Lebaran Topat: Denyut Budaya Mataram yang Sarat Makna dan Penggerak Ekonomi Lokal
Lebaran Topat, tradisi khas masyarakat Sasak di Mataram, bukan hanya seremoni keagamaan, tetapi juga perekat sosial dan pendorong ekonomi yang kaya akan nilai budaya dan spiritual.
Kota Mataram memiliki cara unik dalam menyambut hari kedelapan Syawal, yaitu melalui perayaan Lebaran Topat. Meskipun gaung takbir Idul Fitri telah mereda, semangat kebersamaan dan tradisi tetap terasa kuat di seluruh penjuru kota. Aroma janur segar yang memenuhi pasar tradisional seperti Mandalika, Kebon Roek, hingga Pagesangan menjadi penanda jelas akan datangnya momen istimewa ini.
Di tengah kesibukan pasar, perempuan-perempuan dengan cekatan memilih daun kelapa muda, sementara para pedagang ketupat sibuk menganyam bentuk segi empat yang khas. Aktivitas ini bukan sekadar persiapan kuliner biasa, melainkan bagian tak terpisahkan dari ritual panjang yang telah diwariskan secara turun-temurun di Pulau Lombok. Lebaran Topat menjadi denyut nadi yang menghidupkan identitas kultural masyarakat Sasak di tengah gempuran modernitas.
Di balik kesederhanaannya, Lebaran Topat menyimpan makna spiritual yang mendalam. Tradisi ini melambangkan tuntasnya ibadah puasa sunah enam hari di bulan Syawal, yang dipahami sebagai penyempurnaan ibadah setelah Idul Fitri. Dalam konteks ini, nilai-nilai agama dan adat saling menguatkan, membentuk wajah Islam lokal yang ramah, inklusif, dan membumi di tengah masyarakat.
Makna Spiritual dan Sosial Lebaran Topat
Perayaan Lebaran Topat selalu diawali dengan perjalanan sakral menuju makam-makam keramat, seperti Makam Loang Baloq dan Makam Bintaro. Ribuan warga berkumpul sejak pagi, membawa dulang berisi ketupat, opor ayam, telur, dan jajanan tradisional seperti kue “bantal”. Di sana, zikir dan doa dilantunkan, menyatu dengan hembusan angin laut yang menenangkan.
Ritual ngurisan atau potong rambut bayi menjadi simbol harapan baru bagi generasi penerus, sementara tradisi begibung atau makan bersama menghapus sekat-sekat sosial. Semua warga duduk sejajar, tanpa memandang status, menciptakan suasana kebersamaan yang autentik. Asisten I Setda Kota Mataram, H Lalu Martawang, menegaskan bahwa tradisi ini harus dipertahankan karena sarat dengan nilai religi dan mempererat tali silaturahmi.
Puncak kemeriahan Lebaran Topat ditandai dengan tradisi bejuretan, di mana masyarakat berebut Topat Agung. Topat Agung adalah rangkaian ratusan ketupat yang disusun sebagai simbol syukur, dan diyakini membawa berkah bagi siapa pun yang berhasil mendapatkannya. Lebih dari sekadar ritual, Lebaran Topat adalah ruang perjumpaan yang menghadirkan harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan sejarahnya.
Dalam konteks masyarakat multietnis di Mataram, tradisi ini berfungsi sebagai perekat sosial yang efektif, membangun kebersamaan yang tulus. Nilai-nilai gotong royong dan toleransi terpancar jelas dalam setiap rangkaian acara, menjadikan Lebaran Topat sebagai cerminan kerukunan antarwarga.
Penggerak Ekonomi dan Tantangan Pengelolaan
Selepas ritual keagamaan, gelombang manusia bergerak menuju pesisir pantai. Sepanjang garis pantai Ampenan hingga Loang Baloq, suasana berubah menjadi pesta rakyat yang meriah. Tikar-tikar digelar, keluarga berkumpul, dan ketupat disantap bersama sembari menikmati deburan ombak. Di sinilah Lebaran Topat menunjukkan wajahnya sebagai penggerak ekonomi lokal yang signifikan.
Ratusan pedagang musiman memadati kawasan pantai, mulai dari penjual janur, pembuat ketupat, hingga pedagang makanan tradisional, semuanya merasakan lonjakan omzet yang luar biasa. Fenomena ini membuktikan bagaimana budaya dapat menjadi kekuatan ekonomi yang menopang kesejahteraan masyarakat. Pemerintah Kota Mataram pun sigap menangkap peluang ini dengan memasukkan Lebaran Topat ke dalam kalender pariwisata tahunan.
Strategi ini tidak hanya bertujuan untuk memperkuat identitas budaya, tetapi juga membuka ruang kesejahteraan bagi masyarakat luas. Sektor transportasi turut terdampak positif, dengan peningkatan permintaan jasa angkutan umum dan penyewaan kendaraan. Destinasi wisata air dan taman kota juga menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara yang ingin menyaksikan keunikan tradisi ini.
Namun, di balik geliat ekonomi tersebut, terdapat tantangan serius terutama terkait lonjakan pengunjung yang membawa konsekuensi pada aspek keamanan dan kebersihan. Kepala Pelaksana BPBD Kota Mataram, Budi Wiranto, mengingatkan pentingnya kewaspadaan di kawasan pantai. “Gelombang pasang bisa datang tiba-tiba, karena itu kami terus ingatkan warga agar tidak abai terhadap keamanan saat mandi di laut,” ujarnya. Pemerintah merespons dengan menyiagakan posko pengamanan terpadu yang melibatkan TNI, Polri, dan kelompok sadar wisata, menunjukkan bahwa pengelolaan tradisi memerlukan tata kelola yang baik.
Pelestarian Tradisi di Era Digital
Di tengah arus digitalisasi yang masif, Lebaran Topat justru menemukan ruang baru untuk eksis. Media sosial dibanjiri foto-foto dulang yang estetik, video begibung yang mengharukan, hingga momen bejuretan yang menjadi viral. Hal ini membuat generasi muda mulai melihat tradisi ini sebagai bagian dari identitas yang patut dibanggakan dan dilestarikan.
Namun, muncul dilema ketika tradisi mulai dikemas sebagai tontonan, yang berisiko mengurangi makna sakralnya demi komersialisasi jika tidak dikelola dengan bijak. Di sinilah peran kebijakan pemerintah menjadi krusial. Pemerintah perlu memastikan bahwa pengembangan Lebaran Topat sebagai atraksi wisata tetap menjaga nilai-nilai inti yang terkandung di dalamnya. Edukasi kepada generasi muda menjadi kunci agar mereka tidak hanya menjadi penikmat visual, tetapi juga pewaris makna yang sesungguhnya.
Lebaran Topat adalah contoh nyata moderasi beragama, yang memperlihatkan bagaimana nilai-nilai Islam dapat hidup berdampingan harmonis dengan tradisi lokal tanpa kehilangan esensinya. Dalam konteks kebangsaan, tradisi ini mencerminkan semangat Bhinneka Tunggal Ika, di mana perbedaan menyatu dalam kebersamaan.
Lebih jauh, Lebaran Topat mengajarkan tentang keberlanjutan budaya. Tradisi ini hidup karena dirawat dan dijaga, bukan sekadar dipertontonkan. Gotong royong membersihkan pantai, partisipasi warga dalam menjaga ketertiban, serta keterlibatan pemerintah dalam pengelolaan menjadi bukti bahwa tradisi ini terus beradaptasi dan relevan. Selama janur masih tumbuh di tanah Lombok dan doa-doa terus dipanjatkan, Lebaran Topat akan tetap berdetak menjadi jantung kebudayaan yang menjaga denyut kehidupan Kota Mataram.
Sumber: AntaraNews