Tradisi dan Kearifan Lokal Pasca-Idul Fitri Bentuk Keberagaman di Tanah Air
Maraknya berbagai tradisi itu menjadi bukti keberagaman masyarakat Indonesia
Berbagai tradisi dan kearifan lokal selalu mewarnai bulan Syawal setelah Hari Raya Idul Fitri 1446 Hijriah di Indonesia. Ada Grebek Syawal di Yogyakarta, Perang Topa di Lombok dan Lebaran ketupat.
Ketua Dewan Syuro Ikatan Dai Indonesia (Ikadi), Achmad Satori Ismail, mengungkapkan maraknya berbagai tradisi itu menjadi bukti keberagaman masyarakat Indonesia dalam merayakan perayaan Idul Fitri.
"Inilah bentuk keberagaman identitas bangsa Indonesia yang patut dijaga dan disyukuri. Selama hal tersebut dapat bermanfaat, tidak mengandung unsur kesyirikan takhayul, maka secara agama itu diperbolehkan," ujar Kiai Satori dalam keterangannya, Jumat (11/4).
Lebih lanjut, Satori mengungkapkan bahwa adanya tradisi mendoakan orang yang sudah meninggal, berziarah, mengundang orang lain untuk silaturahim, berdoa bersama adalah bentuk keindahan yang harus dihormati bukan malah dihujat.
"Selama tujuannya bukan untuk mengagungkan si mayit atau untuk menyembah yang lain, tetapi sebagai sarana kebersamaan untuk makan bersama adalah sesuatu yang sebenarnya indah," kata Satori.
Oleh karena itu, penulis buku Merajut Tali Temali Ukhuwwah ini menyerukan momentum bulan Syawal ini dapat diinternalisasi untuk menyempurnakan ibadah-ibadah yang sudah dilakukan secara konsisten di Bulan Ramadan dengan silaturahim dan saling memaafkan.
"Sehingga kita kembali kepada fitrah, bersih, dalam artian jiwa dan jasmani kita bersih," tutur Guru Besar Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta ini.
Menurutnya, hal ini adalah bentuk aktualisasi bulan Ramadan, dengan saling menghormati dam menjaga kepedulian terhadap sesama. Membangun empati tanpa harus melihat identitas suku, ras atau agama.
"Karena Islam itu rahmat bagi seluruh alam, menjadi kasih sayang dan penebar kasih sayang untuk seluruh alam. Bukan hanya kepada Muslim saja," pungkasnya.