Apa Saja Faktor Risiko yang Menyebabkan Penyakit Jantung Bawaan pada Anak?
Kondisi kesehatan ibu selama kehamilan dapat berpengaruh terhadap risiko anak lahir dengan penyakit jantung bawaan.
Penyakit jantung bawaan (PJB) adalah kelainan struktur jantung yang sudah ada sejak lahir. Kondisi ini dapat mengganggu aliran darah baik di dalam jantung maupun ke seluruh tubuh.
Menurut Asmoko Resta Permana, seorang dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan kardiologi pediatrik, terdapat beberapa faktor risiko selama kehamilan yang dapat memicu lahirnya bayi dengan PJB. Ia menjelaskan bahwa risiko PJB pada bayi dapat terdeteksi sejak masa kehamilan, yang berpengaruh pada perkembangan janin yang tidak sempurna.
Beberapa faktor yang dapat menyebabkan hal ini termasuk diabetes, hipertensi, dan penggunaan obat-obatan oleh ibu hamil. Selain itu, infeksi virus seperti toksoplasma dan rubella juga bisa menjadi penyebab.
"Ibu dan bapaknya atau salah satu merokok," ungkap Asmoko dalam acara diskusi kesehatan yang diadakan untuk memperingati Pekan Kesadaran Penyakit Jantung Bawaan di Jakarta, pada Kamis, 12 Februari 2026, seperti yang dikutip oleh Antara.
Usia Ibu Saat Hamil di Atas 35 Tahun
Menurutnya usia ibu saat hamil di atas 35 tahun menjadi faktor lain yang dapat meningkatkan risiko PJB pada bayi. Asmoko menjelaskan bahwa pada usia ini, kualitas sel telur ibu sudah menurun. Selain itu, sekitar 5-10 persen pasangan yang memiliki riwayat kelainan jantung bawaan juga berisiko menurunkan kemungkinan PJB pada anak yang akan dikandung.
"Jadi sekitar lima persen sampai sepuluh persen anaknya juga jadi ada kelainan jantung bawaan, jadi kalau mungkin nanti ya bisa kasih tau saudara-saudaranya jadi kalau lagi 'pendekatan' ya itu ditanya dulu ya," jelasnya.
Dengan memahami faktor-faktor ini, diharapkan orang tua dapat lebih waspada dan mempersiapkan diri sebelum dan selama kehamilan untuk meminimalkan risiko PJB pada bayi mereka.
Ayah atau Ibu dengan PJB
Faktor lain yang perlu diperhatikan adalah bahwa sekitar 5 hingga 10 persen dari orang tua yang memiliki riwayat kelainan jantung bawaan dapat menurunkan risiko terjadinya penyakit jantung bawaan (PJB) pada anak yang akan mereka lahirkan.
"Jadi sekitar lima persen sampai sepuluh persen anaknya juga jadi ada kelainan jantung bawaan, jadi kalau mungkin nanti ya bisa kasih tau saudara-saudaranya jadi kalau lagi 'pendekatan' ya itu ditanya dulu ya," katanya.
Hal ini menunjukkan pentingnya pemahaman mengenai riwayat kesehatan keluarga, terutama bagi calon orang tua. Dengan mengetahui informasi tersebut, mereka dapat lebih waspada dan melakukan langkah-langkah pencegahan yang diperlukan untuk menjaga kesehatan anak yang akan lahir.
Apakah Ada Cara untuk Mencegah Penyakit Jantung Bawaan?
Asmoko menyatakan bahwa untuk mencegah kelahiran anak dengan kondisi Penyakit Jantung Bawaan (PJB), deteksi dini sangat penting dilakukan, bahkan sejak tahap perencanaan kehamilan. Ia menyarankan agar calon orang tua melakukan pemeriksaan untuk mengetahui risiko kelainan jantung bawaan yang mungkin tidak terdeteksi sebelumnya, seperti adanya tanda biru pada area mukosa mulut atau cepatnya rasa lelah meskipun baru melakukan aktivitas ringan.
Lebih lanjut, bagi ibu yang memiliki riwayat penyakit seperti diabetes, pengobatan harus segera dilakukan karena kadar gula yang tinggi dapat mempercepat terjadinya kelainan dalam pembentukan janin. Selain itu, obat yang dikonsumsi harus sesuai dengan pengawasan dokter.
"Foto rontgen atau radiasi harus hati-hati, terutama pada trimester pertama, sebisa mungkin dihindari jika tidak diperlukan, kecuali atas anjuran dokter," ujarnya.
Selain itu, ibu hamil juga perlu menghindari asap rokok, konsumsi alkohol, dan melakukan skrining janin yang berfokus pada perkembangan jantung, agar bayi yang dilahirkan dapat menerima tata laksana yang tepat.