Trivia B.J. Habibie dan Ainun: Hentakan Kaki Ainun Jadi Alarm Istirahat Presiden yang Lupa Waktu
Kisah unik B.J. Habibie dan Ainun terungkap, di mana hentakan kaki sang istri menjadi satu-satunya 'alarm' yang bisa menghentikan kerja keras Presiden yang lupa waktu.
Mantan Presiden Republik Indonesia, B.J. Habibie, dikenal sebagai sosok yang sangat berdedikasi pada pekerjaannya, bahkan hingga lupa waktu. Sebuah kisah menarik diungkapkan oleh Satria Habibie, cucu Junus Effendi Habibie, mengenai kebiasaan unik sang eyang saat masih aktif bekerja.
Menurut Satria, hanya ada satu 'alarm' yang mampu menghentikan B.J. Habibie dari meja kerjanya yang padat, yakni suara langkah kaki istrinya, Hasri Ainun Besari. Kebiasaan ini menjadi bukti betapa eratnya hubungan dan perhatian Ainun terhadap kesehatan serta kesejahteraan suaminya.
Kisah ini tidak hanya menyoroti etos kerja B.J. Habibie, tetapi juga menggambarkan peran sentral Ainun dalam kehidupannya. Setelah kepergian Ainun, kebiasaan-kebiasaan kecil inilah yang sangat dirindukan dan meninggalkan duka mendalam bagi B.J. Habibie.
Dedikasi Tanpa Batas dan Peran Sentral Ainun
B.J. Habibie merupakan pribadi yang sangat gemar bekerja dan seringkali melupakan waktu, terutama saat menjabat sebagai presiden. Ia bisa menghabiskan waktu di meja kerjanya hingga dini hari, sekitar pukul 3 atau 4 pagi, tanpa henti. Kondisi ini kerap membuat Ainun khawatir akan kesehatan suaminya yang memiliki jadwal sangat padat.
Selain jam kerja yang panjang, B.J. Habibie juga sering menerima kunjungan tamu delegasi yang jumlahnya bisa mencapai ratusan. Hal ini semakin menambah beban kerja dan membuat waktu istirahatnya sangat minim. Ainun menyadari bahwa teguran lisan seringkali tidak cukup untuk membuat suaminya beristirahat.
Sebagai bentuk teguran halus namun efektif, Ainun memiliki cara unik. Setiap kali mengantarkan obat, ia akan berjalan sedikit lebih keras agar hentakan kakinya terdengar jelas oleh B.J. Habibie. Suara langkah kaki Ainun inilah yang menjadi sinyal bagi B.J. Habibie untuk segera menghentikan pekerjaannya dan mulai beristirahat.
Kebiasaan kecil yang penuh perhatian dari Ainun ini menjadi sangat berharga. Satria Habibie menceritakan bahwa kebiasaan-kebiasaan seperti inilah yang membuat B.J. Habibie sangat merasa kehilangan setelah kepergian Ainun. Peran Ainun tidak hanya sebagai istri, tetapi juga sebagai penjaga keseimbangan hidup sang presiden.
Kehilangan Mendalam dan Cara B.J. Habibie Mengatasi Kesedihan
Kepergian Hasri Ainun Besari meninggalkan duka yang sangat mendalam bagi B.J. Habibie. Kondisi emosionalnya sempat sangat terpuruk, bahkan ada kala di mana ia berteriak sambil berlari ke luar rumah, menanyakan keberadaan istrinya. "Eyang Rudi pun suka lari ke luar rumah, teriak, Ainun mana? karena Eyang Ainun suka membantu Eyang Rudi kan dengan segalanya dari dekat," kata Satria.
Melihat kondisi tersebut, dokter yang menanganinya kala itu memberikan tiga rekomendasi untuk membantu B.J. Habibie mengatasi kesedihan. Pilihan pertama adalah menceritakan seluruh perasaannya kepada keluarga atau teman terdekat. Pilihan kedua adalah berkonsultasi dengan dokter terkait dan mencurahkan isi hatinya melalui beberapa sesi terapi.
Pilihan ketiga yang diberikan oleh dokter adalah menulis. Mengingat karakter B.J. Habibie yang tidak suka merepotkan orang lain, ia memutuskan untuk memilih opsi terakhir. Pilihan ini terbukti menjadi jalan baginya untuk menyalurkan emosi dan kenangan yang mendalam.
Hasil dari pilihan B.J. Habibie untuk menulis inilah yang kemudian melahirkan buku fenomenal "Habibie dan Ainun". Buku tersebut menjadi wujud nyata dari cintanya yang abadi dan cara B.J. Habibie mengabadikan kenangan bersama sang istri tercinta, Hasri Ainun Besari.
Sumber: AntaraNews