Trivia Kesehatan: Kepadatan Tulang Anak Adalah 'Tabungan' Emas Cegah Osteoporosis
Dokter spesialis anak mengungkapkan bahwa menjaga kepadatan tulang anak sejak dini adalah investasi penting untuk mencegah osteoporosis di kemudian hari, sebuah 'tabungan' emas yang patut diperhatikan.
Jakarta, 21 Oktober — Dokter spesialis anak konsultan endokrinologi, dr. Frida Soesanti, SpA, Subs Endo(K), PhD, menegaskan pentingnya mengoptimalkan kepadatan tulang pada anak dan remaja. Langkah ini merupakan strategi krusial untuk mencegah osteoporosis atau tulang rapuh di kemudian hari, baik pada masa anak-anak, remaja, maupun saat usia lanjut.
Dalam sebuah diskusi kesehatan daring di Jakarta pada hari Selasa, dr. Frida menjelaskan bahwa masa pertumbuhan anak adalah periode vital untuk membangun tulang yang padat secara optimal. Kepadatan tulang yang baik di usia muda berfungsi sebagai 'tabungan' yang akan menopang kesehatan tulang sepanjang hidup, mengurangi risiko patah tulang di masa depan.
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Endokrinologi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini menambahkan, tulang anak memiliki lempeng pertumbuhan atau growth plate yang menentukan potensi tinggi badan. Jika lempeng ini sudah menutup, pertumbuhan tinggi badan akan berhenti, sehingga optimalisasi kepadatan tulang harus dilakukan sebelum lempeng tersebut menutup sepenuhnya.
Proses Pembentukan dan Perubahan Tulang pada Anak
Dr. Frida Soesanti menjelaskan bahwa tulang pada anak mengalami dua proses penting, yaitu modeling dan remodeling. Proses modeling adalah fase di mana tulang bertumbuh, baik bertambah panjang maupun bertambah tebal, yang merupakan karakteristik utama pertumbuhan pada anak-anak dan remaja.
Sementara itu, proses remodeling adalah pergantian jaringan tulang lama dengan jaringan tulang baru yang lebih segar. Proses ini terjadi secara terus-menerus sepanjang hidup, bahkan pada orang dewasa, untuk menjaga kekuatan dan integritas tulang.
Kepala Divisi Endokrinologi Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta ini mengibaratkan tulang sebagai sebuah rumah. Bagian mineral seperti kalsium dan fosfat adalah 'batu bata', sedangkan kolagen adalah 'semen' yang merekatkan. "Bayangkan kalau rumah kita cuma batu batanya ditumpuk aja kena angin roboh, supaya kuat maka batu batanya perlu direkatkan satu sama lain dengan menggunakan kolagen. Begitu juga dengan tulang kita," imbuhnya.
Selain bertumbuh panjang dan tebal, tulang juga mengalami peningkatan densitas atau kepadatannya. Peningkatan kepadatan tulang paling tinggi terjadi pada masa remaja, dan puncak kepadatan tulang umumnya dicapai sekitar usia 20-30 tahun, sebelum akhirnya menurun secara alami.
Faktor Kunci Penentu Kepadatan Tulang Optimal
Kepadatan tulang dipengaruhi oleh berbagai faktor, beberapa di antaranya tidak dapat dimodifikasi seperti genetik. Namun, banyak faktor lain yang dapat diperbaiki dan dioptimalkan untuk mendukung kepadatan tulang anak.
Salah satu faktor penting adalah pengaruh hormon, terutama saat remaja. "Peningkatan kepadatan tulang yang paling tinggi itu saat remaja, hormon estrogen pada anak perempuan dan hormon testosteron pada anak laki-laki. Kedua, hormon ini merupakan antiosteoporotik yang paling kuat," jelas dr. Frida. Memastikan anak mengalami pubertas yang normal sangat esensial.
Selain hormon, aktivitas fisik seperti olahraga juga berperan besar. Olahraga memberikan tekanan mekanik (mechanical force) yang membantu meningkatkan kekuatan tulang. Untuk anak-anak dan remaja, olahraga yang dianjurkan adalah yang memberikan beban repetitif pada tulang dan otot, seperti lari, yang memberikan beban dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Nutrisi juga merupakan pilar utama dalam membangun kepadatan tulang. Nutrisi yang berperan meliputi makronutrien seperti karbohidrat dan protein, serta mikronutrien penting seperti vitamin D, kalsium, magnesium, dan zinc. Dr. Frida menekankan pentingnya menjaga berat badan anak agar tidak terlalu gemuk atau terlalu kurus untuk mendukung penyerapan nutrisi optimal.
Mengenal Osteoporosis pada Anak: Primer dan Sekunder
Dr. Frida Soesanti menjelaskan bahwa osteoporosis pada anak terbagi menjadi dua jenis utama: primer dan sekunder. Osteoporosis primer disebabkan oleh kelainan bawaan atau genetik, dengan kondisi paling sering dikenal sebagai osteogenesis imperfecta (OI).
Sementara itu, osteoporosis sekunder pada anak dapat terjadi akibat penyakit tertentu. Beberapa contoh kondisi yang dapat menyebabkan osteoporosis sekunder meliputi leukemia, rheumatoid arthritis, penyakit ginjal, dan kelainan endokrin seperti terlambat pubertas.
Tanda-tanda yang perlu dicurigai sebagai osteogenesis imperfecta (OI) dapat terlihat sejak dalam kandungan melalui USG, di mana tulang anak mungkin mengalami patah. "Begitu lahir, akan kelihatan juga tulangnya lebih bengkok-bengkok," tutur dr. Frida.
Selain itu, riwayat keluarga dengan kondisi serupa, anak bertubuh pendek, atau tungkai dan lengan yang bengkok-bengkok juga bisa menjadi indikasi OI. Deteksi dini dan penanganan yang tepat sangat penting untuk mengelola kondisi ini.
Sumber: AntaraNews