Ketika Jamu Masuk BPJS: Langkah Nyata Indonesia Menuju Kemandirian Obat Tradisional
Jamu bukan lagi sekadar warisan, tapi simbol masa depan kesehatan Indonesia yang berbasis kearifan lokal dan bukti ilmiah.
Jamu bukan lagi sekadar minuman warisan nenek moyang. Kini, ramuan tradisional ini sedang naik daun dan mulai dilirik sebagai bagian dari masa depan kesehatan Indonesia. Hal ini ditegaskan oleh Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM, Mohamad Kashuri, dalam peringatan Hari Jamu Nasional 2025.
Menurutnya, jamu memiliki potensi besar sebagai obat tradisional yang didukung oleh penelitian ilmiah. “Jamu tidak sekadar ramuan, tetapi juga cerminan budaya yang diwariskan turun-temurun. Kini, semakin banyak jurnal ilmiah dan seminar yang membahasnya sebagai potensi besar obat tradisional,” ujarnya.
Pernyataan ini memperkuat keyakinan bahwa jamu bisa menjadi solusi kesehatan yang lebih terjangkau, alami, dan juga membanggakan sebagai produk asli Indonesia. Tapi agar bisa benar-benar dimanfaatkan secara luas, jamu perlu melalui berbagai tahapan pengembangan—dari uji klinik, legalitas, hingga masuk dalam layanan kesehatan nasional.
Jamu Tidak Hanya Tradisi, Tapi Bisa Jadi Obat Masa Kini
Selama ini, jamu sering dianggap sebagai minuman tradisional untuk kebugaran. Padahal, banyak bahan jamu yang terbukti punya efek kesehatan, seperti kunyit untuk radang, temulawak untuk liver, atau jahe untuk pencernaan.
Namun agar bisa disebut obat secara resmi, jamu harus melalui proses uji ilmiah, termasuk uji praklinik di laboratorium dan uji klinik pada manusia. Jika lolos, jamu bisa masuk ke dalam kategori fitofarmaka, yaitu obat herbal yang setara dengan obat modern dan bisa diresepkan dokter.
BPOM juga mencatat adanya peningkatan minat masyarakat terhadap jamu. Gaya hidup kembali ke alam (back to nature) membuat banyak orang mencari alternatif pengobatan yang lebih alami dan minim efek samping.
Dukungan Pemerintah dan Peran BPOM
Untuk mendukung perkembangan jamu, pemerintah telah mengeluarkan berbagai regulasi, termasuk Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan dan Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024.
Melalui peraturan ini, jamu kini punya peluang untuk masuk ke dalam sistem kesehatan nasional. Bahkan, ada wacana agar jamu bisa ditanggung BPJS Kesehatan melalui revisi Formularium Nasional (Fornas). Artinya, masyarakat bisa mendapatkan pengobatan jamu secara gratis di puskesmas atau rumah sakit.
BPOM juga mendampingi para produsen jamu dalam proses uji klinik agar sesuai standar. “Kami tidak hanya mendampingi, tetapi juga membantu agar uji klinik berjalan sesuai standar. Banyak produk gagal dipasarkan karena uji kliniknya tidak sesuai prosedur,” kata Kashuri.
Kolaborasi Lintas Sektor dan Dukungan Bagi Industri
Pengembangan jamu bukan hanya tanggung jawab pemerintah. BPOM mengajak kolaborasi berbagai pihak, seperti organisasi dokter, akademisi, dan pelaku industri. Tujuannya adalah menggabungkan ilmu kedokteran modern dengan kekayaan alam Indonesia.
Pemerintah juga ingin menumbuhkan semangat generasi muda terhadap dunia jamu dengan menyusun kurikulum pendidikan obat tradisional. Hal ini agar mahasiswa di bidang kesehatan lebih paham soal tanaman obat, cara mengolahnya, hingga bagaimana jamu bisa digunakan secara ilmiah.
Bagi industri, pemerintah mendorong pemberian insentif bagi yang melakukan riset dan uji klinik. Langkah ini penting agar jamu Indonesia bisa bersaing di pasar global dan menjadi bagian dari diplomasi kesehatan Indonesia.
Langkah Strategis untuk Memajukan Jamu Indonesia
Agar jamu bisa naik kelas, ada beberapa strategi penting yang perlu dilakukan:
1. Standarisasi bahan baku
Produsen jamu harus memastikan bahwa tanaman yang digunakan—seperti kunyit, jahe, dan temulawak—memiliki mutu dan kadar zat aktif yang stabil. Beberapa produsen bahkan mulai menggunakan sistem digital untuk melacak asal-usul tanaman agar lebih terpercaya.
2. Uji klinik di rumah sakit pendidikan
Uji klinik sangat penting agar jamu bisa diakui sebagai obat yang aman dan manjur. Rumah sakit yang bekerja sama dengan universitas kini mulai membuka jalur uji klinik untuk jamu, terutama bagi pasien dengan penyakit kronis.
3. Inovasi bentuk jamu modern
Supaya lebih praktis dan efektif, jamu tidak lagi hanya berupa seduhan, tetapi dikembangkan menjadi kapsul, tablet, atau bahkan suplemen cair. Beberapa inovasi menggunakan teknologi nano untuk meningkatkan penyerapan zat aktif di tubuh.
Dampak Positif Bagi Kesehatan dan Ekonomi
Dengan masuknya jamu ke dalam sistem kesehatan nasional, biaya pengobatan bisa lebih ringan. Penelitian juga menunjukkan bahwa pasien yang menjalani terapi kombinasi (jamu dan obat modern) cenderung lebih disiplin dan merasa lebih nyaman karena merasa dekat dengan budaya sendiri.
Selain itu, industri jamu berpotensi menyerap banyak tenaga kerja, mulai dari petani tanaman obat hingga tenaga produksi dan distribusi. Dengan semakin banyaknya jamu yang diekspor, perekonomian lokal pun ikut terangkat.
Kini saatnya kita melihat jamu bukan hanya sebagai minuman warisan, tetapi sebagai bagian dari solusi kesehatan yang berkelanjutan dan membanggakan. Dukungan pemerintah, riset ilmiah, dan kolaborasi berbagai pihak telah membuka jalan bagi jamu untuk tampil sebagai produk herbal unggulan. Jika semua elemen bergerak bersama, jamu Indonesia tak hanya akan memperkuat sistem kesehatan dalam negeri, tetapi juga menjadi duta budaya dan kesehatan di panggung dunia.