Hasto Kristiyanto Tegaskan Pentingnya Institusionalisasi Partai di Forum CALD
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menyoroti pentingnya institusionalisasi partai dalam forum internasional CALD di Filipina, mengungkap kunci ketahanan partai menghadapi tekanan politik.
Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto menjadi pembicara utama dalam forum internasional Council of Asian Liberals and Democrats (CALD) yang diselenggarakan di Makati, Filipina, pada Jumat ini. Dalam kesempatan tersebut, Hasto menekankan betapa krusialnya institusionalisasi partai politik sebagai fondasi utama untuk menghadapi berbagai tantangan.
Dalam paparannya yang bertajuk “The Institutionalization of Political Parties, Resilience, and Strategic Campaigns”, Hasto menguraikan bagaimana institusionalisasi organisasi menjadi kunci vital bagi sebuah partai politik untuk mampu bertahan di tengah tekanan. Ia menyoroti bahwa proses ini adalah inti dari daya tahan dan keberlanjutan partai dalam lanskap politik yang dinamis.
Hasto menjelaskan bahwa institusionalisasi partai bukan hanya tentang struktur, melainkan juga tentang penanaman nilai-nilai inti dan visi yang kuat. Hal ini memungkinkan partai untuk tetap relevan dan efektif dalam perjuangan politiknya, serta menjaga marwah demokrasi dan kedaulatan rakyat.
Resiliensi PDIP dan Kunci Kepemimpinan Strategis
Hasto Kristiyanto mencontohkan resiliensi PDIP yang terbukti mampu bertahan di tengah tekanan berat pada Pemilu 2024. Meskipun menghadapi berbagai tantangan, PDIP berhasil keluar sebagai pemenang Pemilu Legislatif 2024, bahkan mencatatkan peningkatan 14 kursi di tingkat kabupaten-kota secara total.
“Inilah bukti nyata dari resiliensi atau daya tahan partai yang telah terinstitusionalisasi,” ujar Hasto dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta. Keberhasilan ini, menurutnya, tidak lepas dari fondasi institusionalisasi yang kuat dalam tubuh partai.
Lebih lanjut, Hasto memaparkan bahwa kunci di balik resiliensi PDIP bersumber pada kepemimpinan strategis Megawati Soekarnoputri. Kepemimpinan ini bukan sekadar gaya manajerial, melainkan sebuah ideologi yang telah terinstitusionalisasi melalui tujuh indikator utama yang menjadi panduan bagi seluruh kader partai.
Tujuh indikator tersebut meliputi berpikir kritis (critical thinking), visi (vision), arahan (direction), nilai-nilai inti (core values), biopolitik, keberpihakan (alignment), dan komitmen (commitment). Indikator-indikator ini membentuk kerangka kerja yang kokoh bagi PDIP dalam mengambil keputusan dan menjalankan strategi politiknya.
Fleksibilitas dan Daya Tahan Partai
Menurut Hasto, perpaduan antara kepemimpinan strategis Megawati dan institusionalisasi partai memungkinkan PDIP memiliki sifat yang fleksibel, adaptif, dan memiliki kapasitas bertahan hidup yang tinggi (survival capacity). Hal ini krusial dalam menghadapi berbagai guncangan, baik internal maupun eksternal, yang kerap melanda arena politik.
Institusionalisasi yang mendalam ini menjadikan PDIP mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman tanpa kehilangan identitas dan prinsip dasarnya. Kapasitas adaptif ini memastikan partai tetap relevan dan efektif dalam mewujudkan tujuan-tujuan politiknya.
Hasto menutup paparannya dengan mengutip pesan Bung Karno tahun 1965: “For fighting a nation, the journey never ends” (Bagi bangsa yang berjuang, perjalanan tidak pernah berakhir). Pesan ini menekankan bahwa institusionalisasi partai adalah misi tanpa henti untuk menjaga marwah demokrasi dan kedaulatan rakyat, sebuah perjalanan yang membutuhkan komitmen berkelanjutan.
Partisipasi Internasional dan Perspektif Regional
Forum CALD ini dihadiri oleh tokoh-tokoh politik penting dari berbagai negara di Asia. Sesi pembukaan dimulai dengan sambutan dari Chairperson CALD yang juga Senator Kamboja Mardi Seng, bersama Presiden Partai Liberal Filipina, Lorenzo “Erin” Tañada III, serta perwakilan Friedrich Naumann Foundation (FNF) Almut Besold.
Acara tersebut juga mendengarkan pesan video khusus dari Presiden Timor Leste sekaligus penerima Nobel Perdamaian, Jose Ramos-Horta, serta pidato kunci dari Senator Filipina, Francis “Kiko” Pangilinan. Kehadiran para tokoh ini menunjukkan pentingnya diskusi mengenai demokrasi dan liberalisme di kawasan.
Dalam diskusi panel, Hasto berbagi panggung dengan tokoh politik regional lainnya, seperti mantan Menteri Anggaran Filipina, Florencio “Butch” Abad, dan Sekjen Singapore Democratic Party (SDP) Chee Soon Juan. Sesi ini dimoderatori oleh Editor-at-large Rappler, Marites Vitug. Delegasi lain yang turut hadir memberikan perspektif, di antaranya Lee Boon Shian dari Malaysia, James Gomez dari Asia Centre, dan V Srivarathanabul, kandidat anggota parlemen Partai Demokrat Thailand. Partisipasi beragam ini memperkaya diskusi mengenai tantangan dan peluang demokrasi di Asia.
Sumber: AntaraNews