Waspada Penyakit Jantung Bawaan: Faktor Risiko, Tanda-Tanda, dan Pemeriksaan Penting
Sekitar 8 dari setiap 1000 bayi yang lahir mengalami penyakit jantung bawaan. Apa saja gejala yang dapat muncul pada anak dengan kondisi PJB?
Penyakit jantung bawaan (PJB) merupakan kelainan struktural pada jantung yang sudah ada sejak lahir. Kondisi ini dapat mengganggu aliran darah di jantung serta ke seluruh tubuh, seperti yang dijelaskan oleh Aditya Agita Sembiring, seorang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah subspesialis kardiologi pediatrik.
Menurut data dari Center for Disease Control and Prevention, sekitar 8 dari setiap 1000 bayi lahir dengan PJB, di mana 1 dari 4 bayi tersebut memerlukan tindakan medis darurat, baik bedah maupun non-bedah.
Pertanyaan yang sering muncul adalah apa yang menyebabkan anak lahir dengan penyakit ini. Mengenai hal ini, Aditya menyatakan bahwa penyebab pastinya masih belum diketahui.
"Namun, beberapa penelitian menunjukkan adanya pengaruh kelainan genetik, baik yang tidak diwariskan dari orang tua seperti sindrom Down, maupun kelainan genetik yang diwariskan seperti sindrom Turner," ungkap dokter yang berpraktik di RS Pondok Indah - Puri Indah.
Faktor Eksternal
Aditya juga menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor eksternal yang dapat memicu terjadinya PJB. Di antara faktor tersebut adalah infeksi penyakit seperti rubella dan sifilis.
Selain itu, konsumsi obat-obatan tertentu, seperti obat anti jerawat atau obat anti epilepsi, yang terjadi pada fase kritis pembentukan jantung janin juga dapat berkontribusi.
"Oleh karena itu, sangat penting bagi orang tua yang merencanakan kehamilan untuk berkonsultasi dengan dokter mengenai riwayat pengobatan sebelum hamil dan menjaga kesehatan," kata Aditya.
Dengan langkah-langkah pencegahan yang tepat, diharapkan risiko terjadinya PJB dapat diminimalisir.
Gejala PJB: Sebagian Tidak Menunjukkan Gejala
Aditya menjelaskan bahwa sejumlah anak yang mengalami Penyakit Jantung Bawaan (PJB) tidak menunjukkan gejala pada masa awal kehidupan. Namun, tanda-tanda seperti kegagalan pertumbuhan dan perkembangan, infeksi paru yang sering terjadi, serta gagal jantung dapat muncul seiring waktu.
Gejala lainnya meliputi perubahan warna biru pada bibir, lidah, dan ujung kuku, baik yang bersifat menetap maupun yang muncul saat anak menangis atau beraktivitas, yang disebabkan oleh kekurangan oksigen dalam tubuh. Dalam kasus yang parah, kondisi ini bahkan dapat berujung pada kematian.
Oleh karena itu, Aditya menekankan pentingnya peran orangtua yang dekat dengan anak untuk menjadi garda terdepan dalam mengenali gejala dan tanda awal PJB.
"Anak dengan PJB cenderung cepat lelah, terlihat dari pola menyusu bayi yang sering terputus-putus atau pada anak yang lebih tua yang sering jongkok karena kelelahan," ungkapnya.
Selain itu, orangtua juga perlu waspada jika anak mengalami demam disertai sesak napas yang berulang, tidak tumbuh sesuai dengan teman seusianya meskipun tidak ada masalah dalam pola makan, serta adanya pembengkakan pada area perut atau kedua tungkai bawah.
Metode untuk menetapkan diagnosis PJB
Untuk menentukan apakah seorang anak mengalami Penyakit Jantung Bawaan (PJB), dokter akan melakukan serangkaian pemeriksaan yang dimulai dengan wawancara (anamnesis) dan pemeriksaan fisik. Selain itu, pemeriksaan penunjang seperti sinar-X (rontgen) dada dan elektrokardiografi yang berfungsi untuk memantau aktivitas listrik jantung juga akan dilakukan guna mendapatkan gambaran umum mengenai kondisi jantung anak.
Menurut dokter yang telah menjalani fellowship dalam kardiologi pediatrik di RS Harapan Kita, "Gold standard untuk menegakkan diagnosis PJB adalah dengan echocardiography, suatu alat untuk melihat struktur jantung dan aliran darah dengan menggunakan gelombang suara." Selain metode tersebut, pemeriksaan minimal invasif juga dapat dilakukan, di mana dokter akan menggunakan alat kateter untuk memasuki jantung. Metode ini bertujuan untuk mengukur kondisi aliran dan tekanan dalam ruang jantung serta pembuluh darah.