Bekerja Mengejar Uang, Sendirian Mengejar Ajal: Pria yang Tidak Menjadi Ayah atau Suami di Rumah Akibat Kesibukan

Ketika pria yang terlalu fokus pada pekerjaan hingga mengabaikan keluarga, hal ini berdampak buruk pada kesehatan dan hubungan.

Rizky Wahyu Permana
Oleh Rizky Wahyu Permana - Reporter
Bekerja Mengejar Uang, Sendirian Mengejar Ajal: Pria yang Tidak Menjadi Ayah atau Suami di Rumah Akibat Kesibukan
Bekerja Mengejar Uang, Sendirian Mengejar Ajal: Pria yang Tidak Menjadi Ayah atau Suami di Rumah Akibat Kesibukan (Merdeka.com)

 Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, banyak pria terjebak dalam rutinitas mengejar uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Namun, ironisnya, fokus berlebihan pada pekerjaan sering kali membuat mereka kehilangan peran penting dalam rumah tangga dan pengasuhan anak. Frasa “bekerja mengejar uang, sendirian mengejar ajal” menggambarkan realitas pahit ini: pria yang terlalu sibuk bekerja hingga melupakan keluarga mungkin merasa kesepian di kemudian hari, terputus dari anak-anak dan pasangan yang seharusnya menjadi sumber kebahagiaan. 

 Berikut beberapa poin yang menjelaskan dampak negatif dari fokus kerja yang berlebihan pada pria. Penting bagi para pria untuk menyeimbangkan kehidupan kerja dan keluarga. Tujuannya agar terhindar dari dampak negatif yang mungkin terjadi. Keseimbangan ini penting untuk kesehatan mental dan fisik.

Keterlibatan ayah bukan hanya soal menghabiskan waktu bersama anak, tetapi juga berpartisipasi aktif dalam kehidupan mereka—mulai dari membantu mengerjakan PR, bermain di taman, hingga mendengarkan cerita tentang hari mereka di sekolah. Keterlibatan juga mencakup berbagi tugas rumah tangga, seperti memasak makan malam atau mencuci piring, untuk meringankan beban pasangan. Menurut American Psychological Association, ayah yang terlibat secara emosional dan praktis membantu anak mengembangkan harga diri yang sehat, keterampilan sosial yang lebih baik, dan ketahanan emosional. Anak-anak dengan ayah yang terlibat juga cenderung memiliki prestasi akademik yang lebih baik dan risiko lebih rendah untuk masalah perilaku.

Namun, keterlibatan ayah tidak terjadi begitu saja. Banyak pria merasa tertekan oleh ekspektasi budaya untuk menjadi pencari nafkah utama, yang sering kali membuat mereka memprioritaskan pekerjaan di atas keluarga. Akibatnya, mereka kehilangan momen-momen berharga bersama anak dan pasangan, yang lama-kelamaan dapat menciptakan jarak emosional.

Pria sering menghadapi tekanan sosial untuk memenuhi peran maskulin tradisional sebagai penyedia keluarga. Dalam budaya yang menekankan “pria harus kuat dan sukses,” banyak pria merasa bahwa kesuksesan diukur dari penghasilan atau status karier. Penelitian dari Journal of Marriage and Family menemukan bahwa pria yang bekerja lebih dari 50 jam per minggu memiliki keterlibatan yang lebih rendah dalam pengasuhan anak dibandingkan mereka yang bekerja dengan jam lebih fleksibel (Bianchi et al., 2020). Tekanan ini diperparah oleh norma budaya yang menganggap tugas rumah tangga dan pengasuhan sebagai “pekerjaan wanita,” sehingga banyak pria merasa kurang bertanggung jawab untuk terlibat dalam aktivitas tersebut.

Selain itu, lingkungan kerja modern sering kali menuntut waktu dan energi yang besar. Pria yang bekerja lembur atau memiliki pekerjaan dengan tekanan tinggi mungkin pulang ke rumah dalam keadaan lelah, sehingga tidak memiliki tenaga untuk bermain dengan anak atau membantu pasangan. Akibatnya, hubungan dengan anak menjadi terbatas pada interaksi singkat yang kurang bermakna, seperti sekadar bertanya, “Hari ini sekolah bagaimana?” tanpa benar-benar mendengarkan jawabannya.

Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh anak, tetapi juga oleh pasangan. Penelitian dari The Pew Research Center menunjukkan bahwa ketidakseimbangan dalam pembagian tugas rumah tangga dapat menyebabkan ketegangan dalam hubungan pernikahan, dengan 56% pasangan melaporkan konflik terkait pembagian tanggung jawab rumah tangga (Parker & Wang, 2015). Pria yang jarang terlibat dalam tugas rumah tangga atau pengasuhan juga berisiko merasa terisolasi dari keluarga, yang dapat memperburuk rasa kesepian di kemudian hari.

Kurangnya keterlibatan ayah memiliki dampak signifikan pada anak. Penelitian dari Child Development menunjukkan bahwa anak-anak dengan ayah yang kurang terlibat cenderung memiliki harga diri yang lebih rendah, kesulitan dalam hubungan sosial, dan risiko lebih tinggi untuk masalah emosional seperti kecemasan atau depresi (Sarkadi et al., 2008). Anak-anak juga mungkin merasa kurang dekat dengan ayah mereka, yang dapat memengaruhi hubungan mereka di masa dewasa.

Bagi pasangan, ketidakseimbangan dalam tanggung jawab rumah tangga dapat menciptakan rasa frustrasi. Pasangan yang merasa menanggung beban pengasuhan dan pekerjaan rumah tangga sendirian mungkin merasa tidak dihargai, yang dapat melemahkan ikatan pernikahan. Dalam jangka panjang, pria yang terlalu fokus pada pekerjaan mungkin menyadari bahwa mereka telah kehilangan hubungan emosional dengan keluarga, meninggalkan mereka dengan rasa penyesalan dan kesepian—seperti “sendirian mengejar ajal.” 

Studi menunjukkan korelasi antara menghindari pekerjaan rumah tangga dan peningkatan risiko kecemasan. Jantung berdebar dan kurang konsentrasi juga menjadi masalah umum pada pria. Fokus yang berlebihan pada pekerjaan tanpa keseimbangan kehidupan kerja dapat menyebabkan stres kronis.

Depresi dan masalah kesehatan mental lainnya juga bisa muncul. Oleh karena itu, penting untuk menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi. Tujuannya adalah untuk mencegah masalah kesehatan mental yang serius.

Keseimbangan ini juga membantu menciptakan lingkungan yang lebih sehat dan bahagia. Dengan demikian, pria dapat menikmati hidup sepenuhnya tanpa terbebani oleh tekanan pekerjaan yang berlebihan.

Ketidakseimbangan peran dalam rumah tangga dapat menyebabkan konflik dan ketegangan. Kondisi ini terjadi ketika pria hanya fokus pada pekerjaan dan mengabaikan tanggung jawab domestik. Kurangnya partisipasi dalam kehidupan rumah tangga dapat membuat pasangan merasa tidak dihargai.

Pasangan juga merasa tidak didukung. Oleh karena itu, penting bagi pria untuk terlibat aktif dalam pekerjaan rumah tangga. Keterlibatan ini menunjukkan komitmen dan dukungan terhadap pasangan.

Dengan berbagi tanggung jawab, hubungan dapat menjadi lebih harmonis dan bahagia. Hal ini juga menciptakan lingkungan yang positif bagi seluruh anggota keluarga.

Meskipun tekanan untuk mengejar uang besar, pria dapat menyeimbangkan pekerjaan dan peran keluarga dengan strategi berikut, yang didukung oleh wawasan dari Harvard Business Review dan penelitian akademik:

1. Mengatur Prioritas dan Manajemen Waktu

Pria perlu mengatur waktu mereka dengan bijak untuk memastikan ada ruang untuk keluarga. Ini bisa berarti menetapkan batasan di tempat kerja, seperti menolak lembur yang tidak perlu atau meminta jam kerja yang lebih fleksibel. Menurut Harvard Business Review, ayah yang menetapkan waktu khusus untuk keluarga, seperti makan malam bersama, melaporkan kepuasan hidup yang lebih tinggi (Harrington, 2019).

Contoh Praktis: Sisihkan satu jam setiap malam untuk bermain atau mengobrol dengan anak, dan matikan ponsel selama waktu tersebut untuk fokus penuh.

2. Berbagi Tugas Rumah Tangga

Berbagi tanggung jawab rumah tangga dengan pasangan membantu menciptakan lingkungan yang adil dan mendukung. Penelitian dari The Pew Research Center menunjukkan bahwa pasangan yang berbagi tugas rumah tangga melaporkan hubungan yang lebih harmonis (Parker & Wang, 2015).

Contoh Praktis: Ambil alih tugas seperti mencuci piring atau menyiapkan makan malam dua kali seminggu untuk meringankan beban pasangan.

3. Terlibat Aktif dalam Pengasuhan

Keterlibatan ayah tidak harus rumit. Aktivitas sederhana seperti membaca buku sebelum tidur, membantu mengerjakan PR, atau menghadiri acara sekolah anak dapat memperkuat ikatan emosional. Penelitian dari Child Development menunjukkan bahwa keterlibatan ayah dalam aktivitas sehari-hari anak meningkatkan kesejahteraan emosional anak (Sarkadi et al., 2008).

Contoh Praktis: Luangkan waktu akhir pekan untuk pergi ke taman atau bermain permainan papan bersama anak.

4. Komunikasi Terbuka dengan Pasangan

Diskusi terbuka dengan pasangan tentang pembagian tanggung jawab dapat mencegah konflik. Pria perlu mendengarkan kebutuhan pasangan dan bersama-sama merancang sistem yang adil untuk tugas rumah tangga dan pengasuhan.

Contoh Praktis: Adakan “rapat keluarga” mingguan untuk membahas jadwal dan tanggung jawab masing-masing.

5. Menunjukkan Kasih Sayang

Memperlihatkan kasih sayang kepada anak, seperti memeluk atau mengatakan “Aku sayang kamu,” membantu anak merasa dihargai. Menurut American Psychological Association, ekspresi kasih sayang dari ayah meningkatkan rasa aman anak.

Contoh Praktis: Biasakan mengucapkan kata-kata penyemangat atau memeluk anak sebelum mereka berangkat sekolah.

6. Mengelola Stres Pekerjaan

Pria perlu belajar mengelola stres agar tidak membawa beban pekerjaan ke rumah. Teknik seperti meditasi singkat atau olahraga dapat membantu menjaga keseimbangan emosional.

Contoh Praktis: Luangkan 10 menit untuk berjalan kaki atau melakukan pernapasan dalam sebelum pulang ke rumah untuk menyegarkan pikiran.

Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan keluarga sangat penting untuk kesehatan mental dan fisik. Selain itu, keseimbangan ini juga penting untuk membangun hubungan yang sehat dan bahagia. Fokus yang berlebihan pada pekerjaan tanpa memperhatikan kesejahteraan keluarga dapat berdampak negatif yang signifikan.

Mengejar uang adalah tanggung jawab penting, tetapi pria tidak boleh melupakan peran mereka sebagai ayah dan pasangan. Kurangnya keterlibatan dalam tugas rumah tangga dan pengasuhan anak dapat melemahkan hubungan keluarga dan meninggalkan rasa kesepian di kemudian hari. Dengan mengatur waktu dengan bijak, berbagi tugas rumah tangga, terlibat aktif dalam pengasuhan, berkomunikasi terbuka dengan pasangan, menunjukkan kasih sayang, dan mengelola stres, pria dapat menyeimbangkan pekerjaan dan keluarga. 

Rekomendasi