3 Dampak Kesehatan Mental yang Terjadi pada Kita Akibat Perubahan Iklim
Perubahan iklim yang terjadi pada masa kini menyebabkan dampak tidak hanya pada kesehatan fisik kita, namun juga pada mental.
Perubahan iklim yang terjadi pada masa kini menyebabkan dampak tidak hanya pada kesehatan fisik kita, namun juga pada mental.
3 Dampak Kesehatan Mental yang Terjadi pada Kita Akibat Perubahan Iklim
Perubahan iklim semakin menunjukkan dampak nyata, tidak hanya pada lingkungan tetapi juga pada kesehatan mental kita. Meskipun kita mungkin tidak selalu menyadarinya, berbagai aspek dari perubahan iklim dapat memengaruhi kondisi psikologis kita dengan cara yang tidak terlihat.
Dampak dari perubahan iklim terutama cuaca yang semakin panas ini tidak boleh kita anggap remeh. Dilansir dari WebMD, berikut adalah tiga cara perubahan iklim memengaruhi kesehatan mental kita.
1.Gelombang Panas Meningkatkan Gangguan Mental
Bahkan, tingkat bunuh diri juga cenderung meningkat selama gelombang panas. Sebuah meta-analisis baru-baru ini menunjukkan bahwa setiap peningkatan suhu lokal sebesar 1,8 derajat Fahrenheit menyebabkan peningkatan 1 persen dalam tingkat bunuh diri.
Selain itu, gelombang panas dapat meningkatkan iritabilitas dan kecenderungan kekerasan. Dalam studi yang dilakukan oleh Craig Anderson, seorang psikolog di Iowa State University, ditemukan bahwa gelombang panas ekstrem di Chicago berhubungan dengan lonjakan tingkat kejahatan. Penelitian lain menunjukkan bahwa pesan kebencian di media sosial meningkat selama suhu ekstrem.
Untuk melindungi diri dari dampak negatif suhu tinggi, penting untuk menjaga suhu tubuh tetap dingin, terutama di malam hari. Penelitian mendukung beberapa cara seperti mandi dengan air hangat atau dingin sebelum tidur, mengenakan pakaian tidur dari katun, menghindari alkohol sebelum tidur, dan tetap terhidrasi sepanjang hari.
Emma Lawrance, seorang ahli saraf klinis di Imperial College London, juga menekankan pentingnya memperhatikan perubahan suasana hati dan pikiran saat suhu tinggi serta bersikap lembut pada diri sendiri dan orang lain.
2. Polusi Udara Mengganggu Kesehatan Mental
Perubahan iklim juga berdampak pada kualitas udara, yang pada gilirannya memengaruhi kesehatan mental. Polusi udara seperti partikel halus (PM 2.5) dan nitrogen dioksida (NO2) dapat menyebabkan stres oksidatif dan peradangan, yang dapat merusak sel-sel otak.
Penelitian menunjukkan bahwa paparan polusi udara dikaitkan dengan peningkatan risiko gangguan kejiwaan seperti kecemasan, gangguan bipolar, dan skizofrenia. Polusi udara juga dapat berkontribusi pada depresi dan penurunan kinerja mental.
Studi pada tahun 2023 yang menganalisis data rawat inap untuk gangguan kejiwaan di delapan negara bagian AS menemukan bahwa semakin tinggi konsentrasi NO2 dan PM 2.5 di udara, semakin banyak kunjungan ke rumah sakit untuk masalah kesehatan mental. Polusi udara juga dapat mempengaruhi bagian otak seperti amigdala, yang berperan dalam respon ketakutan, dan hipokampus, yang berhubungan dengan perkembangan depresi.
Menggunakan pembersih udara portabel atau filter HVAC efisiensi tinggi juga dapat membantu. Ketika berada di luar ruangan dalam kondisi asap tebal, menggunakan masker N95 atau KN95 dapat efektif dalam menyaring partikel berbahaya.
3. Peningkatan CO2 Mempengaruhi Kemampuan Kognitif
Peningkatan kadar karbon dioksida (CO2) di atmosfer akibat perubahan iklim dapat mempengaruhi kemampuan berpikir kita.
Konsentrasi CO2 di atmosfer telah meningkat dari sekitar 280 ppm pada masa pra-industri menjadi 419 ppm pada tahun 2023. Pada tingkat ini, konsentrasi CO2 dapat melebihi 900 ppm pada tahun 2100.
Penelitian menunjukkan bahwa paparan CO2 pada tingkat tinggi dapat mengurangi kemampuan kognitif. Dalam satu studi, pengambilan keputusan peserta memburuk ketika terpapar 1.000 ppm CO2, mereka menjadi kurang fleksibel dalam memecahkan masalah dan mengalami kesulitan dalam menggunakan informasi untuk membuat keputusan. Peningkatan 400 ppm CO2 dalam studi lain dikaitkan dengan penurunan 21 persen dalam fungsi kognitif.
Untuk mengurangi paparan CO2 di dalam ruangan, Anda dapat menggunakan monitor CO2 dan membuka jendela jika kualitas udara di luar tidak buruk. Hindari penggunaan peralatan pembakar bahan bakar yang tidak berventilasi baik, seperti kompor gas atau pemanas ruangan. Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa tanaman dalam pot dapat membantu mengurangi kadar CO2 di rumah, terutama jika diberi cukup cahaya.
Meskipun langkah-langkah ini dapat membantu melindungi diri sendiri, yang sebenarnya kita butuhkan adalah tindakan segera terhadap perubahan iklim. Emma Lawrance menekankan pentingnya menciptakan dunia yang lebih bersih untuk kesehatan mental kita.