Gubernur Jambi, Al Haris, baru-baru ini menyoroti sebuah fenomena sosial yang krusial di Indonesia. Berdasarkan data dari Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN), sekitar 25 persen anak di Indonesia tumbuh tanpa figur ayah (fatherless). Hal ini disampaikan Al Haris saat melakukan safari Ramadhan di Kabupaten Merangin pada Februari 2026 lalu, dengan tujuan mengajak masyarakat untuk memperkuat ketahanan keluarga.
Angka ini, menurut Gubernur Al Haris, bukanlah jumlah yang kecil dan memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak. "Artinya, dari 100 anak, sekitar 25 anak tumbuh tanpa peran ayah. Ini bukan angka kecil," kata Al Haris dalam keterangan tertulisnya. Ia menekankan bahwa kondisi ini menjadi tugas bersama bagi orang tua, guru, tokoh agama, maupun pemerintah untuk membina dan membimbing generasi muda.
Melihat data tersebut, Gubernur Al Haris menggarisbawahi bahwa fenomena ini merupakan tantangan sosial yang mendesak bagi bangsa. Khususnya, terkait dengan kondisi anak-anak dan ketahanan keluarga secara keseluruhan. "Fenomena ini menjadi tantangan serius yang memerlukan perhatian bersama," ujarnya, mengingatkan akan potensi dampak negatifnya.
Advertisement
Advertisement
Data dan Dampak Fenomena Anak Tanpa Figur Ayah
Fenomena 25 persen anak Indonesia tumbuh tanpa figur ayah ini menjadi sorotan utama. Data dari Kemendukbangga/BKKBN menunjukkan bahwa satu dari empat anak di Indonesia tidak mendapatkan peran ayah secara optimal dalam tumbuh kembangnya. Situasi ini memunculkan kekhawatiran mendalam mengenai perkembangan psikologis dan sosial anak-anak di masa depan.
Anak-anak yang tumbuh tanpa bimbingan keluarga yang utuh, khususnya tanpa peran ayah, berpotensi menghadapi berbagai persoalan kompleks. Gubernur Al Haris menyebutkan beberapa dampak negatif yang mungkin timbul. Dampak tersebut meliputi rendahnya kepercayaan diri, kesulitan dalam pengendalian emosi, hingga kerentanan yang lebih tinggi terhadap pengaruh negatif lingkungan sekitar.
Kondisi ini menuntut adanya upaya kolektif untuk memastikan setiap anak mendapatkan dukungan emosional dan bimbingan yang memadai. Peran aktif dari seluruh elemen masyarakat sangat dibutuhkan. Tujuannya adalah untuk meminimalkan risiko-risiko yang mungkin dihadapi oleh anak-anak yang berada dalam situasi ini.
Advertisement
Advertisement
Peran Keluarga dan Pembentukan Karakter Anak
Gubernur Al Haris menegaskan kembali bahwa keluarga adalah institusi pendidikan pertama dan utama bagi anak. Dalam konteks ini, peran ayah dan ibu sangat krusial dalam membentuk karakter anak. Keduanya bertanggung jawab menanamkan nilai-nilai agama, serta membangun kedisiplinan yang akan sangat menentukan masa depan generasi muda.
Ia mengingatkan masyarakat agar tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi dan pendidikan formal semata. Pembinaan akhlak juga merupakan pilar penting yang tidak boleh diabaikan dalam proses tumbuh kembang anak. "Jangan sampai kita hanya fokus mengejar pendidikan tinggi dan keberhasilan ekonomi, tetapi lupa membangun akhlak anak," katanya.
Akhlak yang kokoh akan menjadi benteng utama bagi anak-anak dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Termasuk di dalamnya adalah derasnya arus globalisasi dan pengaruh media sosial yang masif. Pembentukan akhlak yang kuat akan membekali anak dengan nilai-nilai moral untuk menyaring informasi dan pengaruh negatif.
Advertisement
Advertisement
Tantangan Globalisasi dan Peran Komunitas
Pengaruh teknologi dan media sosial dalam kehidupan generasi muda saat ini tidak dapat dimungkiri sangat besar. Gubernur Al Haris menyinggung bagaimana tanpa pengawasan dan pendampingan yang tepat, anak-anak dapat dengan mudah terpapar informasi yang tidak sesuai. Informasi tersebut mungkin bertentangan dengan nilai-nilai agama dan budaya bangsa Indonesia.
Oleh karena itu, pihak pemerintah daerah mengajak seluruh elemen masyarakat untuk berpartisipasi aktif. Elemen masyarakat yang dimaksud termasuk sekolah dan lembaga keagamaan, untuk bersama-sama memperkuat pendidikan karakter dan nilai spiritual. Upaya kolaboratif ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang kondusif bagi tumbuh kembang anak.
Gubernur juga berharap agar masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah. Lebih dari itu, masjid dapat menjadi pusat pembinaan umat yang efektif, termasuk bagi generasi muda. Dengan demikian, masjid dapat berperan strategis dalam membentuk karakter dan moral anak-anak di tengah gempuran modernisasi.
Advertisement
Sumber: AntaraNews