Ketiadaan Sosok Ayah Picu Anak Alami Krisis Moral dan Kepercayaan Diri
Kehilangan sosok ayah merupakan sebuah duka mendalam bagi keluarga, sehingga gereja Katolik menekankan betapa pentingnya peran seorang ayah.
Ketua Komisi Keluarga Keuskupan Larantuka, Romo Bernardus Belawa Wara, menyatakan bahwa fenomena fatherless atau ketiadaan sosok ayah merupakan masalah serius bagi keluarga. Ia menegaskan, "Fatherless atau ketidakhadiran ayah adalah luka serius bagi keluarga.
Anak yang tumbuh tanpa bimbingan ayah rentan kehilangan arah, jatuh dalam kecemasan, depresi, bahkan krisis moral dan iman," dalam acara Bimbingan Teknis Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) Berbasis Agama Katolik yang berlangsung pada Selasa (30/9) di Aula Eltari Kupang, NTT.
Romo Ben, sapaan akrabnya, mengingatkan bahwa menjadi ayah adalah sebuah panggilan yang berlangsung seumur hidup.
"Menjadi ayah bukan sekadar hadir secara fisik, tetapi juga hadir dengan hati, doa, teladan, dan kasih. Anak membutuhkan sosok ayah yang tidak hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pemimpin rohani dalam keluarga," ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran ayah di era digital dan Society 5.0, di mana ayah diharapkan terlibat dalam kehidupan anak-anaknya, baik di dunia nyata maupun dunia maya.
“Hadirlah, fokuslah, dan bersukacitalah dalam kebersamaan dengan anak-anakmu,” imbuhnya dalam acara yang diselenggarakan oleh Direktorat Bina Ketahanan Remaja, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN, bekerja sama dengan Ditjen Bimas Katolik Kementerian Agama RI.
Kegiatan bimbingan teknis ini dihadiri oleh 250 penyuluh dan tokoh agama Katolik dengan tujuan untuk memperkuat pemahaman tentang pentingnya peran ayah dalam keluarga Katolik. Dr. Faizal Fahmi, M. Kes., Kepala Perwakilan BKKBN NTT, juga turut hadir dalam acara tersebut.
Acara dibuka dengan sambutan dari Plt. Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi NTT, H. Ishak Sulaiman, S.Ag., yang menegaskan bahwa kehadiran ayah adalah kunci untuk mencapai keseimbangan dalam keluarga. Ia juga menyampaikan bahwa sosok ayah merupakan teladan kasih Allah serta panggilan iman yang nyata bagi Gereja Katolik.
Keluarga berfungsi sebagai Ecclesia Domestica
Direktur Urusan Agama Katolik Ditjen Bimas Katolik, Kemenag RI, Dr. Salman Habeahan, S.Ag, MM, memberikan pengantar dalam kegiatan tersebut dengan menekankan pentingnya GATI dalam konteks ajaran gereja. Ia mendorong para tokoh agama untuk berperan sebagai agen perubahan bagi keluarga.
"GATI sejalan dengan ajaran gereja yang menempatkan keluarga sebagai 'ecclesia domestica' atau gereja kecil di tengah masyarakat," ujarnya.
Dalam sesi penyampaian materi, Cikik Sikmiyati yang mewakili Direktur Bina Ketahanan Remaja Kemendukbangga/BKKBN, menjelaskan tentang konsep dan pelaksanaan GATI.
Ia menyoroti masalah fenomena anak tanpa ayah di Indonesia, di mana 20,9 persen anak mengalami tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah (UNICEF, 2021). Hal ini berdampak pada kesehatan mental, prestasi akademik, serta meningkatkan risiko perilaku remaja.
"Data menunjukkan 1 dari 5 anak Indonesia tumbuh tanpa kehadiran ayah. Ini bukan hanya angka, tetapi wajah nyata anak-anak yang kehilangan bimbingan dan kasih dari figur ayah," kata Cikik.
Hadapi setiap tantangan zaman dengan penuh iman
Cikik menekankan bahwa kehadiran ayah dalam proses pengasuhan merupakan suatu keharusan, bukan sekadar pilihan. Anak-anak yang mendapatkan dukungan dari ayah cenderung tumbuh dengan rasa percaya diri yang tinggi, kemandirian, serta kemampuan bersaing yang baik. GATI, lanjutnya, hadir untuk mendorong para ayah agar aktif berpartisipasi dalam berbagai aspek kehidupan anak, mulai dari kegiatan bermain, belajar, hingga berdoa bersama.
"Kami yakin, ayah yang terlibat secara aktif akan menghasilkan generasi yang luar biasa, generasi yang siap menghadapi tantangan zaman dengan iman, karakter, dan semangat juang yang kuat," ujarnya.
Di akhir sesi diskusi, moderator memfasilitasi pembuatan rekomendasi dan komitmen bersama antara tokoh agama, penyuluh agama Katolik, Kanwil Kemenag NTT, serta Kemendukbangga/BKKBN. Komitmen ini menegaskan dukungan penuh untuk menyebarkan pesan GATI dalam berbagai kegiatan penyuluhan, liturgi, dan pelayanan pastoral.
Melalui Bimtek ini, diharapkan tokoh agama dan penyuluh Katolik dapat lebih memahami pentingnya peran ayah dalam pengasuhan yang berlandaskan iman Katolik. Mereka diharapkan dapat menjadi agen perubahan dengan menyampaikan pesan GATI secara konsisten dalam pelayanan, serta mendorong terbentuknya keluarga Katolik yang kokoh, penuh kasih, dan berkontribusi secara nyata bagi pembangunan bangsa.