Cerita Seorang Pria Sembuh dari HIV, Ini Rahasianya
Ia pertama kali melakukan pengobatan pada 2015. Hingga akhirnya selama 7 tahun 3 bulan, tidak ditemukan HIV dalam tubuhnya.
Seorang pria di Jerman dinyatakan sembuh dari HIV setelah menjalani transplantasi sel punca untuk mengobati leukemia.
Ia menjadi orang ketujuh di dunia yang terbebas dari virus itu dan yang kedua sembuh meski menerima sel punca tanpa perlindungan genetik terhadap HIV. Temuan ini dibahas dalam laporan yang dikutip dari Media New Scientist, Selasa (2/12).
Sebelumnya, lima pasien yang sembuh mendapat sel punca dari donor dengan mutasi ganda pada gen CCR5, protein yang dipakai HIV untuk memasuki sel imun. Mutasi tersebut membuat sel penerima resisten terhadap infeksi.
Selama bertahun-tahun, para peneliti meyakini bahwa resistensi CCR5 adalah kunci utama penyembuhan. Namun kasus terbaru, seperti “pasien Jenewa” tahun lalu, kembali menantang asumsi itu.
Pasien terbaru ini menerima transplantasi pada 2015 untuk mengatasi leukemia. Ia tetap menjalani terapi antiretroviral (ART) selama beberapa tahun hingga memutuskan menghentikannya sekitar tiga tahun setelah transplantasi.
Keputusan itu diambil ketika ia merasa remisi kanker dan yakin transplantasinya efektif. Tak lama kemudian, tim medis tidak lagi menemukan virus dalam darahnya. Ia kini bebas HIV selama 7 tahun 3 bulan pada periode terpanjang kedua setelah kasus pasien Berlin.
Para peneliti menilai keberhasilan ini membuka pemahaman baru. Kemungkinan besar, sel punca donor yang tidak membawa dua mutasi CCR5 tetap mampu menghancurkan sisa sel imun pasien sebelum HIV dapat menginfeksi sel baru.
Reaksi Imun Picu Perbedaan Protein
“Hal ini memperluas kemungkinan bahwa penyembuhan HIV tidak harus bergantung pada sel yang benar-benar resistan,” ujarnya Christian Gaebler di University Berlin.
Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa transplantasi sel punca bukan terapi yang layak bagi sebagian besar orang dengan HIV karena risikonya sangat tinggi dan umumnya dilakukan hanya bagi pasien dengan kanker darah.
ART tetap menjadi pengobatan paling aman dan efektif untuk mengendalikan virus. Obat baru seperti lenacapavir dua suntikan per tahun juga menawarkan perlindungan hampir penuh.
Riset penyembuhan HIV terus berkembang, termasuk lewat pendekatan pengeditan gen sel imun dan pengembangan vaksin preventif.
Namun kasus terbaru ini menunjukkan satu hal penting tubuh manusia masih menyimpan kejutan dalam memerangi virus yang selama ini dianggap mustahil disembuhkan.
Reporter Magang: Ahmad Subayu