Tips Aman Berolahraga Penderita Diabetes Saat Puasa: Tetap Bugar Sebelum Berbuka
Penderita diabetes tetap bisa aktif selama Ramadan. Simak panduan berolahraga penderita diabetes saat puasa yang aman dan efektif dari ahli gizi klinik, demi menjaga kebugaran dan kadar gula darah optimal.
Jakarta, 19 Januari (ANTARA) - Penderita diabetes dan hipertensi tetap dianjurkan untuk menjaga kebugaran fisik selama bulan puasa. Menurut Dr. dr. Inge Permadhi, MS, SpGK(K), seorang dokter spesialis gizi klinik dari Universitas Indonesia, aktivitas fisik yang teratur sangat penting untuk kesehatan mereka. Rekomendasi ini bertujuan agar pasien dapat menjalankan ibadah puasa dengan optimal tanpa mengabaikan kondisi kesehatan.
Dr. Inge Permadhi menyarankan waktu yang ideal untuk berolahraga adalah minimal setengah jam hingga satu jam sebelum waktu berbuka puasa. Pemilihan waktu ini krusial untuk menghindari risiko dehidrasi dan kelelahan yang berlebihan. Dengan demikian, tubuh tetap dapat berfungsi dengan baik sepanjang hari, dan energi yang terkuras dapat segera dipulihkan setelah berbuka.
Melakukan olahraga setelah sahur tidak disarankan karena dapat menyebabkan rasa haus yang hebat dan lemas karena tubuh belum mendapatkan asupan cairan dan nutrisi yang cukup. Oleh karena itu, pengaturan jadwal olahraga menjadi kunci utama bagi penderita diabetes dan hipertensi agar tetap bugar dan sehat selama menjalani ibadah puasa.
Waktu Ideal dan Manfaat Olahraga untuk Penderita Diabetes
Berolahraga secara teratur merupakan bagian penting dari manajemen diabetes, bahkan saat berpuasa. Dr. Inge Permadhi menekankan bahwa penderita diabetes dan hipertensi harus tetap aktif, dengan memilih waktu yang tepat untuk berolahraga. Waktu terbaik adalah sekitar 30 hingga 60 menit sebelum berbuka puasa, memungkinkan tubuh untuk segera mendapatkan hidrasi dan nutrisi setelah aktivitas fisik.
Melakukan olahraga setelah sahur sangat tidak dianjurkan karena dapat memicu dehidrasi dan kelelahan ekstrem. Kondisi ini bisa memperburuk kontrol gula darah dan membuat penderita merasa sangat lemas sepanjang hari. Oleh karena itu, penjadwalan olahraga yang cermat adalah kunci untuk menjaga kesehatan dan kebugaran selama bulan puasa.
Menjaga kebugaran fisik selama puasa tidak hanya membantu mengontrol gula darah, tetapi juga meningkatkan sensitivitas insulin dan menjaga massa otot. Aktivitas fisik juga berkontribusi pada peningkatan energi dan suasana hati, yang sangat penting untuk menjaga kualitas hidup penderita diabetes selama periode puasa.
Panduan Asupan Nutrisi Optimal Saat Berbuka dan Sahur
Saat berbuka puasa, penderita diabetes harus sangat berhati-hati dalam memilih makanan. Dr. Inge Permadhi mengingatkan untuk tidak langsung mengonsumsi makanan yang terlalu manis, seperti kolak atau buah-buahan dengan kadar gula tinggi seperti jambu, melon, atau madu. Peningkatan gula darah yang drastis harus dihindari untuk menjaga stabilitas kondisi tubuh.
Protein memegang peranan vital bagi penderita diabetes, terutama saat berpuasa. Protein membantu menjaga massa otot, mempercepat penyembuhan luka, meningkatkan rasa kenyang, serta membantu manajemen berat badan. Selain itu, protein juga berperan dalam menstabilkan kadar gula darah dengan meningkatkan sekresi insulin dan memperlambat penyerapan glukosa.
Untuk memenuhi kebutuhan protein, penderita diabetes dapat mengonsumsi susu khusus diabetes sebelum tidur, terutama jika asupan protein dari makanan utama dirasa kurang. Porsi protein yang dianjurkan adalah sekitar 10-15 persen dari total porsi makan harian. Pemenuhan protein yang cukup ini sangat mendukung kesehatan metabolik selama puasa.
Salah satu kekhawatiran selama bulan puasa adalah kenaikan berat badan akibat makan berlebihan saat berbuka atau sahur. Dr. Inge menyarankan penderita diabetes untuk makan sedikit-sedikit namun bergizi, serta menghindari makanan manis berlebihan. Tujuannya adalah agar kadar gula darah meningkat secara normal dan tidak melonjak drastis, sehingga tubuh tetap sehat dan bugar.
Sumber: AntaraNews