Tim Gabungan Evakuasi Jenazah Bocah Tenggelam di Kanal Makassar
Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi jenazah seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun yang tenggelam di kanal Nuri, Maccini Sombala, Makassar. Insiden bocah tenggelam ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan orang tua.
Makassar, Sulawesi Selatan – Tim SAR gabungan berhasil menemukan dan mengevakuasi jenazah seorang bocah laki-laki berusia 11 tahun yang dilaporkan tenggelam di kanal Nuri, Maccini Sombala, Kecamatan Tamalate, Makassar. Korban, yang diketahui bernama Rafatar, ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah upaya pencarian intensif. Peristiwa tragis ini terjadi saat korban sedang mandi-mandi bersama teman-temannya di kanal tersebut.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Makassar, Fadli Tahar, mengonfirmasi penemuan jenazah korban pada hari Sabtu. “Korban sudah ditemukan dalam kondisi meninggal dunia setelah dievakuasi dan sudah dibawa ke rumah duka,” ujar Fadli Tahar. Pihak berwenang kini mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya orang tua, agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang.
Rafatar, seorang pelajar yang berdomisili di Jalan Bepa Sawi Luar RT/RW 002/005, Kelurahan Maccini Sombala, Kecamatan Tamalate, Makassar, terseret arus kanal saat sedang berenang. Insiden ini menjadi perhatian serius bagi pihak terkait untuk terus mengedukasi masyarakat tentang bahaya bermain di area perairan tanpa pengawasan. Tim gabungan telah bekerja keras untuk menemukan korban dan memberikan dukungan kepada keluarga.
Detik-detik Kejadian Tragis di Kanal Nuri
Insiden tenggelamnya bocah Rafatar bermula ketika ia bersama tujuh rekannya sedang mandi dan berenang di kanal Nuri. Menurut keterangan saksi, salah satu rekannya bernama Rezki melihat Rafatar tiba-tiba terseret arus menuju bagian tengah kanal. Arus yang cukup kuat membuat korban kesulitan untuk menyelamatkan diri dari pusaran air.
Rezki, rekan korban, sempat berupaya menolong dengan menarik tangan Rafatar. Namun, nahas, korban diduga kehabisan napas dan pegangan tangannya terlepas dari Rezki, sebelum akhirnya tenggelam. Peristiwa ini menunjukkan betapa cepatnya bahaya dapat terjadi di lingkungan perairan, terutama bagi anak-anak yang belum sepenuhnya memahami risiko.
Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi semua pihak mengenai pentingnya pengawasan ketat terhadap anak-anak saat beraktivitas di dekat air. Kondisi kanal yang memiliki arus sedang, meskipun cuaca cerah, tetap menyimpan potensi bahaya yang tidak boleh diabaikan. Lingkungan sekitar kanal Nuri yang padat penduduk juga menjadi faktor yang perlu dipertimbangkan dalam upaya pencegahan.
Upaya Pencarian dan Evakuasi Tim Gabungan
Setelah menerima laporan mengenai insiden bocah tenggelam, tim gabungan dari berbagai instansi segera bergerak menuju lokasi kejadian di kanal Nuri. Tim tersebut terdiri dari BPBD Makassar, Polri, Basarnas, Damkar, serta relawan dan potensi SAR. Mereka melakukan pencarian, penyisiran, dan penyelaman di sekitar titik lokasi terakhir korban terlihat.
Proses pencarian didukung oleh kondisi cuaca yang cerah dan arus kanal yang tergolong sedang, sehingga tidak ada hambatan signifikan menuju lokasi. Meskipun demikian, pencarian di dasar kanal memerlukan keahlian khusus dari tim penyelam. Akses yang mudah menuju lokasi juga membantu mempercepat respons tim di lapangan.
Akhirnya, jenazah korban berhasil ditemukan oleh tim penyelam di dasar kanal. Keberhasilan evakuasi ini merupakan hasil koordinasi dan kerja sama yang baik antara seluruh elemen tim gabungan. Penemuan jenazah Rafatar mengakhiri masa pencarian dan memungkinkan keluarga untuk segera memakamkan korban.
Imbauan Kewaspadaan Orang Tua dan Masyarakat
Menyikapi kejadian tragis ini, Fadli Tahar dari BPBD Makassar mengimbau masyarakat, khususnya para orang tua, untuk meningkatkan kewaspadaan. Pengawasan terhadap anak-anak saat beraktivitas di sekitar perairan menjadi sangat krusial. Pencegahan adalah kunci utama untuk menghindari terulangnya insiden serupa di masa mendatang.
Pemerintah daerah melalui BPBD terus mengedukasi masyarakat mengenai potensi bahaya di lingkungan sekitar, terutama area sungai atau kanal yang sering dijadikan tempat bermain anak-anak. Edukasi ini mencakup pentingnya mengenali tanda-tanda bahaya air dan mengajarkan anak-anak untuk tidak bermain di area yang tidak aman. Kesadaran kolektif diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi anak-anak.
Langkah-langkah preventif seperti pemasangan rambu peringatan atau pembatasan akses di area berbahaya juga perlu dipertimbangkan. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan keluarga sangat dibutuhkan untuk memastikan keselamatan anak-anak. Setiap individu memiliki peran dalam menciptakan lingkungan yang aman dan mencegah kejadian bocah tenggelam di masa depan.
Sumber: AntaraNews