Benarkah Jumlah Kasus Autisme Terus Meningkat? Fakta dan Penjelasan Ahli
Kasus autisme dilaporkan meningkat secara global, termasuk di Indonesia. Apa penyebabnya? Temukan fakta dan penjelasan ahli mengenai isu ini.
Beberapa waktu belakangan ini, kesadaran mengenai diagnosis autisme dan kompleksitasnya semakin meningkat. Unggahan di media sosial baru-baru ini meningkatkan kesadaran dan penerimaan terhadap autisme. Banyak pengguna berbagi pengalaman mereka dalam menerima diagnosis dan menjalani hidup dengan kondisi neurodevelopmental ini. Namun, perbincangan seputar topik ini juga memicu diskusi mengenai peningkatan diagnosis autisme di Amerika Serikat. Apakah benar autisme telah menjadi masalah kesehatan masyarakat yang darurat? Mari kita telaah klaim-klaim tersebut dengan bantuan ahli.
Dilansir dari Medical News Today, David Cutler, MD, seorang dokter spesialis keluarga di Providence Saint John’s Health Center di Santa Monica, CA, memeriksa fakta-fakta terkait klaim tersebut. Berikut adalah hasil analisisnya:
Fakta: Benarkah Ada 'Epidemi' Autisme?
Dalam konferensi pers pada 16 April 2025, Robert F. Kennedy Jr., Menteri Kesehatan Amerika Serikat menyebut autisme sebagai "epidemi" dan mengatakan bahwa kondisi ini "meningkat prevalensinya dengan kecepatan yang mengkhawatirkan." Pernyataan ini didasarkan pada laporan terbaru dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC) tentang prevalensi autisme pada anak-anak. Laporan tersebut menunjukkan bahwa 1 dari 36 anak di AS didiagnosis dengan autisme, meningkat dari 1 dari 44 anak pada tahun 2021.
Namun, menurut Dr. Cutler, peningkatan diagnosis autisme di AS terutama disebabkan oleh peningkatan kesadaran, perluasan kriteria diagnostik, dan peningkatan praktik skrining, bukan karena peningkatan prevalensi yang sebenarnya. Ia menjelaskan beberapa faktor kunci yang berkontribusi terhadap peningkatan diagnosis autisme yang teramati:
- Perluasan Definisi Autisme: "Selama beberapa dekade terakhir, definisi autisme telah diperluas. Sebelumnya, diagnosis hanya diberikan kepada individu dengan gangguan berat. Namun, dengan diperkenalkannya DSM-5 [The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition] pada tahun 2013, kondisi [yang sebelumnya dikenal sebagai] sindrom Asperger dan gangguan perkembangan pervasif – tidak disebutkan secara spesifik dimasukkan di bawah istilah 'gangguan spektrum autisme' (ASD)." Perubahan ini menyebabkan lebih banyak individu, terutama mereka yang memiliki gejala ringan, menerima diagnosis autisme.
- Peningkatan Skrining dan Diagnosis Dini: "The American Academy of Pediatrics merekomendasikan skrining autisme rutin pada usia 18 dan 24 bulan mulai tahun 2006." Pendekatan proaktif ini menghasilkan identifikasi dini anak-anak dengan autisme, termasuk mereka yang memiliki gejala kurang jelas, sehingga meningkatkan jumlah diagnosis.
- Peningkatan Kesadaran dan Advokasi: "Kesadaran yang lebih besar di antara orang tua, pendidik, dan penyedia layanan kesehatan telah menyebabkan lebih banyak anak dievaluasi dan didiagnosis." Hal ini terutama terlihat pada kelompok yang secara historis kurang terdiagnosis, seperti perempuan dan minoritas ras, yang sekarang lebih mungkin diidentifikasi dan menerima layanan yang sesuai.
- Substitusi Diagnosis: "Di masa lalu, anak-anak dengan masalah perkembangan yang lebih ringan mungkin telah didiagnosis dengan disabilitas intelektual atau gangguan belajar." Seiring dengan berkembangnya pemahaman tentang autisme, banyak dari anak-anak ini sekarang didiagnosis dengan ASD, sebuah fenomena yang dikenal sebagai substitusi diagnosis.
Fakta: Apakah Faktor Lingkungan Lebih Penting daripada Genetika?
Dalam siaran persnya, Kennedy menyatakan bahwa autisme "harus" disebabkan oleh "paparan lingkungan" terhadap racun. Ia juga mengecilkan peran faktor genetik dalam kondisi neurodevelopmental ini. Namun, seberapa benarkah klaim ini?
Menurut Dr. Cutler, faktor genetik memainkan peran penting dalam autisme. Beberapa studi besar menunjukkan bahwa dalam banyak kasus, autisme tampaknya diturunkan dalam keluarga. Misalnya, sebuah meta-analisis dari tujuh studi kembar yang diterbitkan dalam The Journal of Child Psychology and Psychiatry pada Desember 2015 menunjukkan bahwa genetika adalah faktor risiko tertinggi untuk autisme.
Studi lain yang diterbitkan dalam The Journal of the American Academy of Child and Adolescent Psychiatry pada September 2019 menemukan bahwa dalam keluarga di mana sudah ada satu anak autistik, saudara kandung lainnya juga cenderung autistik. Namun, Dr. Cutler tidak menampik gagasan bahwa faktor lingkungan juga berperan. Beberapa studi menunjukkan bahwa pengaruh lingkungan selama kehamilan dan masa kanak-kanak awal dapat berkontribusi pada risiko autisme. Faktor-faktor seperti usia orang tua, paparan bahan kimia tertentu, dan komplikasi selama persalinan telah dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan mengembangkan autisme.
Maria Cohut, Ph.D., dalam artikelnya di Medical News Today yang telah ditinjau faktanya oleh Kevin Cyr, MD, menyimpulkan bahwa peningkatan diagnosis autisme mencerminkan kemajuan dalam pemahaman tentang kondisi ini. Peningkatan ini kemungkinan besar disebabkan oleh perbaikan dalam kriteria diagnostik resmi, peningkatan kesadaran tentang presentasi kompleks autisme di antara para profesional medis, dan advokasi yang lebih baik di antara populasi yang secara tradisional memiliki akses yang lebih buruk ke layanan kesehatan.
Meskipun beberapa faktor lingkungan mungkin berperan dalam autisme, seperti halnya dalam sebagian besar aspek kesehatan dan perkembangan, tidak ada bukti saat ini bahwa mereka adalah pendorong utama dalam hal neurodiversitas.
Data di Indonesia mengenai jumlah penderita autisme masih terbatas. Meskipun ada laporan yang menyebutkan angka hingga 2,4 juta anak, angka ini perlu diinterpretasikan dengan hati-hati karena keterbatasan data dan metodologi yang digunakan. Namun, peningkatan kesadaran dan akses terhadap layanan diagnostik dan terapi merupakan langkah penting dalam mendukung anak-anak dan keluarga yang terdampak autisme di Indonesia.
Penting untuk diingat bahwa diagnosis dini autisme sangat penting untuk intervensi dan dukungan yang tepat waktu. Intervensi dini dapat membantu anak-anak dengan autisme mengembangkan keterampilan sosial, komunikasi, dan perilaku yang diperlukan untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri dan bermakna.