Empat Fakta Menarik Tentang HIV, Penularannya Ternyata Bukan Hanya Terjadi di Kota Besar

Berikut adalah beberapa fakta mengenai HIV yang disampaikan oleh para ahli. Salah satunya adalah bahwa infeksi HIV juga ditemukan di wilayah-wilayah terpencil.

Rafa Dahayu Amandya
Oleh Rafa Dahayu Amandya - Reporter
Empat Fakta Menarik Tentang HIV, Penularannya Ternyata Bukan Hanya Terjadi di Kota Besar
Ilustrasi penyakit HIV AIDS. (Photo by jcomp on Freepik) (© 2025 Liputan6.com)

Virus Imunodefisiensi Manusia (HIV) adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia. Jika tidak ditangani dengan cepat, kemungkinan infeksi ini dapat berkembang menjadi Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS).

Menurut laporan dari Prevention pada tanggal 28 November 2025, risiko penularan HIV saat ini jauh lebih rendah dibandingkan dua dekade yang lalu. Penurunan risiko ini disebabkan oleh meningkatnya kesadaran masyarakat mengenai pencegahan serta kemajuan teknologi dalam pengobatan.

Meskipun ada kemajuan tersebut, masih banyak mitos seputar HIV yang beredar di masyarakat. HIV dapat menginfeksi siapa saja, di mana saja, dan kapan saja, sehingga pemahaman yang tepat tentang virus ini sangat penting untuk pencegahannya.

Sejumlah ahli telah menjelaskan fakta-fakta mengenai HIV yang sering tidak diketahui oleh publik. Jonathan Applebaum, mantan Ketua Dewan American Association of HIV Medicine, menyatakan bahwa orang yang terinfeksi HIV masih dapat melakukan hubungan seksual dengan pasangannya, asalkan mereka menjalani terapi antiretroviral (ARV) hingga virus tidak terdeteksi dan tidak dapat ditularkan.

Selain ARV, mereka juga dapat menggunakan obat profilaksis prapajanan atau PrEP, yang dikenal efektif dalam mengganggu siklus virus dan mencegah infeksi.

Dokter penyakit menular dari UCLA Care Center di Los Angeles, Paul Adamson, menambahkan bahwa penggunaan kondom juga merupakan cara yang efektif untuk mencegah penularan HIV kepada pasangan.

Applebaum menjelaskan bahwa mayoritas infeksi HIV terjadi di kalangan pasangan sesama jenis. Namun, sepertiga dari laporan kasus menunjukkan bahwa infeksi juga disebabkan oleh kontak heteroseksual dan penggunaan jarum suntik untuk narkoba.

Selain itu, tingkat penularan HIV pada individu berusia 50 tahun ke atas cukup mengkhawatirkan. Hal ini terlihat dari jumlah infeksi yang tetap stabil setiap tahun, yaitu sekitar 10 persen. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa upaya edukasi pencegahan belum menjangkau generasi yang lebih tua dengan efektif.

Adamson menambahkan bahwa risiko terpapar virus HIV lebih berkaitan dengan jaringan seksual daripada faktor orientasi atau usia seseorang. Oleh karena itu, penting bagi individu untuk memeriksa kesehatan diri dan pasangan mereka, serta melakukan pengobatan jika terdeteksi positif terpapar HIV. Kesadaran dan tindakan preventif harus ditingkatkan di semua kelompok usia untuk menekan angka penularan virus ini.

Adamson mengungkapkan bahwa infeksi HIV juga menjangkiti wilayah-wilayah terpencil. Kurangnya pendidikan mengenai kesehatan seksual serta informasi yang keliru tentang cara penularan HIV menjadi penyebab utama masalah ini.

Selain itu, akses yang sulit terhadap layanan kesehatan turut menghambat upaya pencegahan infeksi HIV. Budaya hubungan seksual sesama jenis juga berkontribusi sebagai faktor utama dalam penyebaran virus ini. Dengan demikian, risiko terjadinya infeksi terus meningkat di berbagai tempat.

Infeksi HIV memang menjadi salah satu penyebab utama kematian di kalangan masyarakat. Namun, dengan penanganan yang cepat dan deteksi yang tepat, pengidap HIV dapat memiliki harapan untuk hidup lebih lama dan sehat.

Salah satu metode yang efektif adalah terapi Antiretroviral (ART). Adamson menekankan bahwa terdapat tiga hal penting yang perlu dipahami oleh pasien yang telah didiagnosis positif HIV.

Pertama, penggunaan obat-obatan dengan efek samping yang minimal adalah pendekatan yang baik dalam mengatasi infeksi ini.

Kedua, virus HIV dapat dikelola dengan baik.

Ketiga, pasien masih dapat menjalani kehidupan yang normal. Pengobatan yang tepat dan deteksi dini sangat krusial untuk mencegah perkembangan HIV menuju tahap yang lebih parah, yaitu AIDS.

Apabila pasien sudah berada di fase AIDS dengan kondisi yang lebih serius, proses pemulihan akan memerlukan waktu yang lebih lama.

Rekomendasi