Update Kasus Dokter Cabul di Malang: Korban Bertambah Jadi Empat Orang
Satria mengaku telah melihat bukti percakapan antara korban dan pelaku berupa pesan spam berisi godaan.
Kasus dugaan pelecehan seksual oleh seorang dokter di salah satu rumah sakit ternama di Malang kembali mencuat. Jumlah korban bertambah menjadi empat orang, setelah tiga korban lain melapor mengalami pelecehan dengan modus yang diduga sama.
Hal ini diungkapkan Satria Manda Adi Marwan, kuasa hukum korban QAR, saat mendatangi Polresta Malang Kota, Jumat (18/4).
"Perlu diketahui ada tiga korban lain. Total empat orang. Memberitahunya menghubungi korban (QAR) langsung," kata Satria.
Menurut Satria, ketiga korban lain mengalami pelecehan dari dokter yang sama dan di rumah sakit yang sama. Meski waktu kejadiannya berbeda, modus pelaku dinilai identik: meminta nomor pasien, mengirim pesan bernada menggoda, hingga mengajak bertemu di luar.
"Modusnya sama, dokternya di rumah sakit sama. Tahunnya berbeda," ujarnya.
Satria mengaku telah melihat bukti percakapan antara korban dan pelaku berupa pesan spam berisi godaan. Pelaku juga diketahui mengajak korban menonton konser.
Kronologi Kasus
Satria mengungkap, sebelumnya pihaknya mendapat informasi pelaku akan menyerahkan diri. Namun hal itu tidak terjadi, sehingga Tim Kuasa Hukum resmi melaporkan kasus ini ke kepolisian.
"Dengan terpaksa kita mengambil upaya hukum, kita bikin laporan hari ini," tegasnya.
Kasus ini mencuat setelah QAR, salah satu korban, membagikan pengalaman pahitnya melalui akun Instagram pribadi pada Selasa (15/4/2025). Ia mengaku dilecehkan saat menjalani perawatan medis pada September 2022 karena menderita sinusitis dan vertigo berat.
Awalnya, dokter meminta nomor ponselnya untuk mengirim hasil rontgen. Namun kemudian, dokter menghubunginya lewat nomor pribadi, mengirim pesan yang tak relevan, dan sempat mengajaknya menonton pertandingan sepak bola.
QAR menyebut puncak kejadian terjadi saat ia dirawat di ruang VIP tanpa pendamping. Dokter datang, memeriksa dirinya dengan cara yang dianggap tidak wajar, termasuk menyentuh area sensitif dengan alasan memeriksa jantung, dan diduga merekam tubuh korban menggunakan ponsel.
"Saya yakin dia bukan bales WA, tapi kayak ngerekam. Akhirnya saya paksa tutup baju, terus dia diam," ujar QAR.
Unggahan QAR memicu reaksi besar dari publik. Ia turut membagikan foto wajah dokter yang diduga pelaku dengan nama disensor, hanya tertulis inisial dr. A.
Tanggapan Persada Hospital
Persada Hospital Malang, tempat dokter tersebut bekerja, mengonfirmasi keterlibatan tenaga medisnya dalam kasus yang viral. Hal ini disampaikan oleh Supervisor Humas Persada Hospital, Sylvia Kitty Simanungkalit.
"Terkait pemberitaan yang beredar, kami mengkonfirmasi bahwa yang bersangkutan adalah dokter di Persada Hospital. Saat ini, yang bersangkutan telah dinonaktifkan sementara sambil menunggu proses investigasi internal yang sedang berjalan," ujar Kitty, Rabu (16/4).
Kitty menegaskan, rumah sakit menolak segala bentuk pelanggaran etik dan berkomitmen menindak tegas jika terbukti bersalah.
"Kami telah membentuk Tim Investigasi Internal untuk menelusuri kasus ini secara menyeluruh. Apabila terbukti, kami akan menindak tegas pelaku sesuai hukum yang berlaku," tegasnya.
Hingga pukul 18.00 WIB, korban QAR masih berada di Polresta Malang Kota untuk menjalani proses pelaporan.