahim. Kelenturan ini juga membantu bayi bergerak dengan bebas. Struktur tulang yang lebih banyak juga mendukung pertumbuhan dan adaptasi yang pesat pada masa awal kehidupan.
Menurut Karp, sebagian besar orang tua familiar dengan kelenturan tulang bayi berkat titik lunak di tengkorak bayi baru lahir, yang disebut fontanel. Titik lunak ini adalah ruang antara tulang-tulang bayi yang belum sepenuhnya terbentuk. Hal ini memungkinkan tengkorak bayi untuk melewati jalan lahir.
“Saat bayi Anda terus berkembang, pertumbuhan tulang sangat terkonsentrasi di ujung banyak tulang, tempat lempeng pertumbuhan berada,” kata Karp. “Ketika anak Anda akhirnya berhenti tumbuh, lempeng pertumbuhannya menutup. Perkembangan tulang bergantung pada banyak faktor, termasuk genetika, hormon, olahraga, dan diet.”
Menjaga Kesehatan Tulang Anak
Untuk menjaga kesehatan tulang anak, Anda perlu memulai dengan fondasi yang kuat, yaitu kalsium dan vitamin D. Hampir semua kalsium dalam tubuh anak Anda disimpan di tulang dan gigi mereka. Karena tubuh mereka tidak memproduksi kalsium sendiri, mereka perlu mendapatkannya setiap hari dari makanan dan minuman.
Vitamin D sangat penting karena meningkatkan penyerapan kalsium. Bayi mendapatkan semua kalsium yang mereka butuhkan dari ASI atau susu formula. Bayi yang diberi ASI—bahkan bayi yang diberi ASI sebagian—membutuhkan suplemen vitamin D segera setelah lahir agar kalsium dapat bekerja.
Setelah anak Anda mulai makan makanan padat, penting bagi mereka untuk terus mendapatkan kalsium dan vitamin D yang cukup melalui diet seimbang. Anda dapat memilih berbagai macam makanan kaya kalsium dan diperkaya vitamin D seperti yogurt, keju, tahu, salmon kalengan, kuning telur, dan kacang-kacangan.
“Beberapa menit sinar matahari langsung pada kulit yang tidak tertutup membantu memicu reaksi untuk mengubah prekursor menjadi vitamin D menjadi bentuk aktifnya,” kata Hyer. “Aktivitas fisik juga membantu membangun kekuatan tulang pada anak-anak. Tulang akan beradaptasi dengan tekanan atau tuntutan yang diberikan padanya, jadi semakin aktif seorang anak bermain, berlari, dan melompat, semakin kuat tulang yang mereka bangun.”