Fakta Medis: Diabetes Tipe 1 Bukan Warisan Genetik, Ini Sebabnya
Banyak orang berpendapat bahwa diabetes disebabkan oleh faktor genetik. Namun, sebenarnya hal tersebut tidak sepenuhnya benar.
Banyak orang sering kali meremehkan potensi risiko diabetes karena mereka tidak memiliki riwayat keluarga yang mengidap penyakit ini. Menurut dokter spesialis anak yang juga merupakan subspesialis endokrinologi, Prof. Aman Bhakti Pulungan, pada diabetes tipe 1, penyebabnya bukanlah faktor genetik, melainkan kondisi autoimun.
"Kalau dikatakan keturunan, banyak sekali pasien kita yang 2.000 lebih itu orangtuanya tidak DM (Diabetes Mellitus) 1. Jadi pola diturunkannya itu berbeda," ungkap Aman dalam acara Small Group Media Interview CDiC Diabetes Camp dan Novo Nordisk, pada Rabu, 10 September 2025.
Prof. Aman juga menjelaskan, "Karena dia autoimun, proses autoimun inilah yang menyebabkan terjadinya (diabetes tipe 1). Kenapa dia bisa? Salah satu infeksi virus pada saat pendemi COVID-19, diabetes kita meningkat. Virus-virus ini juga bisa mencetuskan pada diabetes," jelasnya.
Apa yang dimaksud dengan diabetes tipe 1?
Diabetes tipe 1 merupakan kondisi di mana tubuh tidak dapat memproduksi insulin sama sekali akibat kerusakan pada sel pankreas yang disebabkan oleh sistem kekebalan tubuh. Aman menjelaskan bahwa salah satu gejala diabetes pada anak adalah kembalinya kebiasaan ngompol setelah sebelumnya berhenti.
"Yang tadinya tidak ngompol, dia ngompol lagi. Yang terpikir pertama kali harus adalah diabetes. Nah ini yang harusnya memang kita komunikasikan. Jadi bahwa memang diabetes bisa pada anak," ungkapnya.
Selain itu, ia juga mengingatkan bahwa gejala klasik seperti sering buang air kecil, peningkatan nafsu makan, kehausan yang berlebihan, serta penurunan berat badan yang signifikan patut dicurigai sebagai tanda diabetes tipe 1.
Aman menambahkan, "Nah ada tipsnya apa? Ketika kita dapati anak banyak makan, banyak kencing, berat badan turun drastis, kayak pasien di Kupang itu. Terus yang tadinya tidak ngompol, ngompol lagi. Apalagi anak mulai loyo, yang pertama harus dipikirkan adalah diabetes."
Oleh karena itu, penting bagi orang tua untuk memperhatikan perubahan perilaku dan kondisi fisik anak, karena deteksi dini dapat membantu dalam penanganan yang lebih efektif terhadap diabetes tipe 1.
Sering kali, gejala penyakit ini tidak mendapatkan perhatian yang cukup
Sayangnya, banyak anak yang mengidap diabetes tipe 1 terlambat mendapatkan diagnosis. Hal ini disebabkan oleh kurangnya awareness di masyarakat. Aman menjelaskan bahwa rendahnya pemahaman tentang diabetes tipe 1 terjadi karena penyakit ini masih dianggap asing bagi banyak orang. Tidak hanya masyarakat umum, tetapi juga tenaga medis sering kali kurang menyadari bahwa anak-anak bisa terkena diabetes tipe 1.
"Jadi, ketika pasien masuk, susah. Pasien masuk sakit perut, engap-engapan, yang terfikir itu yang lain-lain. Secara emergency, jadi tidak pernah terpikir. Karena mungkin pada saat dia sekolah (tenaga medis), dia tidak pernah melihat kasusnya. Jadi akhirnya tidak memikirkan diabetes," ungkap Aman.
Kesalahan dalam membaca gejala ini menyebabkan banyak anak datang ke rumah sakit dalam kondisi yang sudah parah. Akibatnya, diagnosis baru diberikan setelah mereka mengalami komplikasi yang lebih serius. Penting bagi masyarakat dan tenaga medis untuk meningkatkan pemahaman mengenai diabetes tipe 1 agar dapat mendeteksi dan menangani kondisi ini lebih awal.
Dengan demikian, diharapkan anak-anak yang mengidap diabetes tipe 1 bisa mendapatkan perawatan yang tepat dan segera, sehingga mencegah terjadinya komplikasi yang lebih lanjut.
Sering kali, kondisi ini keliru dianggap sebagai penyakit lainnya
Penyakit ini memiliki kompleksitas yang lebih dalam daripada yang terlihat. Di Indonesia, banyak anak yang mengalami kesalahan diagnosis karena gejala yang ditunjukkan seringkali mirip dengan penyakit lainnya.
"Ketidak-aware-an kita ini bukan hanya masyarakat, bahkan tenaga kesehatan telat melihat ini. Jadi datang itu bisa dianggap asma, bisa dianggap appendix atau usus buntu. Kalau sakit perut bisa dianggap pneumonia," jelasnya.
Hal ini menunjukkan bahwa ada kekurangan pemahaman di kalangan tenaga medis mengenai gejala diabetes tipe 1.
Aman mengungkapkan bahwa diabetes tipe 1 pernah disalahartikan sebagai penyakit usus buntu, yang berujung pada tindakan operasi. Kondisi ini tidak hanya membahayakan keselamatan pasien, tetapi juga menghambat penanganan yang seharusnya diberikan dengan segera.
"Pernah ada kejadian di salah satu Rumah Sakit tipe A, sekarang gak kejadian lagi. Sampai dioperasi usus buntu, ternyata diabetik tipe 1," ungkapnya.
Aman juga menambahkan bahwa sekitar 70 persen pasien diabetes tipe 1 datang dengan diagnosis yang terlambat, seringkali dalam kondisi parah yang dikenal sebagai ketoasidosis diabetik (KAD).