Ketahui Dampak Kehilangan Sosok Ayah Terhadap Perkembangan Karakter Anak Laki-laki
Ketidakhadiran sosok ayah dalam pengasuhan anak dapat mengakibatkan hilangnya karakter maskulin pada anak laki-laki.
Sebuah laporan menunjukkan bahwa 20,9 persen anak di Indonesia kehilangan sosok ayah, yang disebabkan oleh berbagai faktor seperti perceraian, kematian, atau pekerjaan ayah yang jauh dari rumah. Angka ini disampaikan oleh Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga) dan Kepala BKKBN, Wihaji, dalam sebuah Webinar Nasional yang diselenggarakan oleh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) pada hari Jumat, 31 Januari 2025. Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya pola asuh yang baik dan akhlak mulia dalam mengatasi budaya kekerasan terhadap anak. Menurutnya, untuk membangun generasi masa depan yang tangguh, pendidikan tidak hanya harus berfokus pada aspek akademik, tetapi juga harus dimulai dengan pembentukan karakter dalam lingkungan keluarga.
"Saat ini masyarakat Indonesia mulai kehilangan sosok ayah dalam mengasuh anak di rumah. Ayah lebih banyak berkutat dengan urusan ekonomi keluarga dan seringkali mengabaikan peranannya dalam pengasuhan. Padahal, anak-anak memerlukan perhatian dan sentuhan psikologis dari orang tua. Oleh karena itu, jika terjadi kekerasan terhadap anak, kita seharusnya tidak langsung menyalahkan mereka. Sebaliknya, kita perlu merenungkan apa yang telah dilakukan orang tua terhadap anak-anak mereka," ungkap Wihaji.
Lebih lanjut, Wihaji menjelaskan bahwa kurangnya peran ayah dalam pengasuhan berdampak negatif pada berbagai aspek kehidupan anak, antara lain:
- perkembangan anak;
- menyebabkan meningkatnya gangguan emosi dan sosial;
- risiko penyalahgunaan NAPZA;
- performa akademis yang lebih rendah;
- risiko kenakalan remaja;
- hilangnya karakter kepemimpinan pada anak;
- karakter maskulin anak laki-laki menjadi kabur.
Ayah Perlu Mempelajari Cara Merawat Anak
Dalam konteks ini, BKKBN meluncurkan lima Program Quick Win untuk mendukung Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden. Salah satu program yang diperkenalkan oleh Wihaji adalah Gerakan Ayah Teladan (GATE), yang bertujuan untuk membentuk karakter anak dengan mengedukasi orangtua, khususnya ayah, dalam hal pengasuhan. Ini penting karena karakter anak sangat dipengaruhi oleh karakter orangtuanya.
Wihaji menegaskan, "Saat ini sebagian besar keluarga yang mengasuh anak kita adalah media sosial. Karena mereka berjam-jam berdiskusi dan ngobrol dengan media sosial, dibandingkan ngobrol dengan orangtuanya, khususnya ayah." Dia juga menambahkan, "Bahkan ada ayah dan anaknya ketemu bareng, tapi sama-sama megang handphone, sama-sama asik dengan dunianya sendiri. Jangan salahkan anak ketika mereka banyak bermain media sosial di handphonenya. Banyak anak-anak sekarang yang hobinya rebahan sambil bermain sosial media."
Jika Ayah Tidak Terlibat dalam Pengasuhan
Ketidakhadiran ayah dalam pola asuh anak dapat menyebabkan terbentuknya mental strawberry generation. Wihaji juga menyebut fenomena ini sebagai hello kitty generation pada anak-anak. "Hal ini terjadi karena 80 persen pengaruh berasal dari pola asuh ibu. Akibatnya, sifat leadership dan maskulin pada anak menjadi hilang. Anak-anak menjadi lemah, kurang mampu menghadapi tantangan, dan cenderung manja. Oleh karena itu, penting bagi ayah untuk meluangkan waktu berbincang dengan anak," ujarnya. Pembahasan mengenai generasi strawberry ini telah disampaikan oleh Wihaji pada Rabu, 22 Januari 2025.
Wihaji menegaskan bahwa anak yang hanya diasuh oleh ibu tanpa keterlibatan ayah akan tumbuh dengan mental strawberry (stroberi). "Saat ini, kurangnya interaksi ayah dengan anak-anak yang cenderung minim, menyebabkan banyak anak yang memiliki kepemimpinan yang terbentuk menjadi karakter keibuan," jelas Wihaji di Jakarta Timur, mengutip keterangan pers. "Jika anak-anak hanya mendapatkan perhatian dari ibu dan tidak ada sentuhan dari ayah, mereka akan mengembangkan sifat keibuan dan menjadi lebih lembut. Dengan 80 persen bimbingan dari ibu hingga usia 18 tahun, maka karakter kepemimpinan yang terbentuk akan menyerupai sifat ibu, yang pada gilirannya menciptakan mental strawberry," tambahnya.
Memahami Konsep Generasi Strawberry
Istilah strawberry generation atau generasi stroberi pertama kali muncul di Taiwan. Istilah ini merujuk pada kelompok generasi baru yang dianggap lembut seperti buah stroberi. Pemilihan stroberi sebagai representasi generasi ini disebabkan oleh penampilannya yang menarik dan eksotis, namun sangat mudah hancur jika ditekan. Dalam penjelasan lebih lanjut, akademisi dan praktisi bisnis, Prof. Rhenald Kasali, mengungkapkan dalam bukunya bahwa generasi stroberi adalah generasi yang kaya akan ide-ide kreatif, namun cenderung mudah menyerah dan sensitif. "Definisi ini dapat kita lihat melalui laman-laman sosial media. Begitu banyak gagasan-gagasan kreatif yang dilahirkan oleh anak-anak muda, sekaligus tidak kalah banyak cuitan resah penggambaran suasana hati yang dirasakan oleh mereka," papar Rhenald, seperti yang dikutip dari laman resmi Direktorat Jenderal Kekayaan Negara Kementerian Keuangan (DJKN Kemenkeu) pada Jumat, 24 Januari 2025.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3359666/original/023945500_1611647826-gen_z.jpg)